MALING TERIAK MALING : AMERIKA TERORIS ? URL : islamic.xtgem.com Karya Noam Chomsky, terbitan Amana Book, Inc., 1986 Penterjemah Hamid Basyaib Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124 Cetakan 2, Sya'ban 1422 /Oktober 2001 Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038 email:info@mizan.com, http://www.mizan.com ||_______ Tentang Penulis Noam ChomskyNOAM AVRAM CHOMSKY lahir di Amerika Serikat, pada 7 Desember 1928. Reputasi fenomenal Chomsky di bidang linguistik terpahat lewat teorinya tentang generative grammar. Kepakarannya di bidang linguistik ini mengantarkannya merambah ke studi politik. Profesor Linguistik di M.I.T ini telah menulis lebih dari 30 buku politik, dengan beragam terra. Dan sejak 1965 hingga kini, dia menjelma menjadi salah satu figur "paling ditakuti" pemerintah Amerika lantaran kekritisannya terhadap kebijakan luar negeni Amerika. Karya-karyanya, antara lain, adalah The Fateful Triangle: The United States, Israel, and the Palestinians; New Military Humanism: Lessons from Kosovo; Powers and Prospects: Reflections on Human Nature and the Social Order; Rethinking the Camelot: JFK, The Vietnam War, and U.S. Political Culture; Year 501: The Conquest Continues; Deterring Democracy; Necessary Illusions: Thought Control in Democratic Societies. From MIT search engine name: Chomsky, Noam A email: chomsky@MIT.EDU phone: (617) 253-7819 address: E39-219 department: Linguistics & Philos title: Linguistics, Professor ||_______ Tentang Peristiwa pemboman 11 September 2001 di AS Noam Chomsky Serangan teroris mecupakan kekejaman yang luar biasa. Dalam hal skala, serangan itu mungkin belum mencapai tingkatan kasus-kasus lain, misalnya, pemboman yang diperintahkan Clinton atas Sudan dengan dalih yang tak dapat dipercaya, yang menghancurkan separo dari persediaan obat-obatan dan membinasakan banyak orang yang jumlah pastinya tidak diketahui (tak seorang pun tahu karena Amerika Scrikat memblokir pengusutan PBB dan tidak ada yang peduli untuk mencari tahu). Tanpa perlu menceritakan kasus-kasus yang jauh lebih keji, yang sangat mudah muncul dalam ingatan, tak disangsikan lagi, inilah kejahatan yang menghebohkan. Korban-korban utama, seperti biasa, adalah para pekerja: penjaga gedung, sekretaris, pemadam kebakaran, dan lain-lain. Sangat mungkin hal ini dijadikan dalih untuk memukul bangsa Palestina dan orang-orang tertindas serta miskin lainnya. Yang juga mungkin adalah hal ini akan mengarah pada kontrol keamanan ketat, dengan banyak konsekuensi lanjutan untuk memberangus kebebasan sipil dan kemerdekaan dalam negeri. Secara dramatis, peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan kekonyolan proyek "pertahanan misil". Sebagaimana semuanya sudah gamblang sekian lama, dan sudah dibeberkan berulang-ulang oleh para analis strategis, apabila seseorang berniat menimbulkan kerusakan dahsyat di AS, termasuk dengan senjata penghancur massa, sangat tidak mungkin mereka melancarkan serangan misil, yang pasti menyebabkan kebinasaan sekejap. Ada banyak sekali cara lebih mudah yang pada dasarnya tak dapat dihentikan. Akan tetapi, peristiwa-peristiwa saat ini, mungkin sekali, akan dieksploitasi untuk meningkatkan tekanan demi mengembangkan sistem pertahanan tersebut dan kemudian menggerakkannya. "Pertahanan" adalah sebuah selubung tipis bagi rencana terbentuknya militerisasi ruang. Dan, dengan Humas (PR) yang bagus, argumen-argumen yang sangat halus pun akan berpengaruh di kalangan publik yang ketakutan. Singkatnya, kejahatan adalah anugerah bagi dalih keadilan jingois (pencinta tanah air yang berlebih-lebihan), yang berharap dapat menggunakan kekuatan untuk mengontrol wilayahnya. Hal ini bahkan dengan mengabaikan kemungkinan aksi-aksi (kejahatan) Amerika, dan apa yang akan mereka picu (dari aksi kejahatan tersebut) --mungkin saja serangan yang lebih dahsyat seperti peristiwa ini, atau serangan yang lebih keji lagi. Prospek ke depan bahkan lebih buruk daripada yang muncul sebelum kekejaman terakhir ini. Bagaimana reaksi kita? Kita memiliki pilihan. Kita dapat melakukan kejahatan yang beralasan (justfied horror); kita dapat berupaya memahami apa yang telah memunculkan pelbagai kejahatan itu, yang berarti berupaya keras untuk menyelami pikiran orang-orang yang diduga.melakukan kejahatan itu. Jika kita memilih cara terakhir, saya kira, lebih baik kita menyimak kata-kata Robert Fisk, yang pengetahuan dan wawasannya tentang masalah-masalah di kawasan tersebut tidak tertandingi mengingat pengalamannya selama bertahun-tahun memberikan reportase yang mengagumkan. Dengan menggambarkan "kejahatan dan kebengisan yang mencengangkan terhadap orang-orang yang dihancurkan dan dinistakan", Fisk menulis bahwa "ini bukanlah perang demokrasi versus teror yang menuntut dunia untuk mempercayainya di masa-masa yang akan datang. Ini juga tentang misil Amerika yang memorakporandakan rumah-rumah orang Palestina, helikopter-helikopter AS yang memuntahkan misilnya ke sebuah ambulans Lebanon pada 1996, dan granat-granat Amerika yang membumihanguskan sebuah desa bernama Qana, serta tentang milisi Lebanon --yang dibayar dan diberi seragam oleh sekutu Israel-Amerika-- yang membajak, memperkosa, dan membantai, di kamp-kamp pengungsi," dan banyak lagi. Sekali lagi, kita mempunyai pilihan: kita mungkin mencoba memahami, atau menolak untuk memahami, dengan memberikan andil terjadinya kemungkinan yang lebih buruk lagi di hadapan kita.[] ||_______ Wawancara dengan Chomsky (1) Pewawancara: Svetlana Vukovic dan Svetlana Lukic Menurut pendapat Anda, mengapa serangan itu terjadi? Untuk menjawab pertanyaan itu, pertama kita mesti mengidentifikasi pelaku kejahatannya. Secara umum, pelakunya dianggap berasal dari kawasan Timur Tengah, dan serangan itu kemungkinan dapat ditelusuri pada jaringan Osama bin Laden --sebuah organisasi yang kompleks dan tersebar luas. Tidak diragukan lagi bahwa tindakan ini diilhami Osama bin Laden, tetapi tidak mesti dilakukan di bawah kontrolnya. Kita asumsikan saja hal ini benar. Maka, untuk menjawab pertanyaan Anda, orang yang berakal akan berupaya mengetahui pandangan-pandangan Osama bin Laden, dan sentimen sebagian besar pendukungnya di seluruh kawasan tersebut. Untuk semua ini, kita memiliki segudang informasi. Bin Laden telah diwawancarai secara intensif selama bertahun-tahun oleh para ahli Timur Tengah yang amat andal --seperti wartawan yang sangat terkemuka di kawasan itu, Robert Fisk (Independent, London), yang memiliki pengetahuan mendalam tentang kawasan itu dan pengalaman langsung selama puluhan tahun. Sebagai jutawan Arab Saudi, Bin Laden menjadi pemimpin Islam militan dalam perang mengusir Rusia dari Afghanistan. Dia adalah salah seorang dari sekian banyak ekstremis fundamentalis agama yang direkrut, dipersenjatai, dan didanai oleh CIA serta sekutu intelijennya di Pakistan agar dapat menimbulkan kerugian yang sebesar-besarnya pada Rusia. Para analis menduga, kemungkinan ini dilakukan untuk menunda penarikan mundur mereka (tentara Rusia). Tidak jelas benar apakah secara pribadi Osama bin Laden menjalin kontak langsung dengan CIA. Tetapi, ini tidaklah penting. Bukan hal mengejutkan apabila CIA memilih pejuang yang amat fanatik dan bengis untuk dimobilisasi. Tujuan akhirnya_adalah untuk "menghancurkan rezim moderat dan menggantikannya dengan rezim fanatik, dari kelompok-kelompok yang secara serampangan dibiayai oleh Amerika" (Simon Jenkins, koresponden London Times yang juga ahli kawasan itu). Kebanyakan "orang Afghan" ini, begitu mereka disebut (banyak, seperti halnya Osama bin Laden, bukan kelahiran Afghanistan), melaksanakan operasi teror di sepanjang perbatasan Rusia. Namun, mereka menghentikan operasi tersebut setelah Rusia mundur. Perang mereka bukanlah melawan Rusia, yang mereka pandang rendah, melainkan melawan pendudukan dan kejahatan tentara Rusia terhadap kaum Muslim. Namun, ternyata, "orang-orang Afghan" tersebut tidak mengakhiri kegiatan-kegiatan mereka. Mereka lantas bergabung dengan pasukan-pasukan Muslim Bosnia dalam Perang Balkan; AS sendiri tidak berkeberatan, seperti halnya AS mentoleransi dukungan Iran terhadap mereka, untuk alasan kompleks yang tidak perlu kita uraikan di sini, terlepas dari catatan bahwa concern terhadap nasib buruk orang-orang Bosnia tidaklah menonjol di kalangan mereka (orang Afghan). "Orang-orang Afghan" juga melawan Rusia di Chechnya, dan sangat mungkin, terlibat juga dalam melakukan serangan teroris di Moskow atau di wilayah lain Rusia. Bin Laden dan rekan-rekan "Afghan"-nya berbalik melawan AS pada 1990 ketika mereka (AS) membangun pangkalan militer permanen di Arab Saudi. Dari sudut pandang Bin Laden, ini tak ada bedanya dengan pendudukan Rusia atas Afghanistan, tetapi jauh lebih penting karena Arab Saudi berstatus khusus sebagai pelindung Tanah Suci. Osama bin Laden pun dengan sengit menentang rezim-rezim korup dan represif di kawasan ini, yang dipandangnya "tidak Islami", termasuk rezim Arab Saudi yang merupakan rezim fundamentalis Islam paling ekstrem di dunia, selain Taliban, tetapi telah menjadi sekutu dekat AS sejak terbentuknya. Bin Laden memandang hina AS karena dukungannya pada rezim Arab Saudi. Seperti pihak-pihak lain di kawasan ini, Bin Laden juga meradang karena dukungan panjang AS atas pendudukan brutal militer Israel yang sekarang memasuki tahun ke-35: Intervensi diplomatik, militer, dan ekonomi yang menentukan dari Washington; mendukung pembantaian, serangan yang keji dan destruktif selama bertahun-tahun; penistaan yang setiap hari dilakukan yang sasarannya orang-orang Palestina; perluasan pemukiman yang dirancang memecah wilayah pendudukan menjadi daerah-daerah kantong seperti Bantustan dan mengontrol sumber dayanya; pelanggaran nyata terhadap Konvensi jenewa; dan tindakan-tindakan lain yang diakui sebagai kejahatan hampir di sebagian besar belahan dunia, di luar AS, dan AS bertanggung jawab atas semua ini. Dan seperti yang lain, Bin Laden membedakan dukungan yang diberikan Washington dalam kejahatan-kejahatan tersebut dengan serbuan AS-Inggris terhadap warga sipil Irak, yang telah menghancurkan masyarakat dan menyebabkan ratusan ribu orang tewas sementara terus memperkuat Saddam Hussein --yang menjadi sahabat baik dan sekutu AS-Inggris dalam melakukan tindakan-tindakan kejam termasuk pernusnahan suku Kurdi. Ini merupakan tindak kekejaman yang tidak mungkin terlupakan oleh rakyat di kawasan itu, meskipun seandainya Barat memilih untuk melupakannya. Sentimen tersebut sangat tersebar luas. The Wall Street Journal (edisi 14 September) menerbitkan hasil survei pendapat orang-orang Muslim kaya dan terpandang (bankir, profesional, dan usahawan yang memiliki kaitan erat dengan AS) di kawasan Teluk. Mereka umumnya berpandangan sama: jengkel dengan kebijakan AS yang mendukung tindakan kejahatan Israel dan menjegal konsensus internasional melalui penyelesaian diplomatik yang dilakukan selama bertahun-tahun sambil menghancurkan masyarakat sipil Irak, mendukung rezim anti-demokrasi yang keras dan represif di semua bagian kawasan ini, dan memaksakan penjegalan atas pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh "rezim-rezim penindas yang ditopangnya". Di kalangan sebagian besar rakyat yang menderita akibat kemiskinan dan penindasan, sentimen serupa bahkan lebih keras lagi dan menjadi sumber kegeraman dan keputusasaan yang memunculkan serangan born bunuh diri, seperti yang secara umum dipahami oleh orang-orang yang tertarik pada fakta-fakta ini. AS, dan kebanyakan negara Barat, lebih suka mendengar versi yang lebih menyenangkan. Mengutip analisis utama New York Times (edisi 16 September), para pelaku kejahatan itu bertindak atas dasar "kebencian pada nilai-nilai yang dijunjung tinggi di Barat, seperti kebebasan, toleransi, kesejahteraan, pluralisme agama, dan hak pilih". Tindakan AS sendiri tidak dianggap relevan sehingga tidak perlu diungkapkan (Serge Schmemann). Inilah gambaran yang ambil gampangnya, dan sudut pandang seperti ini sudah tak asing lagi dalam sejarah intelektual; malah, sudah menjadi sudut pandang umum. Ini sebenarnya bertentangan sepenuhnya dengan yang kita ketahui, dan hanya merupakan pengelu-eluan diri dan pendukungan membabi buta untuk kekuasaan. Juga diakui secara luas bahwa Osama bin Laden dan orang lain seperti dia sedang mendoakan adanya "serangan hebat terhadap negara-negara Muslim" yang akan mendorong "kaum fanatik berbondong-bondong mendukungnya" (Jenkins dan banyak yang lain). Ini pun sudah umum dikatakan. Eskalasi siklus kekerasan biasanya disambut oleh unsur-unsur yang paling brutal dan keji pada kedua belah pihak. Fakta ini sudah cukup terbukti dalam sejarah mutakhir Balkan, sekadar menyebut satu contoh dari sekian banyak kasus. Apa saja konsekuensi peristiwa ini bagi kebijakan dalam negeri AS dan bagi pandangan bangsa Amerika tentang dirinya? Kebijakan AS sudah diumumkan secara resmi. Dunia dihadapkan pada "pilihan suram": bergabung dengan kami atau "menghadapi kematian dan kehancuran". Kongres sudah membolehkan penggunaan kekuatan terhadap individu atau negara yang dianggap oleh Presiden terlibat dalam penyerangan, sebuah doktrin yang dipandang ultrakriminal oleh pendukungnya sekalipun. Hal ini mudah saja contohnya. Tanya sajalah bagaimana reaksi orang-orang itu andaikan Nikaragua pun menjalankan doktrin tersebut setelah AS menolak perintah Pengadilan Internasional untuk mengakhiri "penggunaan kekuatan yang melanggar hukum" terhadap Nikaragua dan memveto resolusi Dewan Keamanan yang menyerukan semua negara untuk mematuhi hukum internasional. Dan, serangan teroris dari AS tersebut jauh lebih dahsyat dan destruktif dibandingkan dengan peristiwa WTC yang sekarang. Sedangkan mengenai pandangan masyarakat di sini tentang peristiwa tersebut, ini jauh lebih kompleks. Orang harus mengingat bahwa media dan elite intelektual umumnya memiliki agenda tertentu. Lebih jauh lagi,jawaban atas pertanyaan tadi sebagian besar merupakan soal keputusan: seperti dalam banyak kasus lain, kalau kita menggunakan energi dan dedikasi yang memadai, upaya untuk mendorong fanatisme, kebencian membabi buta, dan ketaatan pada autoritas dapat saja diredam. Kita semua tahu benar tentang hal ini. Apakah Anda menduga AS akan mengubah besar-besaran kebijakannya mengenai negara-negara di dunia? Respons pertama adalah seruan untuk meningkatkan kebijakan-kebijakan yang menimbulkan kemarahan dan kebencian yang merupakan latar belakang dukungan bagi serangan teroris, dan untuk lebih intensif mengejar agenda dari unsur-unsur kepemimpinan yang paling keras: peningkatan militerisasi, pengawasan domestik, dan serangan terhadap program sosial. Semua itu bisa diperkirakan. Sekali lagi, serangan teror, serta eskalasi siklus kekerasan yang sering ditimbulkannya, cenderung memperkukuh autoritas dan gengsi unsur-unsur masyarakat yang paling keji dan represif Namun,jalur tindakan ini sebenarnya bisa dihindari, bukan keniscayaan. Setelah kejutan pertama, muncullah ketakutan mengenai jawaban apa yang akan diberikan AS. Apakah Anda juga merasa gentar? Semua orang waras pastilah takut dengan reaksi yang kemungkinan muncul yakni reaksi yang sudah diumumkan, reaksi yang mungkin menjawab doa Osama bin Laden. Ini sangat mungkin akan meningkatkan eskalasi siklus kekerasan, dengan cara yang biasa, namun dalam kasus ini dengan skala yang lebih besar. AS sudah meminta Pakistan menghentikan pasokan makanan dan bahan lainnya yang setidaknya dapat mempertahankan hidup sebagian rakyat Afghanistan yang kelaparan dan menderita. Apabila tuntutan itu dilaksanakan, entah berapa jumlah warga yang tidak berkaitan sama sekali dengan terorisme akan tewas, mungkin jumlahnya akan mencapai jutaan. Perkenankanlah saya ulangi lagi: AS menuntut agar Pakistan membunuh rakyat yang mungkin jumlahnya jutaan; yang sekarang ini pun menjadi korban Taliban. Tindakan AS ini bahkan tidak bersangkut paut dengan pembalasan dendam. Tindakan itu berada pada derajat moral yang jauh lebih rendah daripada itu. Signifikansinya diperkuat dengan kenyataan bahwa hal ini disinggung secara sepintas saja, tanpa komentar, dan mungkin tak akan teperhatikan. Kita dapat belajar banyak tentang derajat moral kultur intelektual Barat yang ada, dengan mengamati reaksi terhadap tuntutan ini. Saya kira, kita bisa yakin bahwa seandainya penduduk Amerika tahu sedikit saja tentang tindakan yang akan dilaksanakan dengan mengatasnamakan mereka, mereka akan benar-benar terkejut. Mencari preseden sejarahnya akan memberi wawasan lebih luas. Apabila Pakistan tak menyepakati tuntutan ini dan tuntutan AS yang lain, mereka mungkin akan juga mendapat serangan langsung --yang akibatnya belum kita ketahui. Apabila Pakistan tunduk pada tuntutan AS, tidaklah mustahil pemerintahnya akan dijatuhkan oleh kekuatan semacam Taliban --yang dalam hal ini memiliki senjata nuklir. Ini akan membawa akibat ke seluruh kawasan, termasuk negara-negara penghasil minyak. Pada titik ini, kita mempertimbangkan kemungkinan terjadinya perang yang bakal menghancurkan sebagian besar masyarakat manusia. Tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan di atas pun, yang pasti, serangan atas Afghanistan akan menimbulkan efek yang sudah diperkirakan para analis: menghimpun limpahan orang yang mendukung Osama bin Laden seperti yang diharapkan Osama. Andaipun dia terbunuh, ini tidak akan mengubah banyak. Suaranya akan didengar melalui kaset yang disebarluaskan ke seluruh penjuru Dunia Islam, dan kemungkinan Osama bin Laden akan dipandang martir, mengilhami pihak-pihak lain. Patut diingat bahwa sebuah serangan bom bunuh diri --dengan menabrakkan truk ke pangkalan militer AS-- telah mengusir kekuatan militer utama dunia itu dari Lebanon dua puluh tahun yang lalu. Kemungkinan serangan seperti itu tidak ada habisnya. Dan, serangan bunuh diri sangatlah sukar dicegah. "Dunia tidak akan lama lagi setelah 11 September 2001". Anda juga berpendapat begitu? Serangan teroris yang keji pada hari Selasa itu benar-benar hal baru bagi dunia, bukan dalam hal skala dan sifatnya, melainkan dalam hal sasaran serangannya. Bagi AS, inilah pertama kalinya sejak Perang 1812 wilayah nasionalnya diserang, bahkan terancam. Koloni-koloninya sendiri pernah diserang, namun belum pernah wilayah nasionalnya sendiri. Selama tahun-tahun semasa Perang 1812 tersebut, boleh dibilang AS memusnahkan penduduk pribumi Amerika, menaklukkan separo Meksiko, mengintervensi daerah sekelilingnya dengan kekerasan, menaklukkan Hawaii dan Filipina (dengan membunuh ratusan ribu orang Filipina), dan dalam setengah abad ini khususnya, menggunakan kekerasan di seluruh penjuru dunia. jumlah korbannya benar-benar kolosal. Untuk pertama kalinya, kini senjata itu diarahkan ke sasaran sebaliknya. Hal ini sama dengan yang terjadi di Eropa, malah mungkin lebih dramatis. Eropa menderita akibat penghancuran yang sarat pembunuhan, namun ini akibat perang antar negara Eropa sendiri sementara mereka menjajah sebagian besar dunia dengan cara yang sangat brutal. Eropa belum pernah diserang oleh korbannya dari luar Eropa, dengan pengecualian yang amat jarang (IRA di Inggris, misalnya). Oleh karena itu, bisa dimengerti apabila NATO memberikan dukungan pada AS; kejahatan penjajah selama ratusan tahun ternyata membawa dampak yang besar pada kultur moral dan intelektual. Boleh dibilang bahwa peristiwa 12 September 2001 ini merupakan peristiwa baru dalam sejarah dunia, yang sayangnya, bukan lantaran skala kekejiannya, melainkan karena sasarannya. Bagaimana Barat memilih untuk bereaksi sangatlah penting. Apabila si kaya dan perkasa memilih untuk tetap memegang tradisi mereka selama ratusan tahun ini untuk menggunakan kekerasan yang ekstrem, si kaya dan perkasa itu sesungguhnya turut menyumbang terjadinya eskalasi siklus kekerasan, dalam dinamika yang biasa, dengan akibat-akibat jangka panjang yang mengerikan. Tentu saja, hal ini bukanlah keniscayaan. Publik yang tumbuh dalam masyarakat yang lebih bebas dan demokratis semestinya mampu mengarahkan kebijakan pemerintahnya ke jalur yang jauh-lebih manusiawi dan bermartabat. [] ||_______ Wawancara dengan Chomsky (2) Pewawancara: Michael Albert Kini terjadi pengerahan tentara secara besar-besaran dan retorika militer yang ekstrem, hingga muncul berbagai komentar tentang penggulingan pemerintahan, dan lain-lain. Akan tetapi, bagi banyak orang, ini semua tampak sebagai upaya pengendalian yang serius. Apa yang sebenarnya terjadi? Sejak hari pertama penyerangan, pemerintahan Bush telah mendapat peringatan dari para pemimpin NATO, para analis kawasan, dan agen-agen intelijennya sendiri (dan tentu saja orang-orang semacam Anda dan saya) bahwa jika mereka bereaksi atas serangan dahsyat yang menewaskan banyak orang tak berdosa, itu berarti akan mengabulkan doa Osama bin Laden. Mereka akan terperangkap dalam "jebakan diabolis" sebagaimana dikatakan oleh Menlu Perancis. Ini akan benar-benar terjadi jika mereka membunuh Osama tanpa bukti yang meyakinkan tentang keterlibatan dia dalam pemboman 11 September itu. Jika itu terjadi, Osama akan dipandang sebagai seorang martir (syahid) di mata sebagian besar kaum Muslim, bahkan bagi mereka yang menyesalkan pemboman tersebut. Osama sendiri menyangkal keterlibatannya dalam kejahatan itu atau bahkan mengecam "pembunuhan atas perempuan, anak-anak, dan orang-orang tak berdosa" sebagaimana Islam melarang keras perbuatan demikian, bahkan dalam kondisi perang sekalipun (wawancara dengan BBC, 29 September 2001).Suaranya akan bergema kembali melalui ribuan kaset ke seluruh penjuru Dunia Islam, dan melalui berbagai wawancara dengan media, termasuk dalam beberapa hari belakangan ini. Sebuah serangan yang menewaskan orang-orang Afghan yang tak berdosa-bukan pemerintah Taliban, melainkan justru korban-korban yang mereka tindas-akan mengukuhkan kembali jaringan Osama dan jaringan teroris lainnya, yang pernah dilatih CIA dan sekutu-sekutunya sejak dua puluh tahun silam dalam perang jihad melawan Rusia. Sementara itu, dengan agenda mereka sendiri, sejak pembunuhan atas Presiden Mesir, Sadat, pada 1981, sebagian besar relawan direkrut dari unsur-unsur Islamis ekstremis radikal di seluruh dunia untuk bertempur di Afghanistan. Tak lama kemudian, pesan yang tiba ke pemerintahan Bush, dari sudut pandang mereka sendiri, menyebabkan mereka mengambil cara lain. Bagaimanapun, istilah "pengendalian" (restrain) ini patut diperdebatkan. Pada 16 September 2001, New York Times melaporkan bahwa "Washington juga menuntut (dari Pakistan) penghentian pasokan minyak ... dan pelenyapan konvoi truk yang memasok makanan dan kebutuhan lain ke penduduk sipil Afghanistan."Yang mengherankan, laporan tersebut tidak menimbulkan reaksi apa pun di Barat, ciri-seram peradaban Barat yang dipertahankan oleh para pemimpin dan komentator elitenya, pihak yang berada di belakang senjata dan cambuk selama berabad-abad. Beberapa hari kemudian, tuntutan ini dipenuhi (Pakistan). Pada 27 September, koresponden NYT yang sama melaporkan bahwa pemerintah Pakistan mengatakan bahwa "hari ini mereka tidak akan melunakkan keputusannya untuk menutup wilayah perbatasannya dengan Pakistan sepanjang 1.400 mil, sebuah langkah yang dituntut oleh pemerintah Bush untuk memastikan bahwa tidak ada pendukung Osama yang menyusup di antara para pengungsi" (John Burns, Islamabad). Menurut koran-koran utama dunia, Washington kemudian menuntut Pakistan untuk menjegal jutaan orang Afghan, yang berada dalam kondisi kelaparan, dengan memotong pasokan makanan untuk bertahan hidup. Hampir semua misi bantuan ditarik dari Afghan dibawah ancaman pemboman Amerika. Gelombang besar pengungsi yang memilukan bergerak ke perbatasan dalam kondisi terteror, setelah ancaman Washington membom sisa-sisa penduduk yang masih bertahan di Afghanistan dan menggunakan NATO sebagai kekuatan militer bersenjata untuk meluluhlantakkan negara itu. Ancaman ini akan mendorong banyak penduduk Afghan mendukung pemerintahan Taliban ketika Taliban mengusir keluar faksi-faksi yang bertempur, yang kini dicoba dieksploitasi oleh Washington dan Moskow untuk kepentingan mereka sendiri. Ketika sampai di perbatasan yang telah ditutup itu, para pengungsi tersebut terjebak dalam ambang kematian. Hanya segelintir orang yang dapat menerobos melalui pegunungan yang jauh. Tak diketahui persis berapa yang mati, dan sebagian kecil perlu mendapatkan bantuan khusus. Di luar upaya pemulihan yang ada, saya tidak bisa membayangkan kepedihan mereka. Dalam beberapa minggu ke depan, dingin yang menyengat akan segera menerjang mereka. Ada sejumlah wartawan dan tenaga sukarelawan dalam kamp pengungsi di sepanjang perbatasan. Yang mereka ceritakan adalah berita-berita yang mengenaskan, tetapi mereka tahu, kita pun tahu, bahwa sebagian dari mereka beruntung berhasil menerobos. Harapan mereka dapat diungkapkan dengan kata-kata berikut, "orang Amerika yang paling geram pun pasti akan dapat menyatakan kesedihannya bagi negara yang terkoyak-koyak ini," dan jatuh iba atas pembunuhan bisu yang biadab ini (Boston Globe, 27 September, h. 1). Mungkin gambaran yang paling tepat yang dituturkan oleh Arundhati Roy, merujuk ke operasi Infinite Justice yang dicanangkan pemerintahan Bush: "Kesaksian akan Infinite Justice di negara baru: warga sipil mengalami kelaparan dan menjemput kematian. Pada saat yang sama, mereka menunggu saat untuk dibunuh" (Guardian, 29 September). PBB menunjukkan setumpuk bukti tentang ancaman kelaparan di Afghanistan. Kritik internasional semakin banyak bermunculan, dan Amerika serta Inggris kini berbicara tentang penyediaan bantuan makanan untuk mengatasi kelaparan. Apakah mereka pura pura tidak tahu? Apa sebenarnya motif mereka? Bagaimana skala dan dampak usaha mereka? PBB memperkirakan bahwa sekitar 7-8 juta orang terancam kelaparan. NYT melaporkan dalam artikel pendek (25 September) bahwa sekitar 6 juta orang Afghan bergantung pada bantuan makanan dari PBB. Demikian juga 3,5 juta di kamp pengungsi di luar Afghanistan; beberapa di antara mereka telah melarikan diri ke Pakistan sebelum perbatasan kedua negara ditutup. Artikel tersebut melaporkan bahwa sejumlah makanan dikirimkan ke kamp pengungsi di sepanjang perbatasan. Jika orang-orang di Washington dan kantor-kantor berita masih punya sedikit saja nurani, mereka pasti akan menyadari bahwa mereka semestinya melakukan tugas kemanusiaan untuk menghindarkan penduduk Afghan dari tragedi dahsyat itu: ancaman pemboman dan serangan militer, serta penutupan perbatasan. "Para pakar juga mendesak pemerintah Amerika untuk menaikkan citranya dengan memberikan bantuan kepada para pengungsi Afghanistan, serta membantu membangun kembali pemulihan ekonomi di negara itu" (Christian Science Monitor, 28 September). Bahkan, tanpa humas khusus yang menangani hal ini, pemerintahan Bush harus menyadari bahwa mereka harus mengirimkan makanan kepada para pengungsi di sepanjang perbatasan; sekurang-kurangnya berbicara tentang bantuan makanan lewat udara bagi orang-orang kelaparan di dalam wilayah Afghanistan: tidak hanya demi "menyelamatkan nyawa", tetapi juga untuk "membantu menemukan kelompok-kelompok teror di antara warga Afghanistan" (Boston Globe, 27 September, mengutip pernyataan pejabat Pentagon, yang melukiskan hal ini sebagai "memenangkan hati dan pikiran rakyat Afghanistan"). Editor NYT mengambil topik yang sama pada hari berikutnya, 12 hari setelah jurnal itu melaporkan bahwa operasi yang mematikan itu telah memakan korban. Dalam skala bantuan, orang hanya dapat berharap jumlahnya besar jika kita ingin menghindari tragedi kemanusiaan yang besar dalam tempo beberapa' minggu ini. Akan tetapi, kita mesti ingat bahwa sama sekah tidak ada bantuan makanan itu sedari awal. Jika pemerintah peka, setidak-tidaknya ada bantuan makanan lewat udara sebagaimana pernah disebutkan secara resmi. Badan-badan hukum internasional cenderung berusaha mengadili Bin Laden dan yang lain, dengan mencoba mengumpulkan bukti-bukti, termasuk dalam penggunaan kekerasan. Mengapa Amerika menghindari cara ini? Apakah Amerika tidak ingin mengesahkan satu pendekatan yang dapat digunakan untuk melawan aksi terorisme? Atau, adakah faktor-faktor lain? Banyak pihak menuntut Amerika untuk menunjukkan bukti-bukti keterlibatan Osama. Jika itu bisa ditunjukkan, tidaklah sulit menggalang dukungan internasional, di bawah naungan PBB, untuk menangkap dia dan sekutu-sekutunya. Bagaimanapun, ini bukan perkara mudah. Bahkan, jika Osama dan jaringannya memang terlibat dalam kejahatan 11 September itu, sangatlah sulit membuktikannya secara meyakinkan. CIA tahu pasti karena --merekalah yang mengasuh dan membesarkan organisasi Osama secara intensif selama 20 tahun-- bahwa organisasi Osama sangat acak, tersebar, dan tanpa struktur hierarkis, dan mungkin dengan komunikasi yang minim atau perintah langsung. Dan seperti kita tahu, sebagian besar pelaku mungkin melakukan aksi bunuh diri dalam misi yang mengerikan. Ada masalah lain dalam soal latar belakang. Mengutip kembali pernyataan Roy, "Respons Taliban atas tuntutan Amerika untuk mengekstradisi Bin Laden benar-benar masuk akal: tunjukkan dulu bukti, baru kami akan menangkap dia. Respons pemerintah Bush adalah bahwa tuntutan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi." Dia juga menambahkan bahwa salah satu dari sejumlah alasan mengapa argumen ini tidak bisa diterima oleh Washington adalah "Sementara pembicaraan berlangsung tentang ekstradisi CEO (Union Carbide), bisakah India mengabaikan tuntutan untuk mengekstradisi Warren Anderson ke Amerika Serikat? Dialah pemimpin Union Carbide yang bertanggung jawab atas kebocoran gas Bhopal yang menewaskan 16.000 orang pada 1984. Kami telah mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan. Semuanya sudah ada di file kami. Bisakah Anda menyerahkannya kepada kami?" Pembandingan demikian menunjukkan hiruk-pikuk opini yang ekstrem di Barat, beberapa di antara mereka disebut sebagai "kiri". Akan tetapi, bagi orang Barat yang memelihara kewarasan dan integritas moral dan bagi sejumlah besar korban, opim ini sangat berarti. Pemimpin-pemimpin pemerintahan mestinya memahami hal ini. Dan, satu contoh yang diangkat Roy hanyalah permulaan, tentu saja, dan salah satu contoh yang lebih ringan, bukan hanya karena skala kekejiannya, melainkan karena tidak secara tegas menyatakannya kejahatan yang dilakukan negara (crime of state). Andaikata Iran dituntut untuk mengekstradisi pejabat tinggi pemerintahan Carter dan Reagan, yang menolak bukti-bukti yang memadai tentang kejahatan yang mereka lakukan --dan itu benar-benar terjadi. Dan andaikan Nikaragua dituntut untuk mengekstradisi duta besar Amerika ke PBB --yang dituding mengawali "perang melawan teror", sang duta besar pernah bekerja sebagai "proconsul" (istilah dia sendiri) di tanah warisan maya di Honduras, tempat dia benar-benar menyadari kekejian yang dilakukan teroris negara yang dia dukung, dan juga memandang perang teroris-- maka dalam hal ini, Amerika dikecam Pengadilan Internasional dan Dewan Keamanan (dalam resolusi yang akhirnya diveto Amerika). Dan masih banyak lagi. Bagaimana mungkin Amerika memimpikan pemenuhan tuntutan semacam itu tanpa menunjukkan bukti yang cukup? Pintu itu lebih baik ditutup, seperti juga lebih baik tutup mulut tentang kesepakatan di antara figur-figur terkemuka dalam mengelola operasi yang dikecamnya sebagai terorisme oleh badan-badan internasional yang ada --yang mengarah ke "perang terhadap terorisme". Jonathan Swift juga tidak bisa bicara. Itulah alasan pakar pemerintahan lebih suka memakai istilah "perang" (war) yang lebih tegas daripada istilah "kejahatan" (crime) --kejahatan kemanusiaan sebagaimana digambarkan secara tepat oleh Robert Fisk, Mary Robinson, dan yang lain. Ada prosedur ketat untuk menangani ke jahatan, bagaimanapun itu mengerikan. Mereka membutuhkan bukti, dan menganut prinsip bahwa "mereka yang bersalah dalam aksi tersebut" akan segera ditangkap begitu bukti terkumpulkan, tetapi bukan orang lain. (Paus Paulus II, NYT, 24 September). Dan bukannya mengorbankan sejumlah besar orang yang kelaparan, menjemput maut dalam kondisi terteror, di perbatasan yang ditutup. Dan dalam hal ini juga kita sedang berbicara tentang kejahatan kemanusiaan. Perang terhadap teror pertama kali dimulai oleh Reagan, sebagai ganti Perang Dingin. Ini digunakan sebagai kendaraan untuk menakut-nakuti masyarakat, supaya pemerintah dapat menghimpun dukungan untuk program-program yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat, misalnya kampanye militer di luar negeri, pengeluaran perang pada umumnya, pengintaian, dan seterusnya. Kini kita melihat upaya yang lebih besar dan lebih agresif untuk bergerak ke arah yang sama. Apakah posisi kita (AS) sebagai sumber penyerangan masyarakat sipil yang terbesar di dunia akan membawa komplikasi dalam menjalankan upaya ini? Dapatkah upaya ini dilaksanakan tanpa melancarkan perang? Pemerintahan Reagan mulai menjabat dua puluh tahun silam dengan menyatakan bahwa perhatian utamanya adalah melenyapkan wabah terorisme internasional, kanker yang menghancurkan peradaban. Mereka menyembuhkan wabah ini dengan mendirikan jaringan teroris internasional yang berskala raksasa. Konsekuensi jaringan ini (seharusnya) sudah dikenal baik di Amerika Tengah, Timur Tengah, Afrika, Asia Tenggara, dan di tempat-tempat lain. Jaringan ini dibentuk dengan dalih, seperti yang Anda katakan, untuk melaksanakan program-program yang sangat membahayakan penduduk dalam negeri, dan bahkan mengancam kelangsungan hidup manusia. Apakah pemerintah Reagan melancarkan perang? Jumlah mayat yang mereka tinggalkan di seluruh dunia sungguh mencengangkan. Namun, secara teknis mereka tidak pernah menembakkan senapan, kecuali beberapa kegiatan humas yang jelas. Misalnya, pemboman Libya. Inilah kejahatan perang pertama dalam sejarah yang diatur waktunya agar tepat untuk siaran televisi prime-time --penyerangan yang tidak mudah, mengingat rumitnya operasi tersebut dan penolakan negara-negara Eropa-kontinental untuk bekerja sama. Penyiksaan, mutilasi, perkosaan, dan pembantaian dilaksanakan melalui perantara. Andaipun kita tidak memasukkan komponen terorisme yang besar tetapi tak pernah disebut-sebut, yang dapat dilacak ke negara-negara teroris, termasuk negara AS sendiri, wabah teroris ini sangatlah nyata, sangat berbahaya, dan sangat mengerikan. Ada cara-cara bereaksi yang bakal menjadi ancaman bagi AS maupun pihak lain. Ada pula banyak preseden untuk metode yang lebih waras dan terhormat, seperti yang sudah kita bahas, dan yang juga sama sekali tidak ngawur, tetapi jarang sekali dibahas orang. Itulah pilihan-pilihan yang mendasar. Jika Taliban jatuh dan Bin Laden atau orang lain yang mereka anggap bertanggung jawab itu ditangkap atau dibunuh, lalu apa selanjutnya? Apa yang terjadi pada Afghanistan? Apa yang terjadi lebih luas lagi di wilayah lain? Rencana pemerintah AS yang rasional adalah meneruskan program genosida diam-diam yang sudah berjalan. Ini tentu dibarengi dengan tindakan humanitarian, untuk menggalang sorak-sorai dari "paduan suara" yang seperti biasa diharuskan melagukan pujian bagi para pemimpin mulia, yang mengabdi pada "prinsip dan nilai-nilai" dan memimpin dunia menuju "era baru" dalam "mengakhiri kebiadaban". Pemerintah AS mungkin juga mencoba menjadikan NATO sebagai suatu kekuatan yang berfungsi, mungkin untuk menarik para pemimpin perang lain yang memusuhinya, seperti Gulbudin Hekmatyar yang kini tinggal di Iran. Sepertinya, mereka akan menggunakan komando AS dan Inggris untuk misi-misi di Afghanistan, dan mungkin membom secara selektif, tetapi mengecilkan skalanya agar tidak sampai menjawab doa Bin Landen. Penyerangan AS tidak boleh dibandingkan dengan invasi Rusia yang gagal pada 1980-an. Rusia waktu itu menghadapi pasukan besar yang terdiri atas mungkin lebih dari 100.000 prajurit yang terorganisasi, terlatih, dan dipersenjatai lengkap oleh CIA dan rekan-rekannya. AS kini menghadapi tentara kumuh, dalam negara yang telah nyaris hancur akibat dua puluh tahun keadaan mencekam, keadaan yang ikut diciptakan AS. Kekuatan Taliban yang sekarang ini mungkin akan cepat runtuh, kecuali kelompok inti yang kecil. Dan agaknya, penduduk yang masih bertahan hidup akan menyambut tentara invasi, asalkan tidak terlalu jelas terkait dangan geng-geng pembunuh yang mengoyak negara itu sebelum Taliban mengambil alih. Pada saat ini, sebagian besar penduduk mungkin akan menyambut datangnya jenghis Khan. Apa selanjutnya? Orang-orang Afghan ekspatriat dan beberapa unsur internal yang bukan bagian dari lingkungan dalam Taliban telah meminta upaya PBB untuk mendirikan semacam pemerintah transisi. Proses ini mungkin saja mampu membangun sesuatu yang bermanfaat dari puing-puing, jika didukung dengan bantuan pembangunan yang sangat besar, yang disalurkan melalui sumber-sumber independen, seperti PBB atau LSM yang terpercaya. Bantuan ini seharusnya menjadi tanggung jawab minimal dari pihak-pihak yang telah mengubah negara papa ini menjadi tanah teror, keputusasaan, mayat, dan korban teraniaya. Semua ini bisa saja terjadi, tetapi tidak tanpa upaya populer besar-besaran dari negara yang kaya dan berkuasa. Untuk saat ini, pilihan tersebut telah disisihkan oleh pemerintah Bush. Mereka telah menyatakan bahwa mereka tak akan terlibat dalam "pembangunan negara". Tidak pula mau terlibat dalam upaya yang lebih terhormat dan manusiawi, yakni mendukung, tanpa gangguan, "pembangunan negara" oleh pihak-pihak lain yang mungkin bisa mencapai sukses dalam upaya ini. Akan tetapi, penolakan mereka saat ini untuk mempertimbangkan tindakan yang baik tersebut masih belum terukir di atas batu. Yang terjadi di wilayah lain bergantung pada faktor internal, kebijakan pelaku luar negeri (AS yang pelaku dominan, untuk alasan yang jelas), dan perkembangan keadaan di Afghanistan. Kita tidak bisa yakin, tetapi dari sekian banyak jalur yang mungkin diambil, kita dapat memperkirakan hasilnya secara masuk akal --dan kemungkinan hasil ini banyak sekali, terlalu banyak untuk dicoba diulas dalam komentar singkat. Menurut Anda, apa sebaiknya peran dan prioritas para aktivis sosial yang prihatin mengenai keadilan pada saat ini? Apakah sebaiknya kami membatasi kritik kami, seperti yang telah diklaim beberapa orang? Ataukah sebaliknya, inilah waktu yang tepat untuk melancarkan upaya yang diperbaharui dan diperbesar, tak hanya karena pada krisis ini kami dapat mencoba memberi dampak yang penting dan positif, tetapi juga karena sektor-sektor besar masyarakat sebenarnya jauh lebih reseptif dari biasanya pada diskusi dan eksplorasi, meskipun ada sektor lain yang tetap memusuhi? Ini bergantung pada apa yang hendak dicapai para aktivis sosial ini. jika tujuan mereka adalah meningkatkan daur kekerasan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kejahatan selanjutnya seperti kejahatan 11 September --dan kejahatan lebih buruk lain yang, sayangnya, sudah terlalu akrab bagi dunia-- jelas mereka sebaiknya membatasi analisis dan kritiknya, berhenti berpikir, dan mengurangi keterlibatan mereka dalam isu-isu serius yang selama ini mereka ceburi. Nasihat yang sama juga berlaku jika mereka ingin membantu unsur-unsur sistem kekuasaan politik ekonomi yang paling bereaksi dan regresif untuk menerapkan rencana yang akan sangat merusak masyarakat umum di AS dan di dunia, dan bahkan mengancam kelangsungan hidup manusia. Sebaliknya, jika tujuan para aktivis sosial ini adalah mengurangi kemungkinan terjadinya kejahatan selanjutnya, dan menyerukan harapan akan kebebasan, hak asasi manusia, dan demokrasi, sebaiknya mereka mengikuti jalur berlawanan. Mereka harus meningkatkan upaya dalam menyelidiki faktor-faktor latar di balik kejahatan ini dan kejahatan lain, dan mengabdikan diri lebih giat pada tujuan-tujuan keadilan yang selama ini mereka upayakan. Peluang-peluangnya jelas terbuka. Rasa kaget akibat kejahatan yang mengerikan ini sudah membuka sektor-sektor elite sekalipun ke arah refleksi yang belum lama ini jarang dilakukan. Keterbukaan di masyarakat umum malah lebih luas. Tentu saja akan ada orang-orang yang menuntut kita patuh dan diam. Tuntutan ini akan datang dari ultra-kanan, dan orang yang mengenal sedikit sejarah akan mengharap tuntutan ini juga datang dari intelektual kiri, mungkin dalam bentuk yang lebih keras. Namun, para aktivis sosial jangan sampai terintimidasi oleh kebohongan dan ocehan histeris; dan sebaiknya teruslah sedekat mungkin menempuh jalur kebenaran dan kejujuran serta keprihatinan mengenai konsekuensi manusiawi dari perbuatan manusia. Semua ini adalah truisme, tetapi patut selalu diingat. Di luar truisme ini, kita beralih ke masalah-masalah spesifik, untuk menyelidiki dan menindaki. [] ||_______ PENGANTAR PENTERJEMAH Meskipun karya Noam Chomsky ini tak terlalu tebal, proses penterjemahannya merupakan pekerjaan yang sungguh tidak mudah. Bahkan di bab terakhir, saya benar-benar merayap, halaman demi halaman, nyaris putus asa dan ingin menghentikannya. Selain karena kemampuan bahasa Inggris saya yang agak "payah", semua kesulitan itu mungkin karena saya tidak terbiasa dengan gaya Chomsky. Buku yang bernada pamfletis ini ditulis dengan gaya "rap" menyanyi dengan cara mengomel cepat, yang kini melanda para penyanyi pop kita. Sejak lembar pertama, dia memberondong dengan kalimat-kalimat bersintaks ketat, sarat adjectives, sangat miskin conjunction, dan secara umum bernada amat sarkastis. Cukup banyak kalimatnya yang terdiri dari lebih seratus kata. Selain itu, Chomsky sering menggunakan kata bukan dalam arti utama (setidaknya menurut Kamus Inggris-Indonesia karya Echols dan Shadily). Barangkali, begitulah gaya standar pakar yang dianggap "Einstein"-nya linguistik itu. Dalam hal kalimat-kalimatnya yang kelewat panjang, saya memberanikan diri untuk memecahnya menjadi dua atau tiga kalimat, agar orang yang membacanya tidak tersiksa. Sayangnya, jauh lebih banyak kalimatnya yang jika dipecah akan mereduksi pemahaman dan, agaknya juga, "efek psikologis" yang ingin ditanamkan oleh penulis kepada pembacanya. Maka, saya hanya dapat menyarankan supaya buku ini dibaca dengan konsentrasi penuh sebab satu kata saja terlewat dalam sebuah kalimat, pengertian yang ingin disampaikan mungkin meleset. Buku ini tampak sepenuhnya ditujukan bagi publik Amerika, bahkan pembaca Amerika tingkat "lanjutan". Idiom-idiom sosial politik yang dipakai penulisnya tak selalu mudah diterjemahkan untuk pembaca Indonesia. Sejumlah besar nama tokoh politik, wartawan, atau cendekiawan yang disebut, juga dirasa tak perlu diberi keterangan subjek karena dianggap pasti sudah dikenal oleh kalangan terpelajar Amerika. Sepanjang nama-nama itu saya ketahui --dan sepanjang tidak terasa menggurui-- saya memberi keterangan seperlunya, biasanya dalam tanda kurung sebelum nama orang yang bersangkutan. Akhirnya, Saya merasa telah cukup berusaha menyederhanakan penterjemahannya, sambil tetap menjaga akurasinya. Namun, kedua keinginan ini tak selalu mudah diupayakan secara serentak. Jadinya, buku ini tetap saja harus dibaca dengan "kewaspadaan" dan konsentrasi penuh, jika pembaca ingin memetik manfaat maksimum. Hamid Basyaib Yogyakarta, Juli 1991 ||_______ Kamus Terorisme dari Chomsky Jalaluddin Rakhmat "Proses pertukaran sandera Timur Tengah (Timteng) yang rumit kini sudah mulai dilaksanakan, ketika sisa-sisa mayat seorang serdadu Israel dipulangkan dari Wina hari jumat(13 September 1991). Seorang aktivis Palestina juga dibolehkan pulang ke Tepi Barat. Sedangkan, kelompok-kelompok pro-Iran di Lebanon mendorong usaha para penengah PBB lebih lanjut." Inilah lead untuk berita utama Kompas, Sabtu 14 September 1991. Di samping berita itu, ada foto besar yang melukiskan aktivis Palestina yang dibebaskan sedang berpelukan dengan ibu dan isterinya. Berita itu secara keseluruhan menunjukkan iktikad baik Israel untuk membebaskan para sandera yang ada di tangannya. Israel digambarkan sebagai negeri yang "pemurah", karena membebaskan banyak sandera semata-mata untuk mencapai perdamaian. Sehari sebelumnya, salah satu judul berita di halaman pertama surat kabar Kompas (13 September 1991) adalah "Israel Siap Membebaskan Lebih Banyak Sandera Arab". Kata Kompas, "Milisi dukungan Israel di Lebanon selatan hari Rabu telah membebaskan 51 warga Arab yang ia tahan di Penjara Khiam dan menyerahkan tahanan itu lewat Kornite Internasional Palang Merah" Dan, pembebasan 51 orang sandera ini dilakukan untuk sekadar informasi mengenai nasib prajurit Israel, "sesudah Israel menerima bukti yang tak bisa dibantah bahwa Rahamim Alsheikh, salah satu prajuritnya yang hilang pada 1986 telah tewas". Sambil menceritakan "kemurahan" Israel, berita yang sama menceritakan peranan Iran dalam pembebasan sandera. Tetapi, peranan Iran (dan Suriah) ditampilkan untuk menegaskan dukungan Iran kepada kelompok teroris. Iran aktif dalam usaha pembebasan itu hanya karena "Iran tahu ia tidak bisa bergabung dalam keluarga bangsa-bangsa tanpa menyelesaikan urusan sandera". Kompas juga mengutip ucapan Menteri Pertahanan Israel Moshe Arens, "Kesan Saya menyatakan, Iran dan Suriah sudah menyimpulkan sandera-sandera itu menjadi beban bagi mereka dan mereka merasa, lebih baik membebaskan diri dari beban itu." Walhasil, Iran dan Suriah (Syria) telah berlaku "bodoh" dengan menyandera orang-orang yang tidak bersalah. Penyanderaan itu hanya mempersulit mereka. Karena itu, mereka terpaksa berupaya melakukan pertukaran sandera. Tindakan Iran mendukung kaum teroris telah memencilkannya dari keluarga bangsa-bangsa di dunia. Para pembaca yang tidak kritis segera menyimpulkan bahwa Iran adalah pemancing di air keruh yang tercebur ke dalamnya. Mereka tidak tahu bahwa Iran sama sekali tidak terlibat dalam penyanderaan warga Israel atau warga Barat mana pun di Lebanon. Iran justru terpanggil untuk menyelesaikan pertukaran sandera karena keinginan untuk mengetahui nasib empat orang diplomat Iran yang disandera milisi dukungan Israel. Sembilan tahun yang lalu, tepatnya 4 Juli 1982, sebuah mobil polisi Lebanon mengawal mobil bernomor kedutaan Iran. Pada perjalanan dari Beirut ke Tripoli, di Barbara, 40 kilometer dari Beirut, para diplomat Iran disuruh turun. Mobil pengantar dipaksa kembali, dan empat orang Iran itu diculik milisi Kristen dukungan Israel. Berbagai upaya dilakukan pemerintah Iran untuk menemukan di mana mereka berada. Semuanya gagal. Lima tahun kemudian, 17 Maret 1987, Dr. Robert Rowens, juru bicara Uskup Agung Canterbury, mengatakan bahwa Kepala Gereja Canterbury telah mengirim pesan kepada Hujatul Islam Hashemi Rafsanjani, bahwa ia bersedia untuk menemukan status diplomat-diplomat Iran yang diculik. Ia mohon Rafsanjani dapat membantunya untuk membebaskan Terry Waite, utusan Uskup Agung Canterbury yang diculik di Beirut. Rafsanjani menjawab permohonan ini dengan memulai upaya pembebasan. Delapan tahun setelah penculikan para diplomat Iran, keluarga mereka datang ke Lebanon. Mereka menemui pemimpin Falangis, Samir Gea Gea. Gea Gea menjelaskan bahwa ketika ia mengambil alih pimpinan, tidak ada seorang pun tahanan Iran. Ia hanya mendengar dari anak buahnya bahwa para diplomat Iran itu ditangkap oleh Eli Hobeika, lalu dibunuhnya dan dikuburkan di pemakaman massal di hadapan Dewan Perang Kaum Falangis. Keluarga para diplomat kembali ke Teheran dengan berita yang masih kabur. Sekarang, September 1991, pemerintah Iran masih mencari warganya yang hilang. Kisah warga Iran yang diculik ini tidak disebut sama sekali dalam berita Kompas di atas. Inilah kisah yang disembunyikan oleh media internasional karena dapat mengubah apa yang disebut Walter Lippmann sebagai "pictures in our head". Negara-negara adikuasa, menurut Chomsky, secara sistematis dan terus-menerus telah melukiskan gambaran dunia tertentu pada benak kita. Untuk memudahkan memori kita dalam menyimpan informasi, peristiwa-peristiwa di dunia itu diberi label. Bayangkan Anda sedang menulis suatu peristiwa dalam beberapa halaman. Tulisan itu Anda arsipkan dalam memori komputer dengan memberinya filename (nama arsip). Peristiwa-peristiwa sejenis, Anda masukkan pada filename yang sama. Anda telah menulis puluhan halaman, yang Anda bagi menjadi beberapa bab. Kumpulan tulisan itu Anda arsipkan sebagai "disertasi". Ketika Anda melanjutkan topik yang sama, Anda masukkan itu ke dalam arsip yang sama. Kelak, bila Anda ingin membaca tulisan Anda itu, Anda hanya memanggil "disertasi". Komputer segera mengeluarkan (retrieve) semua makalah yang Anda masukkan dalam arsip "disertasi". Otak Anda persis seperti komputer. Ia merekam berbagai peristiwa di dunia. Peristiwa-peristiwa itu Anda kelompokkan dalam kategori-ketegori tertentu. Pemilihan umum, litsus, pidato presiden, demonstrasi mahasiswa, dan sebagainya. Semua penstiwa itu, Anda simpan dalam satu kategori. Anda berikan nama pada kategori itu "politik". Politik menjadi filename. Otak Anda menjadi mirip kamus. Setiap entry mempunyai sejumlah makna. Kapan saja Anda menyaksikan kejadian-kejadian di dunia ini, Anda merujuk kepada kamus besar Anda. Karena kamus besar Anda terdiri dari kata-kata, sebenarnya Anda melihat dunia ini lewat kata-kata. Sebagai alat untuk mengategorikan pengalaman, kata-kata hanya menjalankan kemampuan kodrati (innate ability) dalam sistem kognitif kita. Manusia tidak pernah melihat dunia ini sebagai sesuatu yang kabur, acak-acakan, dan tidak tersusun. Manusia selalu menyusun, menstruktur, dan mengorganisasikan pengalamannya. Pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu aktif mengorganisasikan stimulus yang diterimanya lazim disebut sebagai kognitivisme. Salah seorang tokoh kognitivisme dalam bidang linguistik adalah Noam Chomsky. Dalam bidang linguistik memang sudah lama ada anggapan bahwa ada hubungan erat antara bahasa, pikiran, dan pengalaman. Bahasa mempengaruhi cara berpikir kita; dan selanjutnya menentukan medan pengalaman kita. Profesor Leo Weisberger, misalnya, mengemukakan teori "sprachliche Weltanschaunglehre" --yakni, pandangan-- dunia kita sangat ditentukan oleh kebiasaan bahasa kita. Edward Sapir dan Benjamin Whorf menunjukkan bahwa setiap bahasa melihat dunia dengan cara yang unik. Kata-kata merupakan alat untuk mengategorisasikan realitas menurut cara tertentu. Menurut terminologi modern, kata-kata merupakan kategorisasi linguistik tertentu untuk realitas nonlinguistik. Bila Anda tidak memahami kalimat terakhir ini (saya juga tidak), boleh jadi inilah maksudnya. Pikiran kita tidak secara pasif merekam realitas. Pikiran kita memandang realitas dari perspektif tertentu, dari sudut pandang tertentu. Bahasa, dalam hal ini kata-kata, memberikan perspektif itu. Noam Chomsky, yang berpisah dari pandangan kaum behavioris yang dominan waktu itu, memperkuat teori hubungan bahasa dan pikiran ini. Teori generative grammar, yang menyebabkan Chomsky melejit dari rekan-rekannya, mengasumsikan kategori kodrati (innate categories) dalam jiwa manusia. Pengetahuan diperoleh dengan mengaplikasikan kategori kodrati ini dalam pengalaman. Seperti Rene Descartes, Chomsky percaya bahwa manusia telah dibekali kemampuan dasar (a priori qualities) untuk memahami pengalaman. Ia melihat manusia sebagai makhluk rasional. Dalam buku yang Anda pegang, Maling Teriak Maling: Amerika sang Teroris?, Chomsky kelihatan prihatin karena rasionalitas manusia ini telah dikendalikan oleh kekuatan raksasa. Pikiran manusia telah dikontrol melalui penggunaan kata-kata dan pemberian makna tertentu. Marilah kita kembali kepada analogi komputer di atas. Dewasa ini, Anda tidak bebas menentukan filename dan isi tulisan yang Anda masukkan dalam memori Anda. Ada sistem yang mengontrol pikiran Anda. Noam Chomsky menyebutnya "the American Ideological System". Nama arsip dalam memori Anda telah dirancang dengan memproduksi kata atau ungkapan baru yang indah. Chomsky menyebutnya --dengan mengutip istilah George Orwell-- Newspeak. Sejumlah Newspeak telah dibuat untuk membatasi pandangan Anda tentang realitas. Sekarang ini, Anda mempunyai dua dunia: dunia yang sebenarnya dan dunia yang terbentuk dalam pikiran Anda dunia real dan dunia Newspeak. Anda sudah mempunyai kamus yang dikeluarkan oleh Penerbit Adikuasa. Chomsky menulis buku ini agar Anda meninjau kembali (rewrite) kamus itu. Dengan contoh-contoh, yang dapat membuat Anda jengkel dan marah, Chomsky menghimpun sejumlah kata atau ungkapan yang maknanya telah disimpangkan. "Proses perdamaian" berarti "usulan perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat". Usulan-usulan perdamaian, yang dikemukakan oleh negara-negara Arab --apalagi Palestina (betapapun realistisnya)-- dianggap sebagai penolakan. Untuk itu diciptakan kata baru buat usulan yang tidak sama dengan usulan AS --rejeksionisme. Melalui pengendalian makna seperti itu, kita akan bersimpati kepada AS yang selalu bersusah payah menciptakan perdamaian. Pada saat yang sama kita membenci negara-negara Arab yang selalu menolak perdamaian. Bila negara-negara Arab itu menerima posisi AS, mereka disebut "moderat". Bila mereka menolaknya, mereka tentu saja disebut "ekstremis". Tidak heran bila dalam benak Anda sekarang, ketika Anda merujuk kata "ekstremis", Anda akan memasukkan ke dalamnya PLO, Libya, Iran, dan belakangan Irak. Suriah yang it ekstrem" sekarang menjadi "moderat" karena menerima usulan perdamaian James Baker, menlu AS. Khomeini jelas embah-nya "ekstremis" karena tidak segan-segan menyebut AS sebagai Setan Besar. Rafsanjani menjadi "moderat" karena kelihatannya mau mengikuti saran Amerika untuk tidak melibatkan diri dalam Perang Teluk. Kata-kata berikutnya adalah "terorisme". Terorisme pada mulanya berarti tindakan kekerasan-disertai dengan sadismeyang dimaksudkan untuk menakut-nakuti lawan. Dalam Kamus Adikuasa, terorisme adalah tindakan protes yang dilakukan oleh negara-negara atau kelompok-kelompok kecil. Pembunuhan tiga orang Israel di Larnaca adalah terorisme, tetapi penyerbuan sasaran sipil di Tunisia, pembantaian Sabra dan Satila, dan penyiksaan warga Palestina disebut "pembalasan" atau "tindakan mendahului" (preemptive). Erat kaitannya dengan terorisme adalah "sandera". Bila dua atau tiga orang ditangkap karena melakukan tindakan spionase pada kelompok "si pembajak", mereka disebut "sandera". Bila ratusan atau ribuan orang digiring ke kamp-kamp konsentrasi oleh sang Kaisar, mereka disebut "unsur subversif". Bila beberapa orang Palestina mengarahkan pesawat penumpang ke tujuan tertentu, mereka dikatakan melakukan "pembajakan" (hijacking); tetapi bila Angkatan Laut Israel menembaki kapal-kapal kecil milik Muslim Lebanon dan menggiringnya ke pangkalan Israel, mereka sedang melakukan "penangkapan" (interception). Dalam buku ini, Chomsky melaporkan peristiwa-peristiwa "penangkapan" yang dilakukar. AS dan Israel. Ternyata pembajakan lebih sering dilakukan AS dan Israel daripada oleh negara-negara kecil. Belakangan muncul Newspeak baru yang lebih indah, yaitu "tatanan dunia baru" (new world order). Dalam Kamus Adikuasa, rangkaian kata ini berarti sistem ekonomi dan militer dunia yang sepenuhnya tunduk kepada hegemoni AS. Ketika pesawat-pesawat tempur membom Bagdad, menyerang kawasan-kawasan sipil, membunuh lebih dari setengah juta rakyat sipil waktu itu, dan jutaan orang lagi sesudahnya, Amerika sedang menegakkan tatanan dunia baru. Ketika AS memaksakan pembatasan senjata bagi negara-negara Arab dan memasok lebih banyak senjata kepada Ismel, is sedang mengajukan usul perdamaian. Ketikatujuh negara industri berkumpul di London dan menetapkan aturan ekonomi, yang mempercepat pengalihan kekayaan ke negara-negara intlustri maju, mereka sedang menegakkan tatanan ekonomi dunia baru (new world economic order). Setelah Chomsky mengungkapkan penyimpangan-penyimpangan makna ini, bacalah kisah di balik penarikan pasukan Irak. Sejak pra-Perang Teluk, ketika pasukan multinasional mengemban "misi perdamaian", Iran berusaha mencegah perang sebatas kemampuannya. Teheran melakukan kegiatan diplomatis yang intensif untuk mendesakkan gencatan senjata. Teheran mengadakan perundingan dengan Menteri Luar Negeri Aljazair dan Yaman, juga dengan negara-negara nonblok di Belgrade. Sebelumnya, Iran mengirim utusan ke Turki untuk meyakinkan Presiden Turgut Ozal agar tidak mengizinkan. AS menggunakan pangkalan militer Turki. Para pemimpin Iran juga meminta perhatian Sekjen Menlu Perancis, Francois Scheer, tentang dampak yang mengerikan dari perang dan pentingnya segera mengakhiri perang. Mehdi Kerubi, Ketua Majelis Iran, merigusulkan rencana perdamaian yang terdiri atas lima butir. Untuk menyukseskan usulan perdamaian ini, Teheran menjalin hubungan dengan negara-negara OKI, termasuk Tunisia dan Yordania yang pernah mendukung Irak ketika menyerang Iran. Upaya perdamaian Iran ini mencapai puncaknya ketika pada 4 Februari 1991, Rafsanjani menawarkan diri untuk menjadi penengah antara Amerika dan Irak. Duta besar Iran di PBB menjelaskan bahwa Irak harus bersedia menarik pasukannya dari Kuwait sebelum Teheran menghubungi Amerika melalui Swiss. Setelah Irak mengundurkan diri, AS menyusul dengan menarik.pasukan multinasional. Usulan Iran disetujui dan didukung oleh Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar. Uni Soviet juga mendukung rencana perdamaian Iran dan mengirim utusan khusus ke Teheran. Anehnya, atau tidak anehnya, AS menolak usul perdamaian ini. Juru bicara Departemen Pertahanan Amerika menganggap usulan Iran tidak relevan dan hanya retorika. Tidak ada yang perlu ditengahi, katanya. Tetapi, Teheran terus berusaha sehingga datang berita gembira dari Irak. Bagdad mengirim Tariq Aziz ke Teheran dan Moskow, menyatakan kesediaan Irak untuk mematuhi Resolusi PBB 600. Kepada Menlu Burkina Faso, Rafsanjani menyatakan kegembiraannya bahwa "usaha perdamaian itu akhirnya membuahkan hasil". Apa jawaban Amerika dan Inggris? Bush mengatakan kehendak Irak --seperti yang disampaikan melalui Gorbachev dan Rafsanjani-- sebagai "lelucon kejam" (cruel hoax); dan John Major dari Inggris menyebutnya bogus sham. Pasukan multinasional rupanya tidak puas menghajar Irak sebelum menghancurkan seluruh kekuatan militernya. Ketika kemudian Irak betul-betul menarik pasukannya, AS dan sekutunya masih juga menggempur Irak. Apakah ini terorisme? Mrs. Margaret Thatcher menjawabnya dengan pidato panjang di depan Chicago Council on Foreign Relations and the Economic Club of New York (1718 Juni 1991). Ia menyebut Perang Teluk sebagai suatu peristiwa ketika "Prajurit Amerika dan Inggris bahu-membahu menentang tirani dan ketakadilan untuk tujuan bersama yang mulia --menentang dan menghukum agresi." Thatcher menyatakan bahwa satu-satunya dasar yang kukuh bagi tatanan dunia baru adalah solidaritas Barat di bawah kepemimpinan Amerika. Amerika harus berperan "sebagai Atlas yang memikul beban dunia dan bertindak sebagai pemutus terakhir dalam masalah internasional, bukan saja dalam koalisi militer ad hoc, melainkan juga dalam gabungan yang lebih luas, yang meliputi hubungan ekonomi dan perdagangan. Dengan cara inilah, kata Thatcher, dunia dapat dibawa ke "freedom, democracy, and its free market economy". Kata-kata terakhir Thatcher ini adalah Newspeak lainnya yang baru Anda pahami maknanya bila Anda membaca buku ini. Bacalah kembali berita surat kabar hari ini. Lewat Chomsky, dunia tampak lain. Dan, inilah pelajaran terakhir: sistem ideologi Amerika adalah sistem, yang merekayasa kesepakatan dengan menciptakan kata-kata muluk, lalu memberikan maknanya sesuai dengan kehendak sang Adikuasa. Sistem ini boleh jadi terjadi di mana-mana, termasuk di rumah kita sendiri. Bandung, 16 September 1991 ||_______ PENDAHULUAN (1/2) St. Augustinus menuturkan cerita tentang seorang bajak laut yang tertangkap oleh Alexander Agung. Kemudian, menurut St. Augustinus, terjadilah dialog seperti berikut ini: "Mengapa kamu berani mengacau lautan?" tanya Alexander Agung. "Mengapa kamu berani mengacau seluruh dunia?" jawab si pembajak, "Karena aku melakukannya hanya dengan sebuah perahu kecil, aku disebut maling; kalian, karena melakukannya dengan kapal besar, disebut kaisar". Jawaban pembajak itu, "Sangat bagus dan jitu," ujar St. Augustinus. Kisah di atas menggambarkan dengan cukup akurat hubungan antara Amerika Serikat dan berbagai aktor kecil di panggung terorisme internasional dewasa ini: Libya, faksi-faksi PLO, dan lain-lain. Lebih luas lagi, cerita St. Augustinus mengungkapkan makna konsep terorisme internasional dalam penggunaannya di Barat dewasa ini, dan menyentuh inti-kebiadaban menyangkut peristiwa-peristiwa terorisme tertentu yang hari-hari ini --dirancang dengan sinisme yang paling kasar-- sebagai selimut untuk menutupi kekerasan Barat. Istilah "terorisme" mulai digunakan pada akhir abad ke-18, terutama untuk menunjuk aksi-aksi kekerasan pemerintah yang dimaksudkan untuk menjamin ketaatan rakyat. Konsep ini, pendeknya, cukup menguntungkan bagi para pelaku terorisme negara yang, karena memegang kekuasaan, berada dalam posisi mengontrol sistem pikiran dan perasaan. Dengan demikian, arti aslinya terlupakan, dan istilah "terorisme" lalu diterapkan terutama untuk "terorisme pembalasan" oleh individu atau kelompok-kelompok.1 Walaupun istilah ini pernah diterapkan kepada para kaisar yang menindas rakyat mereka sendiri dan dunia, sekarang pemakaiannya dibatasi hanya untuk pengacau-pengacau yang mengusik pihak yang kuat. Dengan membebaskan diri kita dari sistem indoktrinasi itu, kita akan menggunakan istilah "terorisme" untuk menunjuk ancaman atau penggunaan kekerasan untuk menindas atau memaksa (biasanya buat tujuan-tujuan politik), entah itu terorisme besar-besaran oleh sang Kaisar ataupun terorisme pembalasan oleh si pembajak. Pengibaratan pembajak tersebut hanya menjelaskan sebagian dari konsep "terorisme internasional" yang muncul dewasa ini. Perlulah ditambahkan ciri kedua: sebuah tindakan terorisme masuk dalam kitab undang-undang hanya jika ia dilakukan oleh "pihak mereka", bukan kita. Lihatlah, misalnya, kampanye humas (Public Relations) tentang "terorisme internasional" yang dilancarkan pada awal 1981 oleh pemerintah Reagan. Teks utamanya adalah sebuah buku karangan Claire Sterling,2 yang menyajikan bukti cerdas bahwa terorisme internasional merupakan alat yang "ditunjang Soviet, yang bertujuan menggoyahkan masyarakat demokratis Barat". Pendapat ini sangat mengesankan para pengamat terorisme lainnya, khususnya Walter Laqueur, yang menulis bahwa Sterling telah mengungkapkan "bukti luas" bahwa terorisme "hampir hanya terjadi di negara-negara demokratis atau relatif demokratis."3 Tesis Sterling itu benar, sungguh-sungguh benar per definisi, karena berarti memberi jalan bagi istilah "terorisme" yang ditetapkan oleh sang Kaisar dan para sobat karibnya. Karena, hanya aksi-aksi yang dilakukan oleh "pihak mereka", yang dianggap sebagai terorisme, Sterling niscaya benar, apa pun kenyataannya. Dalam dunia nyata, ceritanya sangat lain. Korban-korban utama, terorisme internasional4 pada beberapa dasawarsa yang lalu adalah rakyat Kuba, Amerika Tengah, dan penduduk Lebanon. Namun, menurut definisinya, tak satu pun di antara mereka yang masuk hitungan. Ketika Israel membom kamp-kamp pengungsi Palestina dengan menewaskan banyak penduduk sipil --bahkan sering tanpa maksud mengadakan "Pembalasan"-- atau mengirim pasukannya ke desa-desa Lebanon untuk operasi "kontrateror" di mana mereka membunuh dan mengobrak-abrik, atau membajak kapal dan tempat berisi ratusan sandera di kamp-kamp tahanan yang kondisinya menyeramkan, itu bukan "terorisme" malahan, satu-dua pemrotes dikutuk habis-habisan oleh para penganut Garis Partai* yang loyal karena "anti-Semitisme" dan "standar ganda" mereka, yang diperlihatkan oleh kealpaan mereka untuk bergabung dalam koor-pujian bagi "negeri yang menghargai kehidupan manusia,"5 yang "tujuan moral luhurnya"6 menjadi sasaran pujian dan kekaguman yang tak henti-hentinya; sebuah negeri yang, menurut para pengunjung Amerikanya," dijalankan berdasarkan hukum yang luhur sebagaimana ditafsirkan untuknya oleh para wartawan" (Walter Goodman)7 Demikian pula, bukanlah terorisme ketika pasukan-pasukan paramiliter yang bergerak dari pangkalan-pangkalan AS dan dilatih oleh CIA membombardemen hotel-hotel Kuba, menenggelamkan kapal-kapal penangkap ikan dan menyerang kapal-kapal Rusia di pelabuhan-pelabuhan Kuba, meracun hasil panen dan lumbung pangan, mencoba membunuh Castro, dan seterusnya, dalam misi-misinya yang pada puncaknya berlangsung hampir setiap minggu.8 Aksi-aksi ini dan segudang perbuatan serupa oleh pihak Kaisar beserta para anak-buahnya, tidak menjadi bahan konferensi. dan buku pelajaran yang tebal-tebal itu, atau ihwal bagi komentar getir dan kecaman tajam di media dan jurnal jurnal opini. Standar-standar bagi sang Kaisar dan istananya itu unik dalam dua hal yang berkait erat. Pertama, aksi-aksi teror mereka dikeluarkan dari kitab undang-undang seperti sudah disebut; kedua, sementara serangan-serangan teroris terhadap mereka ditanggapi dengan keseriusan yang sangat berlebihan-bahkan sampai memerlukan kekerasan untuk "membela-diri terhadap serangan di masa depan" seperti akan kita lihat --serangan-serangan teroris yang sebanding atau lebih serius terhadap pihak lain tidak patut dibalas atau ditindak lebih dulu; seandainya mereka melakukan respons semacam itu, pastilah berkobar kemarahan histeris tanpa henti di sini (Amerika). Sesungguhnya, arti serangan-serang4n teroris semacam itu sangatlah remeh sehingga hampir tak perlu dilaporkan, dan jelas tak perlu diingat. Bayangkanlah, misalnya, pasukan laut Libya menyerang tiga kapal Amerika di Pelabuhan Haifa Israel, menenggelamkan sebuah diantaranya dan merusakkan yang lain, dengan menggunakan rudal-rudal buatan Jerman Timur. Saya tak memerlukan komentar tentang bagaimana reaksi yang akan muncul. Kembali ke dunia nyata, "pada tanggal 5 Juni (1986)," begitu laporan pers Inggris, "pasukan laut Afrika Selatan menyerang tiga kapal Rusia di pelabuhan Angola selatan Namibia, menenggelamkan sebuah di antaranya," dengan menggunakan "rudal-rudal Scorpion (Gabriel) buatan Israel."9 Seandainya Uni Soviet menanggapi serangan teroris terhadap kapal dagang ini sebagaimana telah dilakukan AS dalam situasi-situasi serupa --mungkin dengan menghujani bom yang niscaya menghancurkan Johannesburg, yang skala aksi-responsnya lumrah bagi "pembalasan" AS dan Israel-- Amerika sangat mungkin mempertimbangkan suatu gempuran nuklir sebagai "pembalasan" yang sah terhadap si setan Komunis. Di dunia nyata, sekali lagi, Uni Soviet tak menanggapi, dan peristiwanya dianggap sedemikian sepele sehingga hampir tak disebut dalam pers Amerika.10 Bayangkanlah Kuba menyerbu Venezuela pada akhir 1976 dalam rangka membela diri terhadap serangan teroris, berniat membangun sebuah "Orde Baru" di sana dengan menghimpun unsur-unsur yang berada di bawah kontrolnya, menewaskan 200 orang Amerika pendukung suatu sistem pertahanan udara, memberondong Kedutaan AS di Caracas, dan akhirnya menduduki Kedutaan beberapa hari selama penjarahannya atas Caracas, dengan melanggar perjanjian gencatan senjata.11 Bakal seperti apakah respons AS? Pertanyaan ini akademis sebab sedikit saja terdapat tanda bahwa ada seorang serdadu Kuba di dekat Venezuela, kemungkinan besar serangan nuklir sudah menghajar Havana. Kembali lagi ke dunia nyata, pada 1982 Israel menyerang Lebanon dengan dalih (sepenuhnya dibuat-buat) melindungi Galilee terhadap serangan teroris, dan berniat membangun "Orde Baru" di sana dengan mengorganisasikan unsur-unsur yang berada di bawah kontrolnya, membunuh 200 orang Rusia pendukung sistem pertahanan udara (Syria), menembaki habis Kedutaan Rusia di Beirut dan akhirnya menduduki Kedutaan dua hari selama penjarahannya atas Beirut Barat, dengan melanggar perjanjian gencatan senjata.12 Fakta-fakta ini dilaporkan sepintas di sini (Amerika), dengan konteks dan latar belakang penting yang diabaikan atau disangkal (seperti akan kita lihat). Untunglah, tidak ada tanggapan Soviet. Kalau ada, tentulah sekarang kita tak berada di sini untuk membahas ihwalnya. Dalam dunia nyata, kita menerima sebagai hal yang wajar bahwa Uni Soviet dan musuh-musuh resmi lainnya yang kebanyakan lemah --bersikap tenang dalam menanggung provokasi dan kekerasan yang bakal menyulut reaksi garang, secara verbal dan militer, seandainya sang Kaisar beserta istananya yang menjadi korban. Catatan kaki: * Istilah yang lazim di negara-negara totaliter, untuk menunjuk pada ideolog partai (tunggal) yang berkuasa, Garis Partai adalah sesuatu yang mutlak dipatuhi. oleh pejabat negara dan masyarakat luas. Sudah tentu di sini pengarang menggunakannya dalam pengertian sarkatis, untuk menyindir bahwa Amerika Serikat atau Israel --yang terkenal sebagai negara-negara demokratis liberal-- pada dasarnya sama saja dengan negara-negara totaliter, setidaknya dalam hal-hal tertentu. --penerj. 1 "Origins and Fundamental Causes of International Terroriam", Sekretariat PBB, dimuat dalam M. Cherif Bassiouni (ed.), International Terrorism and Political Crimes (Charles Thomas, 1975). 2 The Terror Network (Holt, Rinehart & Winston, 1981). 3 Untuk rujukan dan pembahasan, lihat buku saya, Towards a New Cold War (Pantheon, 1982, 47 dst.; selanjutnya disebut TNCW), dalam bab saya dalam Chomsky Jonathan Steele, dan John Gittings, Superpowers in Collision (Penguin, 1982, edisi revisi, 1984). Untuk pembahasan luas dan dokumentasi mengenai topik ini, lihat Edward S. Herman, The Real Terror Network (South End, 1982). 4 Di sini saya tak memasukkan agresi langsung, seperti dalam kasus serangan AS terhadap Vietnam Selatan, kemudian seluruh Indocina; invasi Soviet ke Afghanistan; serangan yang didukung AS ke Lebanon oleh klien Israelnya dan lain-lain. 5 Washington Post, 30 Juni 1985. 6 Time, 11 Oktober, 1982. 7 New York Times, 7 Februari 1984. 8 Lihat rujukan-rujukan pada catatan kaki nomor 3 di atas. 9 Economist, 14 Juni; Victoria Brittain, Guardian (London), 6 Juni; Anthony Robinson, Financial Times, 7 Juni 1986, dari Johanesburg. Laporan ini juga diajarkan oleh Kantor Berita BBC. Kapal yang tenggelam ini tampaknya milik Kuba. Lihat juga Israeli Foreign Affairs, Juli 1986. 10 Sama sekali tak disebut dalam New York Times, Wall Street Journal, Christian Science Monitor, majalah-majalah mingguan, dan jurnal lain yang tercantum dalam indeks majalah. Washington Post memuat berita 120 kata dari Moskow pada 8 Juni, h. 17, yang melaporkan kutukan Soviet atas serangan Afrika Selatan ini. 11 Untuk latar belakang, pada Oktober 1976 sebuah pesawat penumpang Kuba hancur dibom ketika sedang terbang, menewaskan 73 orang termasuk seluruh tim anggar Kuba peraih medali emas Olimpiade (ingatlah "Pembantaian Munich", salah satu puncak terorisme Palestina). Aksi teror ini dihubungkan dengan Orlando Bosch, agaknya tokoh paling kondang dalam terorisme internasional, yang telah dilatih oleh CIA bersama rekan-rekannya dalam urusan perang teror melawan Kuba, dan "punya hubungan intim (dan mendapat bayaran dari) polisi rahasia Chile dan Venezuela", yang juga, "dididik oleh CIA dan menjalin hubungan akrab dengannya sampai sekarang" (Herman, Real Terror Network, 63). 12 Tentang invasi Israel ke Lebanon, lihat Bab Kedua dan rujukan-rujukan yang dikutip. Angka sekitar 200 orang Rusia yang tewas "ketika sedang beroperasi di daerah pasukan pertahanan udara Syria" selama serangan Israel (yang tak beralasan dan tak terduga) atas pasukan Syria di Lebanon (yang sudah menandatangan perjanjian dengan AS dan Israel, dan disepakati untuk menyelesaikan kehadiran enam tahunnya sejak musim panas itu --mungkin inilah salah satu alasan serangan Israel tersebut), diungkapkan oleh Aviation Week & Apace Technology, 12 Desember 1983. Tentang peristiwa-peristiwa ini, lihat buku saya, Fateful Triangle (South End, 1983; selanjutnya disebut FT). ||_______ PENDAHULUAN (2/2) Kemunafikan-membuta yang digambarkan oleh kasus-kasus ini dan segudang peristiwa lainnya, sebagian di antaranya akan dibahas nanti, tidaklah terbatas hanya dalam soal terorisme internasional. Untuk menyebut sebuah kasus yang lain, lihatlah perjanjian-perjanjian Perang Dunia II yang menyerahkan kontrol atas bagian-bagian Eropa dan Asia kepada kekuatan-kekuatan Sekutu, dan menetapkan penarikan pasukan mereka pada waktu yang sudah ditentukan. Muncullah kemarahan besar (betul-betul murka) atas tindakan-tindakan Soviet di Eropa Timur yang polanya sama dengan apa yang telah dilakukan oleh AS di daerah-daerah masa-perang. (Italia, Yunani, Korea Selatan, dan lain-lain); dan atas keterlambatan penarikan pasukan Soviet dari Iran Utara, sementara AS melanggar perjanjian-perjanjian masa-perangnya untuk mundur dari Portugal, Islandia, Irlandia, dan lain-lain, dengan alasan bahwa "pertimbangan-pertimbangan militer" membuat pengunduran itu "tak bijaksana", tandas Kepala Staf Gabungan dengan persetujuan Departemen Luar Negeri. Sampai hari ini tak ada yang marah atas kenyataan bahwa operasi-operasi spionase Jerman Barat, yang dibidikkan ke Uni Soviet, ditempatkan di bawah kontrol Reinhard Gehlen, yang merancang operasi-operasi serupa untuk Nazi di Eropa Timur, atau bahwa CIA telah mengirim agen-agen dan perlengkapan untuk membantu tentara dukungan Hitler yang sedang bertempur di Eropa Timur dan Ukraina sejak awal 1950-an, sebagai bagian dari "strategi melingkar" yang disusun resmi dalam (Dewan Keamanan Nasional) NSC-68 (April 1950).13 Sokongan Soviet kepada tentara dukungan Hitler yang sedang bertempur di Rocky pada 1952 sangat mungkin menimbulkan reaksi lain. Contohnya banyak sekali. Mungkin yang paling kelewatan adalah contoh yang sering digunakan sebagai bukti-kukuh bahwa kaum Komunis memang tidak dapat dipercaya untuk mentaati perjanjian: Perjanjian Perdamaian Paris 1973 mengenai Vietnam dan apa yang terjadi sesudahnya. Padahal, AS-lah yang saat itu juga mengumumkan bahwa ia akan menolak setiap butir dari secarik kertas yang telah terpaksa ia tandatangani, dan terus bersikap ogah-ogahan, sementara media massa --seraya memperlihatkan pembudakan yang melampui norma-- menerima versi AS. tentang perjanjian itu (yang melanggar semua unsur pokoknya) sebagai teks yang berlaku sehingga pelanggaran-pelanggaran AS itu "sesuai" dengan Perjanjian, sementara reaksi Komunis terhadap pelanggaran-pelanggaran ini membuktikan watak-dasar pengkhianat mereka. Contoh ini sekarang sering dikemukakan sebagai pembenaran bagi penolakan AS untuk merundingkan penanganan politik di Amerika Tengah --menunjukkan kemujaraban sebuah sistem propaganda yang berjalan baik.14 Seperti sudah disebutkan, "terorisme internasional" (dalam pengertian khas Barat) ditempatkan dalam fokus sentral perhatian oleh Pemerintahan Reagan begitu ia menjabat pada 1981.15 Alasana-lasannya tak sukar untuk dillhat, walaupun itu tetap tak terkatakan dalam sistem doktrinalnya. Pemerintahan Reagan memancang tiga kebijakan saling terkait, yang semuanya tercapai dengan sangat berhasil (1) mengalihkan sumber-sumber daya dari kelompok miskin ke golongan kaya; (2) peningkatan masif dalam sektor ekonomi negara dengan cara tradisional Amerika, melalui sistem Pentagon, yaitu menyiasati agar rakyat membiayai industri teknologi tinggi dengan cara memberikan jaminan negara bagi pemasaran produk teknologi tinggi yang boros dan dengan demikian menunjang program subsidi rakyat, dan menguntungkan swasta, yang disebut "perdagangan bebas"; dan (3) peningkatan substansial dalam intervensi AS, subversi, dan terorisme internasional (dalam pengertian sejati ungkapan ini). Kebijakan-kebijakan semacam ini tak dapat disajikan kepada publik dalam keadaan yang memang memperlihatkan dengan jelas tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Kebijakan-kebijakan ini dapat ditetapkan hanya jika khalayak umum merasa cukup tertekan oleh monster-monster yang terhadap mereka kita harus mempertahankan diri. Siasat standarnya adalah imbauan tentang bahaya yang disebut oleh Presiden sebagai "persekongkolan zalim dan monolitis yang mau menaklukkan dunia --dalam hal ini Presiden Kennedy pernah melancarkan program yang agak mirip16 dengan ide "Kerajaan Setan"-nya Reagan. Tetapi, berseteru dengan Kerajaan Setan bisa gawat. Jauh lebih amanlah bertempur dengan musuh-musuh lemah yang didudukkan sebagai wakil-wakil Kerajaan Setan, sebuah pilihan yang cocok benar dengan butir ketiga dalam agenda Reagan, yang diupayakan dengan alasan-alasan yang sama sekali tak bersangkut-paut: untuk menjamin "stabilitas" dan "ketertiban" di lingkungan global kita. "Terorisme" oleh para pembajak yang dipilih dengan seksama, atau oleh musuh-musuh seperti para petani Nikaragua atau San Salvador yang berani mempertahankan diri dari serangan teroris kita, merupakan sasaran yang empuk; dan dengan sistem propaganda yang berjalan sangat baik, ia dapat dimanfaatkan untuk menanamkan rasa takut yang pas dan semangat mobilisasi di kalangan penduduk dalam negeri. Dalam konteks inilah "terorisme internasional" itu menggantikan hak-hak asasi sebagai "ruh kebijakan luar negeri kita" pada 1980-an; hak-hak asasi yang telah mencapai kedudukan mulia ini kini menjadi bagian dari kampanye untuk membalik perbaikan hebat dalam iklim moral dan intelektual selama 1960-an yang disebut "sindrom Vietnam", dan untuk menanggulangi "krisis demokrasi" menakutkan yang muncul dalam konteks sama, berupa aktifnya bagian-bagian besar penduduk awam berorganisasi untuk melakukan aksi politik, yang berarti mengancam sistem pengambilan keputusan elitis dan menuntut lebih besar partisipasi rakyat, yang disebut "demokrasi" dalam Newspeak* Barat.17 Dalam ulasan-ulasan berikut, saya akan membahas terorisme internasional di dunia nyata, dengan memusatkan perhatian terutama pada kawasan Mediterania (Laut Tengah). "Terorisme Timur Tengah/Mediterania" dipilih sebagai berita utama oleh para redaktur dan penyiar --khususnya di Amerika-- menurut pengumpulan pendapat yang dilakukan oleh Associated Press; poll ini dilakukan sebelum terjadinya serangan-serangan teroris di Roma dan Wina pada bulan Desember, yang agaknya telah mengikis keraguan-keraguan yang masih tersisa.18 Pada bulan-bulan pertama 1986, keprihatinan terhadap terorisme Timur Tengah/Mediterania mencapai puncaknya, yang berkulminasi dengan pemboman Amerika atas Libya pada April. Berita resmi menyatakan bahwa aksi penghukuman tanpa ampun yang ditujukan kepada pelaku utama terorisme internasional ini berhasil mencapai sasarannya. Qaddafi dan penjahat-penjahat besar lainnya sekarang tersuruk di bunker mereka, mengalah demi pembelaan mulia atas hak asasi dan martabat. Namun, di tengah kemenangan besar atas pasukan-pasukan gelap ini, isu terorisme memancar dari Dunia Islam, dan tanggapan yang selayaknya diberikan demi negara-negara demokrasi yang membela nila-nilai luhur tetap menjadi topik keprihatinan dan perdebatan utama, seperti tercermin dalam sejumlah besar buku, konferensi, artikel dan editorial, komentar televisi, dan sebagainya. Sejauh khalayak umum ataupun elite yang dapat dijangkau, pembahasannya semata-mata menyangkut prinsip-prinsip yang telah dikemukakan: perhatian hanya dibatasi pada terorisme yang dilakukan si maling, bukan sang Kaisar dan para anak buahnya; pada Mereka, bukan Kita. Maka, saya tak akan mengulas adat yang sudah lumrah ini. Bab Pertama disediakan bagi kerangka konseptual yang didalamnya masalah-masalah ini dan isu-isu-terkait terdapat dalam sistem doktrinal yang sedang berlaku. Bab Kedua menyajikan sebuah contoh --hanya sebuah contoh tentang terorisme Timur Tengah di dunia nyata, bersama dengan pembicaraan mengenai gaya apologetik yang dipakai untuk menjamin bahwa ia melaju tanpa hambatan. Dalam Bab Ketiga, saya akan menoleh ke peranan yang dimainkan oleh Libya dalam sistem doktrinal ini. Bagian-bagian yang termuat di Bab Pertama sudah terbit dalam Utne Reader, edisi Februari-Maret 1986, Index on Censorship (London, Juli 1986), dan Il Manifesto (Roma, 30 Januari 1986). Ikhtisar-ikhtisar dari Bab Kedua terbit dalam Race & Class (London, Musim Panas, 1986), dan versi lainnya akan dimuat dalam Michael Sprinker (editor), Negations: Spurious Scholarship and the Palestinian Question (London, Verso, 1987). Bab Ketiga merupakan penyempurnaan dan perluasan sebuah artikel yang terbit dengan judul sama dalam Covert Action Information Bulletin, edisi Musim Panas 1986. Versi pendahuluan artikel-artikel ini dimuat dalam New Statesman (London), ENDpapers (Nottingham), El Pais (Madrid), dan diterbitkan juga di Italia, Meksiko, Uruguay, dan negara-negara lain. Bagian-bagian dari Bab Kedua dan Ketiga juga termuat dalam makalah saya, "International Terrorism: Image and Reality", yang pernah disajikan di Konferensi Frankfurt tentang Terorisme Internasional, pada April 1986, dan akan diterbitkan dalam laporan konferensi, Heinz Dietrich (editor), Penerbit Zed Press, London.[] Catatan kaki: * Ungkapan ini berasal dari Newspeak, yang terjemahan-bebasnya, kira-kira, "omongan gaya baru", adalah istilah yang digunakan oleh George Orwell dalam buku masyhurnya, 1984, untuk menunjuk pada manipulasi terhadap pengertian yang lazim atas suatu kata/istilah oleh pemerintahan totaliter, guna menyesatkan kesadaran rakyat akan kenyataan yang dimaksud oleh kata/istilah tersebut. Lebih daripada sekadar eufimisme, Newspeak dapat menjungkirbalikkan pemahaman lazim masyarakat atas kenyataan yang ditunjuk oleh kata/istilah tersebut. --penerj. 13 Mengenai dunia nyata (the real world), lihat Gabriel Kolko, Politics of War (Random House, 1968), sebuah buku klasik dan masih belum tertandingi, walaupun banyak karya bagus yang terbit setelahnya; TNCW; dan karya saya, Turning the Tide (South End, 1985; selanjutnya disebut TTT), dan sumber-sumber yang dikutip; dan Melvyn Leffler, Adherence to Agreements: Yalta and the Experiences of the Early Cold War," International Security, Musim Panas 1986. Leffler menyimpulkan bahwa, "Sesungguhnya pola ketaatan Soviet (pada Perjanjian Yalta, Postdown, dan perjanjian masa perang lainnya) tidak berbeda kualitasnya dengan pola Amerika". Haruslah dicatat bahwa di Yunani dan Korea Selatan, pada 1940-an, AS melancarkan operasi-operasi pembantaian massal sebagai bagian dari program besar-besaran penghancuran pertahanan anti-fasis, kerap ditujukan kepada para kolaborator Nazi dan Jepang; lihat TTT, Bab 4.4. 14 Lihat TNCW, Bab 3, dan Pengantar saya untuk Morris Morley dan James Petras, The Reagan Adrniniatration and Nicaragua (Pamphlet Series, Institute for Media Analysis, New York), akan terbit. 15 Landasannya sudah diletakkan di Amerika Serikat dan dalam serangkaian konferensi untuk para ahli terorologi masa depan yang diselenggarakan oleh Israel, yang berminat sangat besar dengan operasi propaganda ini. Berkomentar mengenai konferensi kedua tentang terorisme yang diselenggarakan oleh Israel di Washington, Wolf Blitzer mencatat bahwa pemusatan perhatian terhadap terorisme Arab dan antusiasme yang diperlihatkan oleh sejumlah pembicara ternama untuk agresi dan terorisme Israel (khususnya, untuk invasinya ke Lebanon, pada 1982), memberikan "suatu sokongan yang amat besar kepada kampanye Hasbara Israel sendiri di Amerika Serikat, seperti diakui oleh semua orang yang terlibat" (Wolf Blitzer, Jerusalem Post, 29 Juni 1984); kata "hasbara", yang arti harfiahnya "penjelasan", merupakan istilah standar bagi propaganda Israel, mengungkapkan asumsi bahwa karena posisi Israel sudah pasti benar tentang semua masalah, ia hanya perlu "menjelaskan", tak perlu membuat apapun yang tingkatannya sekasar propaganda. Untuk pembicaraan lebih jauh tentang penilaian-penilaian yang dikemukakan dalam konferensi ini, lihat Bab Ketiga, catatan kaki nomor 20. 16 Program Kennedy hanya menyangkut butir kedua dan ketiga dalam agenda Reagan; butir pertama, yang dijalankan dengan dukungan para anggota Kongres dari Partai Demokrat dengan melanggar langsung kehendak rakyat, mencerminkan kemerosotan dalam kekuasaan relatif pada tahun-tahun penyelangnya. Kini tak lagi perlu untuk mcngupayakan, dalam kata-kata penasehat Kennedy, Walter Heller, "masyarakat-masyarakat hebat di dalam negeri dan tujuan-tujuan besar di luar negeri", maka rancangan lama ini harus dihapus. Mengenai sikap-sikap publik, lihat TTT, Bab 5, dan Thomas Ferguson dan Joel Rogers, Atlantic Monthly, Mei 1986. Tentang hubungan program Reagan dengan rancangan di masa-masa akhir pemerintahan Carter, yang diperluas di masa Reagan, lihat TNCW, Bab 7, dan TTT, Bab 4, 5. Lihat juga Joshua Cohen dan Joel Rogers, Inequity and Intervention (South End, 1986). 17 Tentang masalah-masalah ini, lihat TNCW, terutama Bab 1, 2. Program hak-hak asasi manusia, yang banyak diprakarsai oleh Kongres dan mencerminkan perubahan dalam kesadaran rakyat, bukan tanpa manfaat walaupun banyak dieksploitasi untuk tujuan-tujuan propaganda dan diterapkan secara hipokrit, yang secara konsisten mengabaikan kejahatan oleh negara-negara klien. Ini jelas berlawanan dengan garis standar. Untuk fakta-fakta dalam masalah ini, lihat Chomsky dan Edward S. Herman, Political Economy of Human Rights (South End, 1979), khususnya jilid I. 18 World Press Review, Februari 1986. ||_______ Pengendalian Pikiran: Kasus Timur Tengah (1/2) Dari perspektif perbandingan, Amerika Serikat adalah negeri yang luar biasa, kalaulah bukan unik, dalam hal tidak adanya pembatasan-pembatasan untuk kebebasan berekspresi. Ia juga luar biasa dalam rentangan dan keefektifan metode-metode yang digunakan untuk membatasi kebebasan berpikir. Kedua fenomena ini saling terkait. Para teoretikus demokrasi liberal sudah lama menyatakan bahwa dalam suatu masyarakat yang suara rakyatnya didengar, kelompok-kelompok elite harus yakin bahwa suara-suara itu mengungkapkan hal-hal yang benar. Semakin kecil kemampuan negara untuk menerapkan kekerasan dalam mempertahankan kepentingan kelompok-kelompok elite yang secara efektif mendominasinya, semakin ia membutuhkan pemikiran untuk menemukan --dalam kata-kata Walter Lippmann lebih dari enam puluhan tahun silam-- teknik-teknik "pengolahan persetujuan" ("manufacture of consent"),1 atau --menurut ungkapan yang lebih disukai Edward Bernays, salah seorang bapak pendiri Industri Public Relations Amerika-- "rekayasa persetujuan" ("engineering of consent"). Pada 1933, Harold Lasswell menulis dalam Encyclopaedia of the Social Sciences bahwa kita tidak boleh mengalah pada "dogmatisme-dogmatisme demokrasi bahwa penilaian terbaik terhadap manusia adalah berdasarkan kepentingan-kepentingan mereka sendiri". Kita harus mencari jalan untuk menjamin dukungan mereka terhadap keputusan-keputusan yang dibuat oleh para pemimpin mereka yang berpandangan jauh, sebuah pelajaran yang lama sebelumnya sudah disimak oleh para elite dominan; dalam hal ini, kebangkitan industri Public Relations (PR) merupakan contoh yang sangat baik. Dalam hal kepatuhan dijamin oleh kekerasan, para penguasa cenderung menganut konsepsi "behavioris": cukuplah kalau rakyat sudah patuh; apa yang mereka pikirkan tak terlalu jadi masalah. Jika negara kurang memiliki alat-alat pemaksa, pentinglah mengontrol pula apa yang dipikirkan oleh rakyat. Sikap ini lazim di kalangan intelektual yang berdiri di sepanjang spektrum politik, dan biasanya dipertahankan kalau mereka bergeser keluar dari spektrum ini jika keadaan mengharuskan. Sebuah versinya diungkapkan oleh komentator politik dan moralis yang sangat terpandang, Reinhold Niebuhr, ketika dia menulis pada 1932 waktu itu dari perspektif Kristen kiri --bahwa karena "kebodohan rata-rata manusia", merupakan tanggung jawab "para pengamat yang dingin" untuk memberikan "ilusi yang perlu" yang menyajikan keyakinan yang harus ditanamkan dalam pikiran orang-orang yang kurang beruntung ini.2 Doktrin ini lumrah pula dalam versi Leninisnya, sebagaimana dalam ilmu sosial Amerika dan komentar liberal pada umumnya. Lihatlah pemboman atas Libya pada April 1986. Kita membaca tanpa kaget bahwa itu merupakan suatu keberhasilan humas (PR) di Amerika Serikat. Ia "diterima baik di Peoria"* dan "dampak politik positifnya" tentu "memperkuat tangan Reagan dalam berhadapan dengan Kongres mengenai masalah-masalah seperti anggaran militer dan bantuan-bantuan untuk kaum 'Contra' Nikaragua". "Jenis kampanye pendidikan rakyat ini merupakan hakikat keahlian kenegaraan," kata Dr. Everett Ladd, pakar spesialis opini publik, yang menambahkan bahwa seorang presiden "harus melakukan upaya merekayasa persetujuan demokratis"; Ladd menggunakan semangat Orwellisme yang lazim dalam Public Relations dan lingkungan akademik untuk menunjuk metode-metode guna menggerogoti partisipasi demokratis yang sejati dalam mewarnai kebijakan publik.3 Problem "rekayasa persetujuan demokratis" ("engineering democratic consent") muncul dalam bentuk yang amat tajam jika kebijakan negara tak dapat dipertahankan, dan menjadi serius tergantung tingkat keseriusan masalah-masalahnya. Tak ada keraguan tentang keseriusan masalah-masalah yang muncul di Timur Tengah, khususnya konflik Arab-Israel, yang lazimnya --dan masuk akal-- dianggap sebagai "kotak mesiu" (tinder box) yang akan memicu perang nuklir jika konflik regional ini menyentuh negara-negara adidaya, sesuatu yang telah terjadi dengan jelas di masa lalu dan akan terus demikian di masa depan. Lebih jauh, kebijakan AS telah nyata-nyata menyumbang untuk pelestarian situasi konfrontasi militer, dan didasarkan pada asumsi-asumsi rasis terselubung yang tidak akan ditoleransi seandainya dinyatakan secara terbuka. Terdapat pula perbedaan mencolok antara sikap-sikap masyarakat, yang umumnya mendukung pembentukan negara Palestina kalau persoalan ini ditanyakan dalam pengumpulan-pengumpulan pendapat, dan kebijakan negara, yang terang-terangan menghalangi pilihan ini, walaupun perbedaan ini hanya berlangsung sejenak selama unsur-unsur masyarakat yang berani bicara dan aktif secara politik menjaga disiplin yang memadai. Untuk memastikan hasil ini, perlulah dilakukan apa yang disebut para sejarahwan Amerika sebagai "rekayasa sejarah" (historical engineering), ketika mereka meminjamkan keahlian kepada Pemerintahan Wilson selama Perang Dunia I dalam salah satu pelaksanaan-pelaksanaan awal "pengolahan persetujuan" yang terencana. Ada pelbagai cara bagi tercapainya hasil ini. Salah satu metodenya adalah menyiasati suatu pola Newspeak yang pas, yang di dalamnya istilah-istilah penting yang mengandung suatu arti teknis dipisahkan dari makna lazimnya. Lihatlah, umpamanya, istilah "proses perdamaian". Dalam pengertian teknisnya, sebagaimana digunakan dalam media Massa dan wacana ilmiah pada umumnya di Amerika Serikat, ia menunjuk pada usulan-usulan perdamaian yang diajukan oleh pemerintah AS. Maka, benarlah menurut definisinya bahwa Amerika Serikat committed terhadap perdamaian, suatu konsekuensi yang bagus. Orang-orang yang berpikir lurus berharap supaya Yordania mau bergabung dalam proses perdamaian ini; yaitu mau menerima keharusan-keharusan yang ditekankan AS. Pertanyaan besarnya adalah apakah PLO akan setuju bergabung dalam proses perdamaian ini, atau dapatkah haknya dijamin untuk ikut dalam acara besar ini. Judul ulasan Bernard Gwertzman tentang "proses perdamaian" di New York Times berbunyi: "Are the Palestinians Ready to Seek Peace?"4 ("Apakah Bangsa Palestina Siap Mengadakan Perdamaian?"). Dalam arti normal kata "perdamaian", jawabannya tentu saja "Ya". Setiap orang menginginkan perdamaian, menurut syarat-syarat mereka sendiri; Hitler, misalnya, jelas menginginkan perdamaian pada 1939, menurut syarat-syaratnya sendiri. Tetapi, dalam sistem pengendalian pikiran, pertanyaannya jadi lain: apakah bangsa Palestina siap menerima syarat-syarat AS untuk perdamaian? Syarat-syarat ini dipatri untuk menghapus hak menentukan nasib bangsa sendiri, namun ketakmauan menerima konsekuensi ini menunjukkan bahwa bangsa Palestina tidak menginginkan perdamaian, sebagaimana dirumuskan dalam Newspeak konvensional. Penting dicatat bahwa bagi Gwertzmann tidaklah perlu bertanya apakah Amerika Serikat atau Israel "siap mengupayakan perdamaian". Bagi AS, ini adalah benar per definisi, dan konvensi-konvensi dalam apa yang dinamakan "jurnalisme yang bertanggung jawab" (Orwellisme juga) mencakup bahwa hal yang sama niscaya benar bagi sebuah negara klien yang berkelakuan balk. Gwertzmann lebih lanjut menegaskan bahwa PLO selalu menolak "setiap pembicaraan untuk merundingkan perdamaian dengan Israel". Ini salah, tetapi benar dalam dunia "ilusi yang perlu" rumusan Newspaper of Record yang --bersama dengan jurnal-jurnal bertanggung jawab lainnya-- telah memberedel fakta-fakta yang relevan dan mengubur mereka ke dalam liang memori Orwell yang bermanfaat. Sudah tentu ada usulan-usulan perdamaian Arab, termasuk usulan-usulan PLO, tapi mereka bukanlah bagian dari "proses perdamaian". Maka, dalam ulasan tentang "Two Decades of Seeking Peace in the Middle East" (Dua Dasawarsa Pengupayaan Perdamaian di Timur Tengah), koresponden Times di Jerusalem, Thomas Friedman, menyingkirkan usulan-usulan perdamaian Arab (termasuk PLO) yang penting; tidak ada usulan Israel yang disebut sebab tak ada satu pun usulan serius yang pernah diajukannya, sebuah fakta yang tak dibahas karena alasan-alasan yang jelas.5 Seperti apakah gerangan sifat "proses perdamaian" resmi itu dan usulan-usulan Arab yang disingkirkan dari sana? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita harus menjelaskan istilah lain dalam Newspeak: "rejeksionisme". Dalam penggunaan Orwelliannya, istilah ini menunjuk pada sikap negara-negara Arab yang menolak hak menentukan nasib sendiri untuk bangsa Yahudi Israel, atau yang tak mau menerima "hak hidup" Israel, sebuah konsep baru dan penuh muslihat yang dipancang untuk merintangi bangsa Palestina dari "proses perdamaian", dengan membeberkan "ekstremisme" mereka yang tak mau mengakui peradilan tentang apa yang mereka pandang sebagai penjarahan tanah air mereka, dan yang berkeras menolak pandangan tradisional --pandangan yang dianut oleh sistem ideologis yang berlaku di Amerika Serikat dan diterapkan dalam praktek internasional berkenaan dengan semua negara selain Israel-- bahwa sementara negara-negara lain diakui dalam tata internasional, "hak hidup" Israel tidak diakui. Ada unsur-unsur dalam dunia Arab yang kepada mereka istilah "rejeksionisme" dikenakan: Libya, front pembangkang minoritas dalam PLO, dan lain-lain. Namun, tak boleh diabaikan bahwa dalam Newspeak resmi, istilah ini dipakai dalam pengertian yang sangat rasis. Dengan melupakan asumsi-asumsi rasis, kita melihat bahwa ada dua kelompok yang mengaku hak menentukan nasib sendiri di bekas Palestina: penduduk asli, yang selalu merupakan mayoritas sebelum berdirinya Negara Israel, dan para pemukim Yahudi yang banyak menggantikan mereka, kadang-kadang dengan kekerasan yang luar biasa. Jadi, penduduk asli lebih berhak dibandingkan dengan para imigran Yahudi itu (sebagian orang mungkin berkeras bahwa belum tentu demikian, tapi saya akan mengesampingkan masalah ini). Maka, kalau begitu, istilah "rejeksionisme" haruslah digunakan untuk menunjuk pada penolakan hak menentukan nasib sendiri bagi salah satu dari kelompok-kelompok bangsa yang bersaing ini. Tetapi, istilah ini tak dapat digunakan dalam pengertian non-rasisnya dalam sistem doktrinal AS sebab jika dipakai secara demikian akan langsung terlihat bahwa AS dan Israel-lah yang berada di kubu rejeksionisme --suatu pandangan yang tak dapat ditoleransi di dunia nyata. Dengan penjernihan-penjernihan ini, kita dapat kembali ke pertanyaan: Apa gerangan "proses perdamaian" itu? "Proses perdamaian" resmi tersebut jelas-jelas rejeksionisme, termasuk Amerika Serikat dan kedua kelompok utama di Israel (Partai Likud dan Partai Buruh --penerjemah). Kenyataannya, rejeksionisme mereka sedemikian ekstrem sehingga bangsa Palestina bahkan tak diizinkan untuk memilih wakil-wakil mereka sendiri dalam perundingan-perundingan yang sangat penting mengenai nasib mereka --sebagaimana mereka tak dibolehkan menyelenggarakan pemilihan dewan kota atau bentuk-bentuk demokrasi lainnya di bawah pendudukan militer Israel. Apakah ada proses perdamaian non-rejeksionis (dalam pengertian non-rasis istilah ini) dalam agenda itu? Menurut sistem doktrinal AS, jawabannya tentu saja "Tidak", per definisi. Dalam dunia nyata, masalah-masalahnya berbeda. Istilah-istilah dalam usulan ini sudah lazim, mencerminkan konsensus internasional yang luas: mereka mencakup sebuah negara Palestina di jalur Gaza dan Tepi Barat bersisian dengan Israel, dan meliputi prinsip bahwa "adalah mutlak untuk menjamin keamanan dan kedaulatan semua negara di kawasan itu, termasuk Israel". Kata-kata kutipan itu adalah ucapan Leonid Brezhnev dalam pidatonya di Kongres Partai Komunis Uni Soviet, Februari 1981, yang mengungkapkan posisi standar Soviet. Pidato Brezhnev diringkaskan dalam New York Times dengan menghilangkan bagian-bagian penting ini; dipotong dengan pernyataan Reagan pasca pertemuan puncak di Pravda yang membangkitkan kejengkelan besar yang memang pantas. Pada April 1981, pernyataan Brezhnev diterima bulat oleh PLO, tapi fakta ini tak dilaporkain dalam Times. Doktrin resmi menegaskan bahwa Uni Soviet, seperti biasanya, maunya hanya menimbulkan keonaran dan mengurusi perdamaian bloknya, maka dari itu mendukung rejeksionisme dan ekstremisme Arab. Media melaksanakan dengan baik tugas yang sudah ditetapkan untuk mereka. Kita dapat menyebut contoh lain. Pada Oktober 1977, suatu pernyataan bersama Carter-Brezhnev mengimbaukan "penghapusan keadaan perang dan pembentukan hubungan damai yang normal" antara Israel dan tetangga-tetangganya. Ini dipatuhi oleh PLO, dan ditarik oleh Carter setelah muncul reaksi garang dari Israel beserta lobi Amerikanya. Pada Januari 1976, Yordania, Syria dan Mesir mengajukan usulan bagi pemecahan dua-negara kepada Dewan Keamanan PBB sesuai dengan konsensus internasional. Usulan ini diterima oleh PLO; menurut Presiden Israel Chaim Herzog (waktu itu duta besar di PBB), usulan ini "dipersiapkan" oleh PLO. Ia diveto oleh Amerika Serikat.6 Kenyataan-kenyataan ini banyak yang terhapus dari sejarah, dalam jurnalisme dan dunia keilmuan. Prakarsa Arab 1976 itu bahkan tak disinggung dalam ulasan yang sangat cermat oleh Seth Tillman dalam bukunya The United States and the Middle East. (Indiana, 1982). Ia disebut oleh Steven Spiegel dalam bukunya The OtherArab-Israeli Conflict (Chicago, 1985, 306), sebuah karya ilmiah yang banyak dipuji dalam sejumlah resensi yang bagus. Spiegel menulis bahwa AS "memveto resolusi pro-Palestina itu" untuk "memperlihatkan bahwa Amerika Serikat mau mendengarkan aspirasi-aspirasi bangsa Palestina, tapi tak bersedia mengabulkan tuntutan-tuntutan yang membahayakan Israel". Komitmen terhadap rejeksionisme AS-Israel tak perlulah lebih diperjelas, dan ia diterima sebagai hal yang sangat wajar di Amerika Serikat, bersama dengan prinsip bahwa tuntutan-tuntutan yang membahayakan bangsa Palestina sepenuhnya sah, bahkan patut dipuji: misalnya sebagaimana tecermin dalam istilah-istilah seperti "proses perdamaian" resmi itu. Dalam perbincangan publik, sudah menjadi doktrin bahwa negara-negara Arab tak pernah bergeming dari penolakannya untuk berhubungan dengan Israel dalam segala bentuk, terlepas dari Sadat setelah perjalanannya ke Jerusalem pada 1977. Fakta-fakta tak perlu membikin malu --atau sekadar agak menggelisahkan-- bagi suatu sistem. "rekayasa sejarah" yang berfungsi baik. Reaksi Israel terhadap usulan perdamaian PLO dan "negara-negara konfrontasi" pada 1976 tersebut adalah membom Lebanon (tanpa alasan "pembalasan", kecuali terhadap Dewan Keamanan PBB), menewaskan lebih dari lima puluh orang, dan mengumumkan bahwa Israel tidak akan berunding dengan pihak Palestina mana pun tentang masalah politik apa pun. Ini adalah sikap pemerintahan Buruh yang lunak pimpinan Yitzhak Rabin yang, dalam memoarnya, menyebut dua bentuk "ekstremisme": sikap pemerintahan Begin, dan usulan "kaum ekstremis Palestina (maksudnya PLO)", yang "mau membuat sebuah negara Palestina yang berdaulat di Tepi Barat dan jalur Gaza". Hanya gaya rejeksionisme Partai Buruh yang terhindar dari "ekstremisme", suatu posisi yang turut dianut oleh para komentator Amerika.7 Kita perlu menyinggung sepasang konsep Newspeak lainnya: "ekstremis" dan "moderat"; yang terakhir menunjuk kepada mereka yang menerima posisi Amerika Serikat yang pertama kepada yang menolak. Dengan demikian, posisi Amerika moderat per definisi, sebagaimana posisi koalisi (umum) Partai Buruh Israel, karena garis yang dikedepankannya kurang lebih sama dengan posisi Amerika Serikat. Maka, Rabin sudah memenuhi syarat dengan penggunaannya atas istilah-istilah "ekstremis" dan "moderat". Demikian pula, dalam sebuah uraian getir yang pas mengenai "ekstremisme" beserta keampuhannya, Thomas Friedman memasukkan kedalam penggolongan ini orang-orang yang menganjurkan penyelesaian non-rasis sesuai dengan konsensus internasional, sementara para pemimpin Barat dari kubu rejeksionis --yang juga tak bersangkut paut dengan operasi-operasi teroris-- adalah "moderat"; per definisi, satu hal lagi perlu ditambahkan. Friedman menulis bahwa "Kaum ekstremis selalu lebih pintar memanfaatkan media". Ia seratus persen benar; Israel dan Amerika telah memperlihatkan kepintaran tiada tara dalam urusan ini, seperti ditunjukkan oleh berita media dan tulisan-tulisannya sendiri --membikin sebagian orang berpikir apakah tidak lebih baik kalau ia disebut "koresponden Times Israel."8 Versinya yang pas tentang sejarah dan kerangka konsepsual dari laporannya, sebagaimana baru saja digambarkan, mengungkapkan sedikit dari sejumlah besar contoh sukses para ekstremis dalam "memanfaatkan media" --kali ini digunakan bukan dalam arti Orwelliannya. Dengan memakai kerangka konsepsual ini, yang dimaksudkan untuk menyingkirkan setiap kemungkinan pemahaman fakta dan masalah-masalah, Times mengikuti praktek model-model Israel seperti Rabin, yang mencapai kedudukan "moderat" berkat penyesuaian umum mereka dengan tuntutan-tuntutan pemerintah Amerika. Sejalan dengan ini, maka wajar belaka bahwa ketika Friedman mengulas "Dua Dasawarsa Pengupayaan Perdamaian di Timur Tengah", usulan-usulan penting yang ditolak oleh AS dan Israel dihapus sebab tak cocok untuk rekaman sejarah. Sementara itu, para pemimpin Israel dipuji oleh redaktur Times karena "pragmatisme sehat" mereka, dan PLO dikecam karena berhenti di tengah perjalanan menuju perdamaian.9 Kadangkala, dalam kerangka sistem ideologis ini, media dapat sangat kritis terhadap Israel dan AS serta cukup besar pula toleransi mereka terhadap para ekstremis Arab. Kenyataan bahwa pernyataan-pernyataan semacam itu dapat dikemukakan tanpa menimbulkan cemoohan, merupakan salah satu tanda keberhasilan besar dari sistem indoktrinasi ini. Kembali kepada kaum "ekstremis", pada April-Mei 1984 Nasser Arafat mengemukakan serangkaian pernyataan mengimbau perundingan-perundingan yang mengarah pada pengakuan timbal balik. Pers nasional tak mau memuat fakta-fakta ini; Times bahkan menyekap surat-surat pembaca yang menyinggung masalah ini, seraya terus mengecam si "ekstremis" Arafat karena merintangi upaya pemecahan secara damai.10 Peristiwa-peristiwa ini dan sejumlah contoh lainnya menggambarkan bahwa terdapat usulan-usulan non-rejeksionis yang didukung luas; sesungguhnya, ia didukung dengan pelbagai bentuk oleh kebanyakan negara Eropa, Uni Soviet, negara-negara non-blok, negara-negara besar Arab dan arus-utama dalam PLO, dan mayoritas dalam opini publik Amerika (berdasarkan beberapa poll yang dilakukan). Tetapi, mereka tak menjadi bagian dalam proses perdamaian karena Amerika Serikat menentangnya. Maka, contoh-contoh yang disebut itu disingkirkan dari ulasan Times tentang "Dua Dasawarsa Pengupayaan Perdamaian", dan dari karya-karya jurnalistik dan bahkan wacana ilmiah pada umumnya. Ada peristiwa-peristiwa lain yang tak memenuhi syarat sebagai bagian dari proses perdamaian. Demikianlah, ulasan Times tak menyebut tawaran Anwar Sadat tentang perjanjian perdamaian penuh atas dasar perbatasan-perbatasan yang diakui secara internasional, pada Februari 1971--dan sejalan dengan garis resmi AS waktu itu-- yang ditolak oleh Israel dengan dukungan AS. Perlu dicatat bahwa usulan ini rejeksionis dalam hal bahwa ia tak menawarkan apa-apa kepada bangsa Palestina. Dalam memoarnya, Henry Kissinger menjelaskan kebijakannya waktu itu: "Kalau sebagian negara Arab belum juga memperlihatkan kemauan untuk berpisah dari Soviet, atau pihak Soviet siap untuk berlepas tangan dari program maksimum Arab, kami tak punya alasan untuk mengubah kebijakan kami" tentang "pembekuan keadaan". Uni Soviet itu ekstremis, dalam pengertian teknis, karena mendukung apa yang sudah menjadi (walaupun tak berjalan) kebijakan resmi AS. Kissinger tentu saja benar dengan menegaskan bahwa negara-negara Arab seperti Arab Saudi tak mau "berpisah dari Soviet", meskipun ia tak mencatat --dan tampaknya tak menyadari-- bahwa hal ini niscaya merupakan kemustahilan logis, sebab Saudi tak punya dan tak pernah punya hubungan dengan Uni Soviet. Disiplin bagus media dan para ahli terlihat dari kenyataan bahwa pernyataan-pernyataan ini lolos dari komentar, seperti tampak dari tiadanya komentator terpandang yang mengungkapkan kebenaran bahwa kesembronoan dan insistensi Kissinger pada konfrontasi militer merupakan faktor utama yang memicu perang 1973.11 Usulan Sadat dicoret dari catatan sejarah. Berita resminya adalah bahwa Sadat itu tipikal manusia kepala-batu Arab, sukanya hanya membunuhi Yahudi, walaupun ia menginsafi kekeliruan cara-caranya sesudah kegagalan usahanya untuk menghancurkan Israel pada 1973 dan di bawah perwalian santun Kissinger dan Carter, menjadi tokoh perdamaian. Maka, dalam obituari dua halamannya setelah pembunuhan Sadat, Times bukan hanya menyembunyikan fakta-fakta aktual ini, melainkan juga terang-terangan menyangkalnya, dengan menyatakan bahwa hingga perjalanannya ke Jerusalem pada 1977, Sadat tak mau "menerima eksistensi Israel sebagai negara berdaulat".12 Newsweek bahkan tidak bersedia memuat sebuah surat pembaca yang mengoreksi pemalsuan-pemalsuan mencolok tentang masalah ini oleh kolumnis mereka, George Will, meskipun departemen risetnya secara pribadi mengakui fakta-fakta ini. praktek ini sudah standar. Istilah-istilah "terorisme" dan "pembalasan" ("retaliation") juga memiliki arti khusus dalam Newspeak AS. "Terorisme" merujuk pada aksi-aksi teroris oleh pelbagai pembajak, terutama orang Arab. Aksi-aksi teroris oleh Kaisar dan para anak-buahnya disebut "pembalasan" atau barangkali "serangan-serangan lebih dulu yang sah untuk menghindari terorisme", yang sama sekali terlepas dari fakta-fakta yang ada, seperti akan dibahas dalam bab-bab berikut. Istilah "sandera" --seperti "terorisme", "moderat", "demokratis", dan istilah-istilah lainnya dalam wacana politik --juga mempunyai arti teknis Orwellian dalam sistem doktrinal yang berlaku. Menurut arti kata-kata ini dalam kamus, rakyat Nikaragua sekarang disandera oleh sebuah operasi besar teroris yang dibidikkan dari pusat-pusat terorisme internasional di Washington dan Miami. Tujuan kampanye terorisme internasional ini adalah mengusahakan perubahan-perubahan dalam perilaku pemerintah Nikaragua: yang terpenting adalah niat (pemerintah Nikaragua) untuk menjalankan program-program yang menyalurkan sumber-sumber daya kepada mayoritas miskin, dan mengembalikan kebijakan-kebijakan "moderat" dan "demokratis" yang menguntungkan kepentingan bisnis Amerika beserta rekanan-rekanan lokalnya. Sebuah alasan yang sangat kuat dapat dibuat bahwa inilah yang merupakan alasan utama bagi perang teroris yang dilancarkan AS terhadap Nikaragua --suatu alasan yang tak ditolak, tapi agak tertutup untuk dibahas dalam sistem pengendalian pikiran AS.13 Ini merupakan penyelenggaraan terorisme yang sangat sadistis, bukan hanya karena skala dan tujuan jelasnya, tapi juga karena cara-cara yang dipakai, yang jauh melampaui praktek-praktek balasan yang lazim dilakukan oleh para teroris yang eksploitasinya menimbulkan horor amat menakutkan di lingkungan bangsa beradab: Leon Klinghoffer dan Natasha Simpson dibunuh oleh teroris, tapi tanpa lebih dulu mengalami penyiksaan brutal, pemotongan anggota tubuh, perkosaan, dan perbuatan-perbuatan standar lain seperti lazim dilakukan para teroris yang dilatih dan didukung AS, sebagaimana catatan-catatan-umumnya tak diketahui di Amerika --merekamnya dengan sangat terperinci. Kebijakan AS memastikan bahwa serangan-serangan teroris ini terus terjadi, sampai pemerintah (Nikaragua) menyesal atau terguling, sementara antek-antek sang Kaisar mendakwahkan kata-kata lembut tentang "demokrasi" dan "hak-hak asasi manusia". Tapi, dalam pemakaian Orwellian, istilah "terorisme", dan "sandera" dibatasi hanya pada kelas aksi teroris tertentu: bukan terorisme skala-besar sang Kaisar, melainkan hanya terorisme balasan si pembajak, yang diarahkan kepada mereka yang menganggap terorisme dan penyekapan sandera secara besar-besaran sebagai hak istimewa mereka. Di Timur Tengah, pembajakan Israel, penahanan sandera, dan serangan-serangan terorisnya terhadap desa-desa tak berdaya dan lain-lain, tak termasuk dalam konsep terorisme, sebagaimana dirumuskan dengan pas dalam sistem doktrinal AS. Catatan kaki: * Ungkapan Inggrisnya, (it) "is playing well in Peoria". Preoria adalah kota kecil di Negara Bagian Illionis, yang letaknya persis di tengah-tengah Amerika Serikat dalam bentangan dari timur ke barat. Penduduknya dikenal lugu dan jujur, oleh karena itu dianggap mewakili opini rata-rata penduduk AS, sehingga sebuah kebijakan pemerintah yang diterima di Peoria dipandang sudah "lulus ujian". Karena itu boleh diteruskan. Adapun opini yang berkembang di kota-kota besar, biasanya hanya disuarakan oleh segelintir warga yang vokal, yang tidak proporsional dan tak mewakili pendapat rata-rata warga, telah diwarnai pula oleh kepentingan-kepentingan subjektif mereka, dan dengan dcmikian dianggap tak terlalu perlu diperhitungkan. Sekarang ungkapan ini diterapkan juga untuk hal-hal lain. Sebuah film yang laris, misalnya, mungkin disebut (it) "is playing well in Peoria". --penerj. 1 Mengenai masalah-masalah yang dibahas di sini, lihat TNCW, khususnya Bab 1, 2. 2 Dikutip oleh Richard Fox, Reinhold Niebuhr (Pantheon, 1985), 138. 3 John Dillin, Christian Science Monitor, 22 April 1986. 4 New York Times (NYT), 1 Juni 1985. 5 NYT, 17 Maret 1985. 6 Lihat TNCW, 267, 300, 461; FT, 67, 189. 7 Rabin, The Rabin Memoirs (Little, Brown, 1979), 332. Sejalan dengan pendirian moderatnya, Rabin berpendapat bahwa "para pengungsi dari Jalur Gaza dan Tepi Barat" harus dipindahkan ke timur Yordania; lihat TNCW, 234, untuk kutipan-kutipan representatif. Mengenai konsepsi lama Zionis tentang "pemindahan" penduduk asli sebagai pemecahan atas masalah ini, beserta varian-varian mutakhirnya (misalnya seperti dikemukakan tokoh rasis Rabbi Kahane atau sosialis demokrat Amerika Michael Walzer, yang menyarankan supaya mereka yang "marjinal di negara itu" --yaitu warga Arab di Israel-- harus "dibantu" untuk pergi), lihat FT. Penggalan kalimat "marjinal di negara itu" menyibakkan tirai tentang kontradiksi mendasar antara prinsip demokrasi standar dan Zionisme aliran-utama beserta realisasinya di Israel. Lihat TNCW dan FT untuk pembahasan masalah ini, yang hampir tak mungkin diungkapkan di Amerika Serikat. 8 Friedman menyajikan pelaporan serius dan profesional dari Lebanon selama Perang 1982, dan kadang-kadang dari Israel; lihat misalnya laporannya tentang Jalur Gaza, 5 April 1986. 9 Friedman, NYT Magazine, 7 Oktober 1984; NYT, 17 Maret 1985; editorial, NYT 21 Maret 1985; dan sejumlah berita dan komentar lainnya. 10 Untuk perincian, lihat Bab Kedua catatan kaki no. 58 dan teks. Untuk pembahasan lebih luas tentang "proses perdamaian" dan "rejeksionis" dalam pengertian non-Orwellian istilah-istilah ini --yaitu, dalam dunia nyata-- dan upaya-upaya sukses dari sistem indoktrinasi ini untuk menghapus fakta-fakta dari sejarah, lihat FT, dan untuk yang lebih baru, lihat rujukan-rujukan Bab Kedua, catatan kaki no. 58. 11 Untuk pembahasan lebih luas, lihat resensi saya atas memoar Kissinger, dimuat kembali dalam TNCW. 12 Eric, NYT, 7 Oktober 1981. 13 Untuk pembahasan, lihat TTT dan esai-esai saya dalam tema "New Right in America", Psychohistory Review (Lawrence Friedman [ed.], akan terbit) dan Thomas W.Walker (ed.), Reagan vs The Sandinistas (Westview, akan terbit); dan Pengantar saya untuk Morley dan Petras, op cit. Keperluan untuk mengaburkan fakta-fakta gamblang ini merupakan alasan utama untuk membuat suatu rekaman bohong yang mencolok, bahkan diukur dari standar negara-negara yang suka melakukan kekerasan. ||_______ Pengendalian Pikiran: Kasus Timur Tengah (2/2) Catatan dusta mengenai terorisme, yang kembali akan saya bicarakan dalam bab-bab berikut, sedemikian luas sehingga di sini hanya diungkapkan sekadar contohnya. Ia berpengaruh sangat kuat atas berfungsinya propaganda Barat dan watak kebudayaan Barat. Dalam hal ini yang relevan adalah bahwa sejarah yang cocok dan pola Newspeak yang menguntungkan telah disusun, yang didalamnya terorisme merupakan bidang garapan orang Palestina, sementara Israel melaksanakan "pembalasan" atau terkadang "aksi mendahului" yang sah, yang adakalanya ditanggapi sebagai kekerasan yang disesalkan, sebab negara mana pun akan melakukannya dalam keadaan tertekan. Sistem doktrinal ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa kesimpulan-kesimpulan ini adalah benar per definisi, terlepas dari fakta-fakta yang ada --yang tak dilaporkan, atau dilaporkan dengan cara sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keperluan-keperluan doktrinal, atau sekali-sekali dilaporkan dengan jujur, tapi kemudian dikubur dalam liang memori. Dengan anggapan bahwa Israel adalah negara klien yang loyal dan sangat berguna, berdiri sebagai "aset strategis" di Timur Tengah dan bersedia melakukan tugas-tugas seperti mendukung pembantaian besar-besaran di Guatemala jika Pemerintah AS tercegah oleh Kongres untuk bertindak sepenuh yang ia inginkan dalam perbuatan yang dibutuhkan ini, maka benarlah --terlepas dari fakta-fakta yang ada--bahwa Israel mengabdi kepada nilai-nilai moral termulia dan "kesucian tangan" ("purity of arms"), sementara bangsa Palestina adalah lambang utama ekstremisme, terorisme, dan barbarisme. Kesannya adalah bahwa terdapat simetri tertentu, baik dalam hak maupun praktek teroris yang dilenyapkan dengan kebiadaban di kancah terbuka, atau katakanlah --jika ungkapan ini dapat didengar-- sebagai penelanjangan antisemitisme terselubung. Suatu penilaian rasional, yang memberikan analisis dan gambaran akurat tentang skala dan tujuan-tujuan terorisme Kaisar dan pembajak, disingkirkan secara apriori, dan bakal benar-benar nyaris tak dapat dipahami karena sedemikian jauh dari ortodoksi-ortodoksi yang sudah diterima. Servis-servis Israel kepada AS sebagai "aset strategis" di Timur Tengah dan tempat-tempat lain membantu menjelaskan dedikasi Amerika Serikat --sejak pengambilalihan Kissinger atas pembuatan kebijakan Timur Tengah di awal 1970-an-- untuk mempertahankan konfrontasi militer dan "pembekuan keadaan," gaya Kissinger.14 Jika AS mengizinkan suatu pemecahan damai sesuai dengan konsensus internasional, Israel perlahan-lahan akan terintegrasi ke dalam wilayah ini dan AS akan kehilangan servis-servis dari sebuah negara upahan yang bermanfaat, yang kekuatan militernya hebat dan teknologinya maju; sebuah negara paria yang sepenuhnya tergantung pada Amerika Serikat untuk tetap hidup secara militer dan ekonomi, dan dengan demikian dapat diandalkan dan selalu siap melayani kapan saja diperlukan. Unsur-unsur yang disebut "lobi Israel" juga ikut berperan dalam melestarikan konfrontasi militer, seperti didapat oleh Danny Rubinstein, wartawan Israel dari jurnal Partai Buruh Davar, dalam kunjungan ke Amerika Serikat pada 1983.15 Dalam pertemuan-pertemuan dengan para wakil organisasi-organisasi utama Yahudi (B'nai Brith, Liga Anti-Defamasi, Kongres Yahudi Dunia, Hadassah, para Rabbi dari semua mazhab, dan lain-lain), Rubinstein mengetahui bahwa artikel-artikel yang ditulisnya tentang situasi mutakhir di Israel membangkitkan kegusaran besar, lantaran ia menekankan kenyataan bahwa Israel tidaklah menghadapi ancaman militer sebesar "kerusakan moral, sosial, dan politik" karena merebut wilayah-wilayah pendudukan. "Saya tidak tertarik (pada penilaian Anda)," kata seorang fungsionaris kepadanya; "Saya tak dapat berbuat apa-apa dengan argumen semacam itu." Intinya, menurut Rubinstein berdasarkan sejumlah perbincangan semacam itu, ialah bahwa, menurut bagian terbesar masyarakat di lingkungan resmi Yahudi, yang penting adalah menekankan terus-menerus ancaman-ancaman eksternal yang mengintai Israel ... kalangan resmi Yahudi di Amerika memerlukan Israel ... hanya sebagai korban dari kekejian serangan Arab. Untuk sebuah Israel yang semacam ini orang bisa memperoleh dukungan, sumbangan dan uang. Bagaimana mungkin orang mampu mengumpulkan uang untuk memerangi suatu ancaman demografis? Siapa yang mau memberi sepeser pun untuk memerangi apa yang saya sebut 'bahaya aneksasi'? ... Semua orang mengetahui jumlah resmi sumbangan-sumbangan yang dikumpulkan oleh Majelis, Serikat Yahudi di Amerika, yang 'menjual' nama Israel, dan kira-kira separo jumlah ini tidak sampai ke Israel, tetapi untuk lembaga-lembaga Yahudi di Amerika. Adakah sinisme yang lebih hebat? Rubinstein selanjutnya mengungkapkan bahwa Majelis, yang dikelola sebagai perusahaan yang kuat dan efisien, mempunyai bahasa yang sama dengan kelompok-kelompok garang di Israel. Sebaliknya, kelompok yang berupaya berkomunikasi dengan pihak Arab, yang mendambakan pengakuan timbal balik dengan bangsa Palestina, kelompok moderat, dan kelompok-kelompok pecinta damai, semuanya giat menentang bisnis pengumpulan sumbangan ini. Mereka bukan hanya menyunat jumlah uang yang dikirim ke Israel. Lebih gamblang lagi, mereka menyunat jumlah dana yang disediakan untuk membiayai aktivitas-aktivitas masyarakat Yahudi. Para pengamat aktivitas-aktivitas rutin kelompok satpam-lihai lobi Israel ini, mampu dengan tajam merasakan isyarat paling samar tentang keinginan akan rujuk dan pemecahan politik yang bermakna, dan ingin mengungkap bid'ah ini dengan artikel lantang dan surat-surat kepada pers-yang gemar menyebarkan bahan fitnah buatan mengenai kaum pelaku bid'ah ini akan tahu dengan gamblang apa yang telah didapati oleh Rubinstein. Komentar-komentar Rubinstein menarik perhatian kita pula pada Orwellisme lainnya: istilah "para pendukung Israel", yang lazim digunakan untuk menunjuk mereka yang tak risau dengan "kerusakan moral, sosial, dan politik" Israel (dan dalam jangka lebih jauh mungkin kerusakan fisiknya juga), dan sesungguhnya memberikan sumbangan bagi akibat-akibat ini karena dukungan "picik dan chauvinisme membuta" yang mereka persembahkan kepada "sosok keras-kepala keji" Israel, sebagaimana sering diperingatkan oleh merpati-merpati Israel.16 Dalam kaitan serupa, kita dapat melihat cara menarik yang didalamnya istilah "Zionisme" dewasa ini dirumuskan --tentu saja secara diam-diam-- oleh mereka yang mengambil peran pengawal kemurnian doktrin. Pandangan-pandangan saya sendiri, misalnya, sering dikutuk sebagai "anti-Zionisme militan" oleh orang-orang yang sangat waspada terhadap pandangan-pandangan ini, yang kerap diulang dan dikemukakan secara jelas: bahwa Israel, dalam perbatasan-perbatasan yang diakui secara internasional, harus menghormati hak-hak setiap negara dalam sistem internasional --tak kurang dan tak lebih-- dan bahwa struktur-struktur institusional diskriminatif yang dalam hukum dan dalam praktek melekatkan status khusus pada sebuah kategori kewarganegaraan (Yahudi, Kulit Putih, Kristen, dan lain-lain), yang menjamin hak-hak mereka untuk mengabaikan pihak lain, harus ditanggalkan. Di sini saya tidak akan memasuki persoalan tentang apa yang selayaknya disebut "Zionisme", tapi sekadar mencatat apa yang diturunkan dari sebutan pandangan-pandangan ini sebagai "anti-Zionisme militan": Zionisme adalah doktrin bahwa Israel harus menghormati hak-hak selain orang-orang dari negara lain mana pun; ia harus mempertahankan penguasaan atas wilayah-wilayah pendudukan sehingga merintangi segala bentuk upaya penentuan nasib sendiri bagi bangsa Palestina; dan ia harus tetap sebuah negara yang didasarkan atas prinsip diskriminasi terhadap warga non Yahudi. Secara khusus, adalah sangat menarik menyaksikan bahwa "para pendukung Israel" bersikeras mengenai keabsahan resolusi PBB yang terkenal cemarnya tentang Zionisme dan rasisme. Hendaknya diingat bahwa persoalan-persoalan ini bukanlah abstrak dan teoretis. Masalah diskriminasi sangat runcing di Israel, yakni, misalnya, lebih dari 90 persen tanahnya menurut hukum ditempatkan di bawah kontrol sebuah organisasi yang diabdikan bagi kepentingan "orang-orang yang beragama, berbangsa, atau berasal-usul Yahudi" sehingga warga non Yahudi diusir secara efektif. Komitmen kepada praktek diskriminasi sedemikian kuat sehingga masalah ini bahkan tak dapat dikemukakan di Parlemen, di mana ketentuan-ketentuan baru merintangi pengajuan setiap rancangan Undang-undang yang "melenyapkan eksistensi Negara Israel sebagai negara orang Yahudi", bukan negara warganya. Maka, legislasi ini menyatakan ilegal setiap upaya Parlementer yang menantang sifat-dasar diskriminatif negara, dan dengan efektif menjegal partai-partai politik yang comitted terhadap prinsip pokok demokrasi bahwa sebuah negara adalah negara para warganya.17 Mengherankan bahwa pers Israel dan kebanyakan pengulas-terdidik tampak sama sekali tak menganggap ganjil kenyataan bahwa legislasi baru ini bergandengan dengan sebuah rancangan peraturan "antirasisme" (keempat kelompok oposisi, sesungguhnya, menentang aspek peraturan ini). Judul berita utama Jerusalem Post berbunyi, "Knesset forbids racist and anti-Zionist bills" ("Knesset menolak rancangan peraturan-peraturan rasis dan anti-Zionis") --tanpa ironi, istilah "Zionis" ditafsirkan sebagaimana dalam legislasi baru ini. Para pembaca Jerusalem Post di Amerika rupanya juga tak mendapati hal yang perlu dicatat dalam berita ini,sebagaimana mereka tak pernah merasakan kesulitan dalam menyelaraskan watak-dasar antidemokrasi dalam versi Zionisme mereka dengan penghargaan meluap pada sifat demokratis negara tempat demokrasi diwujudkan. Yang tak kurang mengherankan adalah pemakaian-pemakaian licik atas konsep "anti-Semitisme". Misalnya, untuk menuding orang-orang yang memperlihatkan "anti-imperialisme yang dungu" (sebuah ragam anti-Semitisme) yang berkeberatan terhadap peran Israel di Dunia Ketiga demi kepentingan kekuatan AS --misalnya di Guatemala atau untuk menunjuk bangsa Palestina yang tak mau memahami bahwa problem mereka dapat diatasi dengan "pemukiman-kembali dan repatriasi"; jika sisa-sisa penduduk desa Doueimah, tempat beratus-ratus orang dibantai oleh tentara Israel dalam operasi pembersihan pada 1948, atau warga jalur Gaza yang mirip Soweto itu mengeluh, itu tandanya mereka disemangati oleh "anti-Semitisme".18 Kita cuma perlu melacak ke akar-akar riwayat Stalinisme untuk menemukan segala sesuatu yang serupa, tetapi contoh-contoh pembanding dalam wacana pendidikan di Amerika berkenaan dengan Israel sama sekali langka, dan berlalu tanpa tercatat, walaupun para pencinta-damai Israel tak alpa untuk merekam --dan mengutuk-- gaya Stalinis ini. Manipulasi utama dalam sistem "cuci otak di alam merdeka" ini, yang berkembang dalam bentuk yang paling mengesankan di Amerika Serikat, adalah untuk merangsang perdebatan tentang masalah-masalah kebijakan, tapi dalam suatu kerangka asumsi-asumsi yang mengandung doktrin-doktrin pokok Garis Partai. Semakin semarak perdebatan, kian efektif asumsi-asumsi ini tertanam, sementara para peserta dan penonton asyik mengagumi dan menyanjung diri untuk kelantangan mereka dan untuk kebebasan-kebebasan luar biasa yang kukuh di masyarakat mereka. Demikianlah, maka dalam kasus Perang Vietnam, institusi-institusi ideologis mengizinkan perdebatan antara para "elang" dan kaum "merpati"; malah, perdebatan itu bukan hanya diizinkan, melainkan bahkan didorong pada 1968, ketika sektor-sektor penting dalam bisnis Amerika berbalik menentang perang itu karena kepentingan-kepentingan mereka. Para elang menandaskan bahwa dengan ketegasan dan dedikasi, Amerika Serikat dapat berhasil dalam pendiriannya "membela Vietnam Selatan dari agresi Komunis". Kaum merpati menangkis dengan mempersoalkan kelaikan tujuan yang mulia ini, atau mengecam penggunaan kekuatan dan kekerasan yang berlebihan dalam mencapainya. Atau, mereka menyesali "kekeliruan-kekeliruan" dan "kesalahpahaman-kesalahpahaman" yang menyesatkan kita ke dalam "ekses dari ketulusan dan kebajikan tanpa pamrih" kita (sejarahwan Harvard, John King Fairbank, ketua studi Asia AS dan akademikus terkemuka yang cinta-damai), dan "usaha-usaha yang penuh kesalahan untuk melakukan kebaikan" (Anthony Lewis, mungkin menempati tokoh media yang paling masyhur). Atau terkadang, di luar jangkauan sistem doktrinal, mereka bertanya apa benar Vietnam Utara dan Viet Cong itu melakukan kesalahan agresi; mungkin, kata mereka, dakwaan ini berlebihan. Fakta utama dan yang paling mencolok mengenai perang itu, secara cukup sederhana, adalah bahwa AS tidak "mempertahankan" Vietnam Selatan, tetapi menyerangnya --yang pasti sejak 1962. Ketika itu, Presiden Kennedy memerintahkan Angkatan Udara AS untuk ambil bagian dalam pemboman besar-besaran dan penggundulan hutan yang dimaksudkan untuk membantu penggiringan jutaan manusia ke dalam kamp-kamp konsentrasi. Inilah tempat mereka dapat "dilindungi" dari gerilyawan Vietnam Selatan yang ingin mereka dukung (seperti diakui sendiri oleh pemerintah AS), setelah AS menggilas setiap kemungkinan pemecahan politik dan mencangkokkan sebuah rezim klien ganas yang, pada waktu itu, sudah membunuh sekitar 100.000 orang Vietnam Selatan. Sepanjang perang itu, gempuran utama AS adalah terhadap Vietnam Selatan dan, pada akhir 1960-an, ia berhasil menghancurkan pertahanan masyarakat Vietnam Selatan seraya melebarkan kancah perang ke wilayah Indocina sisanya. Tatkala Uni Soviet menyerang Afghanistan, kita dapat menyatakannya dengan tegas bahwa itu adalah agresi; ketika AS menyerang Vietnam Selatan, itu adalah "pertahanan-pertahanan terhadap "agresi internal", seperti dikemukakan Adlai Stevenson di PBB pada 1964, pada saat pemerintahnya secara rahasia merencanakan untuk memperluas agresi ini dalam intensitas dan cakupannya. Bahwa AS terlibat dalam serangan terhadap Vietnam Selatan tidaklah disangkal oleh sistem propaganda ini; hanya saja, pikiran tak dapat diungkapkan atau bahkan sekadar membayangkan. Orang tak akan menemukan tanda tentang peristiwa seperti "serangan AS atas Vietnam Selatan" dalam media atau arena akademis aliran-utama, atau bahkan dalam kebanyakan publikasi gerakan perdamaian.19 Tak ada contoh lebih mencolok tentang kedahsyatan kekuatan sistem pengendalian pikiran Amerika daripada perdebatan yang terjadi mengenai agresi Vietnam Utara, dan tentang apakah AS punya hak menurut hukum internasional untuk memeranginya dengan "pertahanan-diri kolektif terhadap serangan bersenjata". Buku-buku tebal pelajaran yang ditulis menyajikan sikap-sikap menentang dan, dengan istilah-istilah yang kurang santun, perdebatan digelar di gelanggang publik terbuka oleh gerakan perdamaian. Perdebatan ini merupakan cerminan yang terang benderang dari sistem pengendalian pikiran, juga memberi sumbangan kepadanya, karena sepanjang perdebatan dipusatkan pada persoalan apakah orang Vietnam bersalah karena melakukan agresi di Vietnam, tidak akan ada diskusi mengenai apakah agresi AS atas Vietnam Selatan memang betul-betul seperti yang diterangkan. Sebagai orang yang ikut dalam perdebatan ini, dengan kesadaran penuh tentang apa yang sedang terjadi, saya hanya dapat melaporkan pengakuan bahwa para penentang kekerasan negara telah terperangkap, terjebak dalam suatu sistem propaganda yang keefektifannya menakjubkan. Rupanya para pengecam perang AS di Vietnam perlu menjadi pakar dalam seluk-beluk urusan orang Indocina; secara umum ini tak relevan sebab masalah ini, walaupun selalu disangkal, adalah urusan Amerika, sebagaimana kita tak perlu menjadi ahli Afghanistan untuk menentang agresi Soviet di sana. Perlulah; bagi semua, untuk memasuki kancah perdebatan atas dasar istilah-istilah yang dikemas oleh negara dan opini, elite yang setia mengabdinya, betapapun orang mungkin tahu bahwa dengan berbuat begitu berarti ia sedang memberi kontribusi lebih jauh kepada sistem indoktrinasi tersebut. Alternatifnya adalah mengatakan kebenaran, yang akan serupa dengan berbicara dalam bahasa yang agak asing. Banyak hal yang sama dalam perdebatan mutakhir tentang Amerika Tengah. Perang teroris AS di El Savador tidak menjadi topik diskusi di kalangan orang-orang terpandang; perang itu tidak ada. Upaya AS untuk "membendung" Nikaragua merupakan subjek yang dibebaskan dalam perdebatan, tapi dalam batas-batas ketat. Kita boleh bertanya apakah AS berhak menggunakan kekerasan untuk "melenyapkan kanker itu" dan mencegah kelompok Sandinista mengekspor "revolusi tanpa batas-batas" mereka (konstruksi khayalan dalam sistem propaganda, diketahui sebagai bikinan oleh wartawan dan para komentator yang taat membeo tuduhan pemerintah ini). Tetapi, kita tak boleh mendiskusikan fakta bahwa "kanker" yang harus dilenyapkan itu merupakan "ancaman terhadap teladan yang baik", yang akan menyebarkan "penularan" di seluruh kawasan itu dan di luarnya. Maka, dalam tiga bulan pertama pada 1986, ketika perdebatan marak mengenai pemungutan suara Kongres mendatang tentang bantuan bagi tentara-centeng* AS. (sebagaimana para pendukung tergigihnya diam-diam melukiskannya) yang menyerang Nikaragua dari pangkalan Honduras dan Costa Rica, pers nasional (New York Times dan Washington Post) memuat tak kurang dari 85 potong opini para kolumnis dan kontributor-kontributor undangan tentang kebijakan AS terhadap Nikaragua. Seluruh 85 opini itu kritis terhadap Sandinista, dari kritik yang sangat garang (mayoritas besar) sampai yang agak moderat. Inilah yang disebut "perdebatan publik" ("public debate") di Amerika Serikat. Fakta yang tak dipersoalkan bahwa pemerintah Sandinista telah berhasil --benar-benar sangat berhasil-- melakukan pembaruan-pembaruan sosial selama tahun-tahun awalnya, sebelum AS menggagalkan upaya ini, tertutup rapat; dalam 85 kolom tersebut, ada dua kalimat yang menunjuk pada fakta bahwa sudah terjadi pembaruan-pembaruan sosial, dan fakta --yang hampir bukan rahasia besar-- bahwa inilah yang merupakan alasan pokok bagi serangan AS, sama sekali tak disebut, bahkan tak terlintas sedikit pun dalam pikiran. Orang-orang yang dianggap "pembela" Sandinista dikecam pedas (nama-namanya tak disebut, untuk menjamin bahwa mereka tak akan punya kesempatan untuk menanggapi, setidaknya sebagaimana kesempatan itu akan ada dalam persoalan lain), tapi tak seorang pun dari para penjahat ini yang dibolehkan untuk mengemukakan pandangan-pandangan mereka. Nyaris tak dapat dibayangkan bahwa pers nasional bakal mengizinkan pengungkapan kesimpulan Yayasan Pembangunan Sosial Oxfam bahwa Nikaragua merupakan "perkecualian" di antara 76 negara tempat ia bergiat dalam hal komitmen para pemimpin politik "untuk memperbaiki kondisi rakyat dan mendorong partisipasi aktif mereka dalam proses pembangunan". Dan, bahwa di antara empat negara Amerika Tengah tempat Oxfam bergiat, "hanya di Nikaragua terdapat upaya besar yang dilakukan untuk mengurangi ketimpangan-ketimpangan dalam pemilikan tanah dan untuk memperluas pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pertanian bagi keluarga-keluarga petani miskin". Meskipun, perang Contra telah melenyapkan ancaman-ancaman ini dan menyebabkan Oxfam mengalihkan upaya-upayanya dari proyek-proyek pembangunan ke pemulihan akibat perang. Tak terbayangkan bahwa pers nasional akan mengizinkan pembahasan fakta bahwa upaya pengabdian AS untuk melenyapkan "kanker" ini terperosok jauh di dalam kerja sejarahnya, sebagaimana para cendekiawan terpandang tak boleh menganggap diri tahu kebenaran-kebenaran yang tak dapat diterima semacam ini. Perdebatan dapat dilangsungkan dengan cara yang pas untuk memerangi biang ganas Kerajaan Setan ini, tapi tak boleh melewati batas-batas yang diizinkan dalam sebuah forum nasional.20 Sebagaimana dalam kasus Indocina, di sini kita melihat dalam rentang yang diizinkan bagi opini yang dapat dikemukakan mengalami keberhasilan luar biasa dari "cuci otak di alam merdeka". Dan, seperti dengan mudah dipahami oleh setiap orang yang jujur, refleksi dari suatu mentalitas totalitarian dalam kondisi-kondisi tempat sumber-sumber daya dari kekerasan negara tak tersedia untuk menjamin kepatuhan bulat.21 Dalam sebuah kediktatoran atau "demokrasi" yang dijalankan oleh militer, Garis Partai itu jelas, kelihatan, dan eksplisit, baik diumumkan oleh Kementerian Kebenaran maupun dibuat terang dengan cara-cara lain. Dan, ia harus ditaati secara terbuka; harga bagi pembangkangan dapat merentang dari penjara dan pembangkang di bawah kondisi yang sangat buruk --sebagaimana di Uni Soviet dan satelit-satelit Eropa Timurnya--sampai penganiayaan biadab, perkosaan, penanggalan anggota tubuh, dan pembantaian massa, seperti di negara-negara tipikal yang bergantung pada AS, misalnya El Salvador. Dalam sebuah Masyarakat Bebas, cara-cara ini tak dijumpai, dan cara-cara yang lebih canggih dipakai untuk menjamin pengendalian pikiran. Garis Partai tak diungkapkan, tapi hanya dianggapkan.Orang-orang yang tak menerimanya tidak dipenjarakan atau dilenyapkan setelah disiksa dan dipotong-potong, tapi penduduk dilindungi dari bid'ah-bid'ah mereka. Dalam arus-utama, nyaris tak mungkin untuk sekadar mengerti kata-kata mereka pada kesempatan-kesempatan langka ketika diskursus eksotis serupa dapat didengar. Di zaman pertengahan, ketika standar-standar integritas dan kejujuran intelektual jauh lebih tinggi, menangani bid'ah dengan serius dianggap hal yang penting, demikian pula memahaminya dan memeranginya dengan argumen rasional. Sekarang, cukuplah dengan menudingnya. Seperangkat lengkap konsep-konsep --seperti misalnya "kesepadanan moral", atau "Marxis", atau "radikal"-- sudah dibikin untuk menandai bid'ah, dan kemudian menyingkirkannya tanpa argumen atau komentar lebih lanjut. Doktrin-doktrin berbahaya ini bahkan menjadi "ortodoksi-ortodoksi baru"22 untuk dibasmi (lebih tepat, dikenali dan disingkirkan, sejak kesibukan intelektual dianggap tak ada gunanya) oleh minoritas penumpas yang menguasai media ekspresi publik sampai ke tingkat mendekati totalitas. Namun, sayangnya, dalam pandangan mereka penguasaan ini tak terlalu besar. Tetapi, untuk sebagian terbesar bid'ah cuma disepelekan, sementara perdebatan tentang masalah-masalah yang kebanyakan pinggiran dan sempit, marak di kalangan mereka yang menerima doktrin-doktrin tentang kebenaran, lazimnya tanpa wawasan atau keinsafan. Hampir demikian pulalah yang terjadi kalau kita kembali ke topik kita sekarang ini, Timur Tengah. Kita boleh memperdebatkan apakah bangsa Palestina perlu diizinkan untuk masuk dalam "proses perdamaian", tapi kita tak akan dibolehkan tahu bahwa AS dan Israel itu memimpin kubu rejeksionis dan telah dengan konsisten merintangi setiap "proses perdamaian" yang sejati, sering dengan kekerasan mendalam. Berkenaan dengan terorisme, batas-batas bagi perdebatan yang dibolehkan ini terlihat jelas oleh Shaul Bakhash, profesor Sejarah di Universitas George Mason, yang menjelaskan bahwa kita harus menghindar dari "penyederhanaan berlebihan" yang menghalangi setiap usaha untuk "mengkaji akar-akar sosial dan ideologis dari radikalisme Islam dan Timur Tengah dewasa ini", yang membangkitkan "sikap kepala batu, tapi bagaimanapun merupakan problem-problem nyata"; kita harus berusaha untuk memahami apa yang mendorong para teroris itu menerapkan cara-cara keji mereka.23 Pendekatan tentang terorisme, dengan demikian, terbatasi ketat: pada satu ujung, kita punya orang-orang yang memandangnya sekadar sebagai sebuah persekongkolan oleh Kerajaan Setan beserta agen-agennya; di ujung lainnya kita mendapati mereka yang lebih imbang dan pemikir-pemikir cemerlang yang menghindari "penyederhanaan berlebihan" ini, juga berusaha mencari akar-akar domestik dari teror Islam dan Arab. Gagasan bahwa boleh jadi ada sumber-sumber lain bagi terorisme di Timur Tengah --bahwa Kaisar dan kaki tangannya mungkin pula punya peranan dalam drama ini-- apriori disingkirkan; bukan dibantah; tapi itu tak terlintas di benak, suatu kemenangan gemilang dari sebuah sistem doktrinal yang jauh melampaui pencapaian negara-negara totalitarian dalam melindungi publik terhadap pikiran-pikiran cemar. Perlu dicatat bahwa secara keseluruhan, sumbangan kaum "moderat" dan para merpati liberallah yang menjamin berjalan baiknya sistem indoktrinasi ini, dengan menandaskan batas-batas bagi gagasan yang dapat dipikirkan. Dalam Journal-nya, Henry David Thoreau, yang menjelaskan di mana-mana bahwa ia tak membuang waktunya untuk membaca koran, menulis bahwa, Tidak perlu ada sebuah undang-undang untuk memeriksa izin surat kabar. Ia adalah undang-undang yang cukup, malah lebih dari cukup, untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya, masyarakat sudah berkumpul dan menyepakati hal-hal apa yang akan diucapkan, telah bersepakat tentang sebuah landasan dan untuk mengucilkan dia yang menyimpang dari sana, dan tak satu dalam seribu orang yang berani mengucapkan hal lain apa pun. Pernyataannya tak terlalu tepat, kata John Dolan, "bukan masyarakat kurang berani mengemukakan pikiran-pikiran di luar rentang-batas yang diizinkan: soalnya cuma mereka tak mempunyai kemampuan untuk memikirkan gagasan-gagasan semacam itu".24 Inilah hal pokoknya, motif yang mendorong para "perekayasa persetujuan demokratis". Dalam New York Times, Walter Reich dari Lembaga Internasional Woodrow Wilson --menunjuk pembajakan Achille Lauro-- menuntut supaya standar-standar ketat keadilan diterapkan bagi orang-orang yang telah "melakukan pembunuhan teroris", baik para agen maupun perencana aksi-aksi ini: "Menjatuhkan hukuman ringan dengan alasan bahwa seorang teroris meyakini dirinya sebagai pejuang kemerdekaan yang ditindas dan dirugikan, berarti menghancurkan landasan tempat tegaknya keadilan dengan menerima argumen para teroris bahwa hanya konsep mereka tentang keadilan dan hak-hak, dan penderitaan-penderitaan mereka, yang sah. Bangsa Palestina --dan setiap dari sejumlah besar kelompok yang menggunakan terorisme untuk mengatasi penderitaan-- harus mengenyahkan teror dan mencari cara-cara lain, yang niscaya melibatkan kompromi-kompromi. Barat harus menolak argumen bahwa setiap pemaafan --bahkan yang melibatkan alasan ketertindasan-- dapat 'mengurangi' hasrat untuk melakukan teror terhadap orang-orang tak berdosa." Ini merupakan kalimat-kalimat mulia, yang akan dianggap serius seandainya tekad kuat untuk menjatuhkan hukuman keras ini diterapkan bagi diri sendiri, bagi Kaisar dan para kliennya; jika tidak, kecaman-kecaman ini tak ada bedanya dengan ungkapan-ungkapan luhur yang dihasilkan oleh Dewan Perdamaian Dunia serta organisasi-organisasi front-Komunis lainnya berkenaan dengan penganiayaan-penganiayaan terhadap para pejuang Afghan. Mark Heller, wakil direktur Lembaga Jaffee untuk Kajian-Kajian Strategis di Universitas Tel Aviv, menjelaskan bahwa "Terorisme dukungan-negara merupakan perang berintensitas rendah, dan korban-korbannya, termasuk Amerika Serikat, karenanya berhak untuk menyerang balik dengan segala cara sesuai kemampuan mereka." Mestinya dilanjutkan dengan korban-korban lain demi "perang berintensitas rendah" dan "terorisme dukungan-negara" yang "berhak menyerang balik dengan segala cara sesuai kemampuan mereka": rakyat El Salvador, Nikaragua, Palestina, Lebanon dan segudang korban lain dari Kaisar dan para anak buahnya di seluruh bagian besar dunia.25 Tetapi, konsekuensi-konsekuensi ini tak dapat dipahami oleh Reich dan Heller maupun kebanyakan pembaca mereka; tidak pula mereka dibolehkan muncul dalam New York Times. Bahkan, seandainya ada orang yang menarik konsekuensi-konsekuensi logis dari penegasan Reich dan Heller dan mengungkapkannya dengan jelas, ia mungkin sekali dituntut karena mendorong kekerasan teroris terhadap para pemimpin politik Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Suara-suara yang paling skeptis di AS sepakat bahwa "Dukungan terbuka Kolonel Qaddafi terhadap terorisme merupakan kejahatan mencolok," dan "Tidak ada alasan untuk membiarkan para pembunuh berlalu tanpa dihukum bila Anda tahu otak di belakang mereka (sic). Bahwa tindakan pembalasan akan menewaskan sebagian penduduk sipil tak berdosa, tidak dapat dianggap sebagai faktor perintang sehingga negara-negara korban mestinya tak perlu takut untuk membalas."26 Prinsip ini memberi hak kepada sejumlah besar rakyat di seluruh dunia untuk membunuh Presiden Reagan dan membom Washington, bahkan sekalipun "tindakan pembalasan ini akan menewaskan sebagian penduduk sipil tak berdosa". Sukar dipercaya bahwa hanya segelintir kecil di antara masyarakat terpelajar Amerika yang dapat memahami kebenaran-kebenaran gamblang ini --dan mereka hampir tak mungkin diucapkan dalam sistem doktrinal. Selama keadaannya tetap demikian --dalam kasus-kasus yang sudah saya sebut dan banyak lagi lainnya-- kita menipu diri sendiri jika kita yakin bahwa kita berpartisipasi dalam sebuah masyarakat demokratis, kecuali dalam pengertian Orwellian dari diskursus akademis. Terjadi perdebatan runcing di media mengenai apakah para pembajak dan maling-maling itu layak diberi izin untuk mengungkapkan tuntutan dan pandangan-pandangan mereka; NBC, misalnya, dikecam keras karena menyiarkan sebuah wawancara dengan orang yang dituduh merencanakan pembajakan Achille Lauro. Dianggap bahwa dengan memberi mereka kebebasan bicara tanpa bantahan, berarti melayani kepentingan-kepentingan para teroris, suatu penyelewengan memalukan dari keseragaman yang dituntut dalam sebuah masyarakat bebas yang berjalan dengan baik. Bolehkah media mengizinkan Ronald Reagan, George Shultz, Menachem Begin, Shimon Peres, dan suara-suara lain sang Kaisar dan istananya untuk berbicara tanpa bantahan, yang mendorong "perang berintensitas rendah" dan "pembalasan" atau "tindakan mendahului"? Apakah dengan demikian media mengizinkan Para komandan teroris untuk bicara bebas, yang berarti melayani kepentingan agen-agen terorisme besar-besaran? Pertanyaan ini tak dapat diajukan, dan kalau dilontarkan --hanya disingkirkan dengan sikap muak atau garang. Bab-bab berikut akan memperlihatkan bahwa reaksi ini mencerminkan keberhasilan indoktrinasi, yang membuat orang tak memahami dunia nyata. Penyensoran harfiah nyaris tidak ada di Amerika Serikat, tetapi pengendalian pikiran merupakan industri yang subur; bahkan sesuatu yang mutlak harus ada dalam sebuah masyarakat yang didasarkan atas prinsip bahwa hanya elite yang berhak mengambil keputusan, dan prinsip pasivitas atau kepatuhan rakyat.[] Catatan kaki: * Tentara-centeng (proxy army): Dinas tentara suatu negara yang dimanfaatkan oleh negara lain, dalam hal ini Amerika Serikat, untuk menekan rakyatnya sendiri, terutama demi kepentingan negara yang memerintahkannya. Alasannya sederhana: untuk mengelakkan tuduhan invasi. --penerj. 14 Mengenai masalah-masalah ini, termasuk asal-usul konsep "aset strategis", perundingan-perundingan pasca-1973 yang menuju pada Camp David, dan aksi-aksi segera AS untuk menghapus "Rencana Reagan" September 1982 dan juga "Rencana Shultz" untuk Lebanon beberapa bulan setelahnya, lihat FT. Kenyataannya, yang umumnya sangat jelas pada waktu itu, amat berbeda dari versi-versi resmi yang diulang-ulang oleh media dan banyak pakar, sekalipun kadang sebagian diakui bertahun-tahun kemudian; lihat, misalnya, Bab Kedua, catatan kaki no. 47 dan teks. 15 Rubinstein, Davar, 5 Agustus 1983. 16 Jenderal (Purnawirawan) Mattiyahu Peled, "American Jewry: 'More Israeli than Israelis'," New Outlook, Mei juni 1975. Lihat juga Kolonel (Purnawirawan) Meir Pail, yang mengecam "penyembahan musyrik negara-benteng Yahudi" di kalangan komunitas Yahudi Amerika, memperingatkan bahwa dengan rejeksionisme mereka, mereka "telah mengubah Negara Israel menjadi dewa-perang yang mirip Mars", sebuah negara yang akan menjadi "sebuah gabungan kental struktur negara rasis Afrika Selatan dan jalinan sosial teroristis Irlandia Utara", "sebuah sumbangan orisinal bagi sejarah ilmu politik abad XXI: sejenis negara Yahudi unik yang akan membuat malu semua orang Yahudi di mana pun mereka berada, bukan hanya untuk masa sekarang, melainkan juga masa mendatang ("Zionism in Danger of Cancer", New Outlook, Oktober-Desember 1983, Januari 1984. 17 Lihat TNCW, 247 dst., untuk perinciannya. Tentang legislasi baru ini, lihat Aryeh Rubinstein, Jerusalem Post, 14 November 1985. Untuk komentar mutakhir pakar Israel, yang membandingkan hukum Israel dengan Aparteid Afrika Selatan, lihat Ori Shohet, "No One Shall Grow Tomatoes ...", Ha'aretz Supplement (27 September 1985, diterjemahkan dalam News from Within (Jerusalem, 23 Juni 1986), yang membahas manipulasi-manipulasi yang menjamin diskriminasi terhadap warga Arab Israel dan penduduk Arab di wilayah-wilayah pendudukan dalam hal pemilikan tanah dan hak-hak lainnya. Judul ini ("No One Shall Grow Tomatoes...") menunjuk pada peraturan-peraturan militer yang mewajibkan penduduk Arab di Tepi Barat untuk mendapatkan izin guna menanam pohon buah atau sayuran --salah satu dari sejumlah siasat yang digunakan untuk menjamin Israel mengambil alih tanah-tanah di sana dengan alasan yang kurang berdasar. 18 Paul Berman, 'The Anti-Imperialism of Fools", Village Voice, 22 April 1986, mengutip "sebuah esai inspiratif" oleh Bernard Lewis di New York Review yang memaparkan doktrin mujarab ini. Untuk beberapa pemaparan licik lainnya atas konsep anti-Semitisme, lihat FT, 14 dst. 19 Untuk pembahasan, lihat TNCW dan buku saya, For Reasons of State (Pantheon, 1973). 20 Untuk pembahasan tentang masalah-masalah ini, lihat rujukan catatan kaki no.13. Perlu dicatat bahwa kontributor-kontributor ini menganut pandangan yang lebih bernuansa tidak mengungkapkan pandangan mereka dalam kolom-kolom opini yang muncul di pers nasional. 21 Perlu diingat bahwa hal yang dipersoalkan adalah rentang yang diizinkan bagi pengungkapan ekspresi di forum nasional, bukan kontribusi-kontribusi individual, yang harus dinilai atas dasar baik-buruknya masing-masing. 22 Lihat, umpamanya, Timothy Garton Ash, "New Orthoxies: I," Spectator (London), 19 Juli 1986. "Perdebatan" lucu (yang di dalamnya hanya satu sisi yang mendapat sambutan publik di tengah uraian terperinci pihak lawannya) mengenai "kesepadanan moral" di AS ini patut dibahas tersendiri. 23 New York Review of Books, 14 Agustus 1986. 24 "Non-Orwellian Propaganda System", Thoreau Quarterly, Musim Dingin/ Semi 1984. Lihat perbincangan saya dengan sekelompok wartawan yang dimuat di sini, dan diskusi selanjutnya untuk membahas lebih terperinci topik-topik ini. 25 Reich, NYT, 24 Juli; Heller, NYT, 10 Juni 1986. 26 Anthony Lewis, NYT, 21 April 1986. ||_______ Terorisme Timur Tengah dan Sistem Ideologi Amerika (1/3) Pada 17 Oktober 1985, Presiden Reagan bertemu di Washington dengan Perdana Menteri Israel Shimon Peres, yang berkata kepadanya bahwa Israel telah siap mengambil "langkah- langkah besar" di Timur Tengah dan memperluas "tangan perdamaian" ke Yordania. "Kunjungan Mr. Peres berlangsung pada saat hubungan Amerika-Israel sangat harmonis," komentar David Shipler di Times, mengutip seorang pejabat Departemen Luar Negeri yang melukiskan hubungan AS dan Israel sebagai "luar biasa kuat dan intimnya". Dan memang, Peres disambut hangat oleh media Amerika sebagai tokoh perdamaian, dan memuji komitmen-kukuhnya untuk "lebih baik menanggung biaya perdamaian daripada membayar harga peperangan", dalam kata-katanya sendiri. Presiden berkata bahwa ia dan Mr. Peres membahas "momok bengis terorisme, yang telah membegal begitu banyak korban Israel, Amerika, dan Arab, dan menimbulkan petaka kepada banyak orang lainnya", lalu menambahkan, "Kami sepakat bahwa terorisme tidak boleh merintangi upaya-upaya kami untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah."1 Agaknya dibutuhkan bakat-bakat seorang Jonathan Swift untuk bertindak adil terhadap pembicaraan antara dua komandan teroris terkemuka dunia ini, yang sama-sama memegang konsepsi tentang "perdamaian" yang, selanjutnya, menggusur sepenuhnya salah satu dari kedua kelompok yang mengklaim hak menentukan nasib sendiri di bekas Palestina: penduduk asli. Lembah Yordan merupakan "bagian tak terpisahkan dari Negara Israel," kata sang tokoh perdamaian Shimon Peres ketika mengunjungi permukiman-permukiman Israel di sana pada 1985, konsisten dengan pendirian-gigihnya bahwa "Masa silam itu abadi dan Alkitab adalah dokumen yang tegas dalam menentukan nasib tanah air kita", dan bahwa sebuah negara Palestina akan "mengancam langsung eksistensi Israel".2 Konsepsinya tentang sebuah negara Yahudi, yang banyak dipuji di Amerika lantaran moderasinya, tidak mengancam, tetapi cuma melenyapkan eksistensi bangsa Palestina. Tetapi, konsekuensi ini dianggap sepele saja, paling buruk hanya dipandang sebagai cacat kecil dalam sebuah dunia yang memang tak sempurna. Baik Peres maupun semua pemimpin lain Israel tak pernah beringsut seinci pun dari posisi Chaim Herzog pada 1972, bahwa bangsa Palestina tidak akan pernah menjadi "mitra dalam segala bentuk di tanah yang telah dinyatakan suci untuk bangsa kita selama beribu-ribu tahun", walaupun para "merpati" lebih menginginkan supaya daerah-daerah Tepi Barat yang padat penduduk Arab dikeluarkan dari Negara Yahudi untuk menghindari apa yang secara eufimistis mereka sebut "problem kependudukan". Mantan kepala dinas intelijen Israel, Shlomo Gazit, pejabat senior dalam pemerintahan militer dari 1967 sampai 1973, menyatakan prinsip dasarnya adalah "bahwa dirasa perlu untuk mencegah penduduk daerah-daerah (pendudukan) dari keikutsertaan dalam mewarnai masa depan politik di wilayah itu, dan mereka tidak boleh dipandang sebagai mitra untuk berhubungan dengan Israel"; sehingga, "dilarang mutlak (bagi mereka) untuk menjalankan segala macam organisasi politik, sebab sudah dengan jelas dipahami oleh setiap orang bahwa jika organisasi dan aktivitas politik diizinkan, para pemimpinnya akan menjadi peserta-peserta potensial dalam urusan politik". Pertimbangan-pertimbangan serupa mengharuskan "penghancuran semua prakarsa dan setiap upaya di pihak penduduk daerah-daerah itu untuk berperan sebagai saluran bagi perundingan-perundingan dan untuk menjadi penghubung bagi para pemimpin Arab Palestina di luar daerah-daerah tersebut". Gazit menyimpulkan bahwa kebijakan pemerintah Israel adalah sebuah "kisah sukses", sebab tujuan-tujuan ini --yang tetap kukuh sampai hari ini-- telah tercapai. Posisi Israel, dengan didukung AS, tetap seperti sikap Perdana Menteri (sekarang Menteri Pertahanan) Yitzhak Rabin, ketika PLO dan negara-negara Arab mengajukan usulan untuk pemecahan damai dua-negara kepada PBB pada Januari 1976: Israel akan menolak setiap perundingan dengan PLO, bahkan sekalipun ia mengakui Israel dan menghentikan terorisme, dan tidak akan masuk dalam "perundingan-perundingan politik dengan bangsa Palestina", PLO atau bukan.3 Baik Peres maupun Reagan tidak akan mau untuk sekadar mempertimbangkan usulan-usulan jelas PLO --yang diketahui oleh keduanya memperoleh dukungan melimpah di kalangan bangsa Palestina dan betul-betul sama sahnya dengan yang dilakukan organisasi Zionis pada 1947-- untuk menyelenggarakan perundingan-perundingan yang mengarah pada pengakuan timbal-balik dalam pemecahan dua-negara, sesuai dengan konsensus internasional luas yang telah dirintangi pada setiap kesempatan oleh AS dan Israel selama bertahun-tahun.4 Realitas-realitas politik yang rawan ini memberi kerangka yang perlu bagi setiap pembahasan tentang "momok bengis terorisme". Dalam pengertian-pengertian rasis dalam diskursus Amerika, hal ini berarti menunjuk pada aksi-aksi teroris oleh bangsa Arab, tapi tidak oleh Yahudi, sebagaimana "perdamaian'" berarti penanganan yang menghormati hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Yahudi, tapi tidak bagi bangsa Palestina. Peres tiba di Washington untuk membicarakan perdamaian dan terorisme dengan mitra kriminalnya, langsung setelah ia mengirim pesawat-pesawat pembom untuk menyerang Tunisia. Di sinilah tempat mereka membunuh 20 orang Tunisia dan 55 orang Palestina, menurut wartawan Israel Amnon Kapeliouk yang melaporkan dari tempat kejadian. Sasarannya sama sekali tak punya pertahanan: "sebuah kompleks peristirahatan yang terdiri dari beberapa lusin rumah, penginapan-penginapan, dan kantor-kantor PLO yang bersebelahan dan bercampur sedemikian rupa sehingga dilihat dari dekat pun kita sukar membedakan" tempat-tempat itu. Senjata-senjatanya lebih canggih daripada yang digunakan di Beirut, tampaknya "bom-bom pintar", yang meremukkan sasaran-sasaran mereka sampai jadi abu. "Orang-orang yang berada di gedung-gedung yang dibom remuk sampai tak dapat dikenali. Mereka menunjukkan kepada saya foto-foto korban. 'Anda boleh mengambilnya,' kata mereka kepada saya. Saya meninggalkan foto-foto itu di kantor. Tidak ada satu pun surat kabar di dunia ini yang akan memuat foto-foto menyeramkan semacam itu. Saya diberi tahu bahwa seorang bocah Tunisia yang sedang menjual roti di dekat markas besar (PLO) hancur berkeping-keping. Ayahnya mengenali tubuhnya dari sebuah bekas luka di pergelangan kakinya. 'Sebagian yang terluka dikeluarkan dari reruntuhan, kelihatannya sehat-sehat saja dan tidak parah,' tutur pemandu kepada saya. 'Setengah jam kemudian mereka menggelepar-gelepar dan pingsan, lalu mati. Rupanya organ-organ dalam mereka hancur karena kekuatan ledakan'."5 Tunisia menerima pejuang Palestina atas perintah Reagan setelah mereka terusir dari Beirut dalam invasi dukungan AS yang menewaskan sekitar 20.000 orang dan menghancurkan bagian-bagian besar negeri itu. "Kalian memakai godam untuk membunuh kupu-kupu," begitu dikatakan kepada wartawan militer Israel Ze'ev Schiff oleh "tokoh penting Pentagon, seorang jenderal yang sangat mengenal dinas militer Israel (IDF) dan beberapa angkatan darat lain di kawasan ini". "Kalian menghajar banyak penduduk sipil tanpa perlu. Kami sangat kaget melihat sikap kalian terhadap penduduk sipil Lebanon." Keterkejutan serupa juga dirasakan oleh serdadu dan para perwira senior Israel yang ngeri menyaksikan kebuasan serangan ini dan perlakuan kejam terhadap penduduk sipil dan Para tawanan6 --walaupun dukungan di Israel untuk agresi ini dan tim Begin-Sharon meningkat seiring dengan penganiayaan-penganiayaan, yang mencapai puncak amat tinggi setelah pemboman dahsyat atas Beirut pada Agustus.7 Shimon Peres, sang tokoh perdamaian dan figur terpandang dalam Sosialis Internasional, tetap membungkam sampai harga-harga yang harus dibayar Israel mulai memuncak dengan pembantaian-pembantaian pasca-perang di Sabra dan Shatila, dan biaya itu dibayarkan kepada pertahanan rakyat Lebanon, yang melenyapkan rencana Israel untuk membentuk "Orde Baru" di Lebanon. Israel menguasai kawasan-kawasan luar di selatan dan sisanya digenggam oleh sekutu-sekutu Phalangis Israel dan elite-elite Muslim tertentu. Tidak dapat diragukan, komentar Kapeliouk, bahwa Arafat merupakan sasaran serangan Tunisia itu. Di kantor PLO tempat ia ,diamankan, sebuah foto Arafat berdiri di tengah reruntuhan dengan judul, "Mereka mau membunuhku, bukan ingin berunding denganku". "PLO ingin sekali mengadakan perundingan-perundingan," kata seorang tokoh PLO kepada Kapeliouk, "tapi Israel menolak setiap pembicaraan"--sebuah pernyataan gamblang tentang fakta yang dengan efektif disembunyikan oleh media AS atau, lebih buruk lagi, dikubur lantaran tak relevan menurut premis-premis rasis yang dijadikan pedoman. Keterlibatan AS dalam serangan Tunisia juga tak dapat diragukan dengan serius. AS bahkan tak memperingatkan para korban --sekutu-sekutu dekat Amerika-- bahwa para pembunuh sedang mengintai. Orang yang mempercayai kepura-puraan AS bahwa Armada Keenam dan sistem pengawasan ekstensif AS di kawasan itu tak mampu mendeteksi pesawat-pesawat Israel yang mengisi bahan bakar selama terbang di atas Mediterania, perlu meminta penyelidikan Konggres tentang ketidakandalan total militer Amerika, yang jelas akan membiarkan kita dan sekutu-sekutu kita terbuka lebar bagi serangan musuh. "Laporan-laporan berita kini mengutip sumber-sumber pemerintah yang mengatakan bahwa Armada Keenam AS pasti tahu tentang datangnya serangan, tapi memutuskan untuk tak memberi tahu para pejabat ,Tunisia," lapor Los Angeles Times, mengutip kantor-kantor berita. Tetapi, "pernyataan yang amat penting itu tak dilaporkan dalam koran-koran besar pantai timur, The New York Times dan The Washington Post, tidak juga dalam koran-koran lain AS, tak pula ia dimanfaatkan dalam kantor-kantor berita internasional (AP dan PPI)," ungkap koresponden Economist London di Timur Tengah, Godfrey Jansen, yang menambahkan bahwa "persekongkolan pasif AS sungguh-sungguh tampak jelas".8 Salah seorang korban pemboman Tunisia adalah Mahmoud el Mughrabi, kelahiran Jerusalem pada 1960. Dia pernah ditahan dua belas kali pada usia enam belas tahun, salah satu informan penyelidikan London Sunday Times tentang penganiayaan di Israel (19 Juni 1977), yang "bermaksud melarikan diri ke Yordania sesudah bertahun-tahun hidup menderita di bawah kondisi-kondisi yang terus memburuk oleh pendudukan militer." Demikian menurut catatan kenangan oleh sahabat-sahabat Yahudi Israelnya yang berkali-kali dilarang dimuat di koran-koran Arab di Jerusalem Timur oleh penyensoran militer Israel.9 Fakta-fakta ini, sudah tentu, tak digubris di Amerika Serikat. Ini hanya lantaran studi Sunday Times itu umumnya disingkirkan dari pers, walaupun ia dikutip di New Republic yang liberal, bersama dengan suatu pembelaan terang-terangan atas penganiayaan terhadap orang Arab, yang tak menimbulkan reaksi publik."10 Amerika Serikat secara resmi menyambut hangat pemboman Israel atas Tunisia ini sebagai "sebuah respons yang sah" terhadap "serangan-serangan teroris". Menteri Luar Negeri Shultz menegaskan penilaian ini dalam percakapan telepon dengan Menlu Israel Yitzhak Shamir, dan mengabarkan bahwa Presiden dan pejabat-pejabat lainnya "teramat bersimpati dengan tindakan Israel ini," kata laporan pers." AS menarik kembali dukungan terbuka ini sesudah munculnya reaksi di seluruh dunia, tetapi ia abstain dari kutukan Dewan Keamanan PBB terhadap "tindakan agresi bersenjata" yang "terang-terangan melanggar Piagam PBB, hukum internasional dan norma-norma perilaku" --seperti biasa, yang bersikap abstain hanya AS sendirian. Iklim kultural dan intelektual di Amerika tercermin dari kenyataan bahwa abstain ini dikecam keras karena dipandang sebagai bentuk lain dari pendirian "pro-PLO" dan "anti-Israel", dan penolakan untuk menghajar habis para teroris --yang diseleksi dengan seksama. Orang boleh menandaskan bahwa pemboman Israel tersebut tidaklah termasuk dalam kategori terorisme internasional sebab itu merupakan agresi yang kejahatannya jauh lebih serius, seperti ditegaskan oleh Dewan Keamanan PBB. Atau, orang dapat menegaskan bahwa tidaklah adil untuk menerapkan kepada Israel definisi "terorisme internasional" yang dirumuskan pihak lain. Untuk menangkis penegasan terakhir, kita boleh mempertimbangkan doktrin Israel sendiri, seperti dirumuskan oleh Duta Besar Benjamin Netanyahu di sebuah Konferensi Internasional tentang Terorisme. Faktor khas dalam terorisme, katanya menjelaskan, adalah "pembunuhan sistematis dan sengaja dan pencekaman (penduduk sipil) yang dimaksudkan untuk menimbulkan rasa takut",12 Jelaslah bahwa serangan Tunisia dan kebiadaban-kebiadaban Israel lainnya selama berpuluh tahun masuk dalam konsep ini, meskipun kebanyakan aksi terorisme internasional tidak termasuk. Misalnya, serangan-serangan teroris yang paling ganas terhadap orang Israel (Ma'alot, pembantaian Munich, kekejaman di daerah pantai pada 1978 yang dijadikan dalih bagi penyerbuan Lebanon, dan lain-lain), atau bahkan pembajakan pesawat terbang atau penyekapan sandera, yang banyak sekali disoroti dan merupakan topik pokok konferensi yang ia hadiri. Serangan atas markas besar Arafat tersebut diduga sebagai pembalasan bagi pembunuhan tiga orang Israel di Larnaca, Cyprus, oleh para penyerang yang kemudian tertangkap dan diadili karena kejahatan mereka. "Para diplomat Barat ahli PLO" meragukan bahwa Arafat mengetahui misi terencana itu, dan "Pihak Israel juga sudah mencabut tuduhan awal mereka bahwa Mr. Arafat terlibat".13 Para pembela terorisme Israel di Amerika, yang mencoba meyakinkan kita bahwa "berondongan bom Israel di Tunisia tepat mengenai orang-orang yang bertanggung jawab atas aktivitas-aktivitas teroris", amat meragukan; mereka juga menjelaskan bahwa apa pun fakta-fakta yang ada, "tanggung jawab moral yang besar bagi kebiadaban-kebiadaban ... semuanya berada di pundak Yasser Arafat "karena" dia sejak dulu sampai sekarang adalah bapak pendiri kekerasan Palestina kontemporer ini". Dalam sebuah pernyataan kepada kelompok lobi Israel, AIPAC, Jaksa Agung Edwin Meese menandaskan bahwa AS akan menangkap Arafat karena "bertanggung jawab atas aksi-aksi terorisme internasional", sementara fakta-fakta yang ada tampak sama sekali tak relevan.14 Maka, setiap tindakan "terhadap PLO" --sebuah kategori yang teramat luas, sebagaimana diperlihatkan oleh catatan sejarah adalah sah belaka. Serangan Tunisia tersebut konsisten dengan perbuatan Israel sejak hari-hari pertama negara ini: pembalasan diarahkan kepada mereka yang lemah, bukan para pelaku kekerasan. Kecaman standar atas PLO ialah bahwa "Bukannya menyerang langsung musuh-musuh yang sadar-keamanan seperti Israel, kelompok Palestina menyerang sasaran-sasaran yang lebih empuk, yaitu orang-orang Israel di Italia, Austria, dan tempat-tempat lain"15 sebuah tanda lain tentang kebusukan dan kepengecutan mereka. Perbuatan Israel serupa, yang dilakukan sejak jauh sebelumnya dan lebih luas skalanya, lolos dari catatan di tengah sanjungan umum bagi heroisme, efisiensi militer, dan "kesucian tangan" Israel. Konsep "pembalasan" juga menimbulkan sejumlah besar pertanyaan, sebuah persoalan yang akan segera kita bicarakan. Menjelang tahun 1985 berakhir, pers meninjau catatan tentang "satu tahun terorisme internasional yang berdarah", termasuk pembunuhan-pembunuhan di Larnaca pada 25 September, pembajakan Achille Lauro, dan pembunuhan seorang wisatawan Amerika pada 7 Oktober. Serangan 1 Oktober Israel tak dimasukkan dalam daftar. Dalam ulasan panjang akhir-tahunnya tentang terorisme, Times sedikit menyinggung pemboman Tunisia, tapi sebagai sebuah contoh tentang pembalasan, bukan terorisme, dan melukiskannya sebagai "sebuah tindakan karena terpojok, yang berpengaruh kecil atas kekerasan pihak Palestina dan menimbulkan kecaman bangsa-bangsa lain". Profesor Hukum Harvard, Alan Dershowitz, mengecam Italia atas keterlibatannya dalam terorisme internasional dengan melepaskan orang "yang diduga mengotaki pembajakan itu", dan menyatakan bahwa AS "pasti akan mengekstradisi setiap teroris Israel yang telah melakukan kekerasan terhadap warga-warga negara lain" --misalnya Ariel Sharon, Yitzhak Shamir, atau Menachem Begin. Pernyataan ini muncul tepat pada hari Shimon Peres dijamu di Washington segera setelah pemboman Tunisia dan disanjung untuk komitmennya kepada perdamaian; dan pernyataan ini dianggap sepenuhnya wajar dalam iklim kultural yang berlaku.16 Ucapan-ucapan Reagan tentang terorisme dilaporkan dan dibahas dengan sangat serius dalam media arus-utama. Tetapi, kadang-kadang, para kritikus menyoroti kemunafikan orang-orang yang mengutuk keras terorisme internasional sementara mengirim tentara-tentara klien mereka untuk membunuh, memotong-motong, menyiksa, dan menghancurkan di Nikaragua. Pembantaian ini kurang banyak disinggung karena dianggap sebagai sebuah sukses besar. Berpuluh-puluh ribu orang di El Salvador dalam suatu upaya tekun dan sukses menghindarkan ancaman gawat berupa terwujudnya demokrasi sejati di sana, kendati Reagan --si pendatang baru di atas panggung-- tak dapat dinyatakan sebagai salah seorang dari "bapak-bapak pendiri terorisme Amerika Tengah kontemporer" di Washington. Tak lama setelah pembicaraan Reagan-Peres tentang perdamaian dan teror, sekelompok 120 dokter, perawat, dan petugas-petugas kesehatan lainnya, kembali dari sebuah investigasi di Nikaragua yang didukung oleh Asosiasi Kesehatan Masyarakat Amerika dan Organisasi Kesehatan Dunia, yang melaporkan kerusakan klinik dan rumah-rumah sakit, pembunuhan para petugas kesehatan, penggarongan apotek-apotek pedesaan yang menyebabkan kekurangan persediaan obat-obatan, dan pengacauan sukses atas sebuah program vaksinasi polio --semuanya adalah bagian kecil dari kampanye kekerasan yang diorganisasikan di pusat-pusat terorisme internasional di Washington dan Miami;17 wartawan Times di Nikaragua menyamai para sejawat Pravda mereka di Afghanistan dalam kegigihan untuk menggali dan menggeledah bukti massif tentang kebiadaban-kebiadaban Contra, dan laporan ini --sebagaimana banyak lainnya-- tak dimuat dalam Newspaper of Record. Pemboman Tunisia menghasilkan suatu tolok-ukur hipokrisi, yang tak selalu mudah untuk dipegang. Umpamakan Nikaragua melakukan pemboman di Washington, dibidikkan kepada Reagan, Shultz, dan para teroris internasional lainnya, menewaskan sekitar 100.000 orang "secara tak sengaja". Ini tentunya merupakan pembalasan yang sepenuhnya dibenarkan menurut standar Amenka, jika seandainya pembandingan 25 : 1 dapat diterima --seperti dalam imbal-bunuh Larnaca-Tunisia-- meskipun kita boleh menambahkan demi akurasi bahwa dalam kasus ini (pembidikan Reagan dan lain-lain), setidaknya yang dibidik memang adalah para pelaku terorisme dan tidaklah penting siapa yang melakukan teror ini. Barangkali jumlah besar korban itu harus dilipatgandakan dengan mempertimbangkan faktor yang menyangkut ukuran-ukuran jumlah relatif penduduk. "Para teroris, dan orang-orang yang mendukung mereka, harus dan akan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan (perbuatan mereka)," tandas Presiden Reagan ,18 yang berarti memberikan landasan moral bagi segala tindakan pembalasan, dan ini sesuai bulat dengan sikap para pengecamnya yang paling tajam di pers arus-utama, seperti sudah kita lihat. Peres telah memancing dirinya sebagai seorang tokoh perdamaian di Lebanon.19 Sesudah ia menjadi perdana menteri, program-program "kontra-teror" Israel terhadap penduduk sipil di kawasan selatan Lebanon yang diduduki, diintensifkan. Ini mencapai puncak kebuasannya dengan operasi-operasi Tinju Besi (Iron Fist) di awal 1985 yang, menurut Curtis Wilkie yang menegaskan laporan-laporan para wartawan lain di tempat kejadian, "ciri-cirinya sama dengan pasukan-pasukan maut yang beroperasi di Amerika Latin". Di desa Zrariya, misalnya, tentara Israel (IDF) mengupayakan niatnya untuk mencapai "kesucian tangan" dengan menggencarkan sebuah operasi sampai jauh ke utara dari garis front-nya waktu itu. Setelah berjam-jam memberondong Zrariya serta tiga desa tetangganya, IDF mengangkut semua penduduk pria, menewaskan 3.540 warga desa, sebagian dalam mobil-mobil yang dilindas oleh tank-tank Israel. Penduduk desa-desa lain digebuki atau langsung dibunuh, sebuah tank menembaki para petugas Palang Merah yang telah diperingatkan supaya pergi, dan serdadu-serdadu Israel secara ajaib lolos dengan utuh dari apa yang menurut keterangan resmi adalah pertempuran bersenjata melawan para gerilyawan bersenjata berat. Sehari sebelumnya, dua belas serdadu Israel tewas dalam sebuah serangan bunuh-diri di dekat perbatasan, tetapi Israel menyangkal bahwa serangan atas Zrariya adalah pembalasan. Bantahan Israel ini dengan takzim disajikan sebagai fakta oleh para pembelanya di Amerika, yang menjelaskan bahwa "dinas intelijen sudah memastikan bahwa desa itu telah menjadi basis bagi teroris ... Tak kurang dari 34 gerilyawan Syi'ah yang tewas dalam pertempuran bersenjata tersebut, dan lebih dari 100 orang yang diangkut untuk diperiksa --hanya dari satu desa kecil" (Eric Breindel), yang menyiratkan luasnya jaringan teror Syi'ah. Tanpa sadar akan Garis Partai, para serdadu Israel menuliskan slogan "Pembalasan Dendam Pasukan Pertahanan Israel" dalam bahasa Arab di tembok-tembok desa itu, menurut para wartawan di tempat kejadian.20 Di tempat lain, penembak-penembak Israel menembaki rumah sakit dan sekolah-sekolah serta menciduk "para tersangka", termasuk pasien di ranjang-ranjang rumah sakit dan kamar-kamar operasi, untuk "diperiksa" atau dikirim ke kamp-kamp konsentrasi Israel; masih banyak bentuk kekejian lainnya sehingga seorang diplomat Barat yang sering mengunjungi daerah itu melukiskannya sebagai mencapai ukuran-ukuran baru dalam "kebrutalan terencana dan pembunuhan sewenang-wenang.21 Kepala unit penghubung IDF di Lebanon, Jenderal Shlomo Ilya, "mengatakan, satu-satunya senjata terhadap terorisme adalah terorisme, dan bahwa Israel memiliki cara-cara lain selain yang sudah digunakan untuk 'berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh para teroris'." Konsep ini bukanlah baru. Operasi-operasi Gestapo di kawasan Eropa yang didudukinya juga "menjustifikasi dengan dalih memerangi 'terorisme'," dan salah seorang korban Klaus Barbie ditemukan tewas dengan sebuah catatan termuat di dadanya, berbunyi "Teror atas Teror" --sama dengan dalih yang kadang ditulis oleh sebuah kelompok teroris Israel, dan judul laporan utama Der Spiegel tentang pemboman teror AS atas Libya pada April 1986. Sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk "tindakan dan perbuatan-perbuatan Israel terhadap penduduk sipil di Lebanon Selatan" diveto oleh Amerika Serikat dengan alasan bahwa resolusi itu "memakai standar-standar ganda"; "Kami tidak yakin bahwa sebuah resolusi timpang akan mengakhiri kesengsaraan Lebanon," ujar Dubes AS di PBB, Jeane Kirkpatrick.22 Operasi-operasi teror Israel terus digencarkan ketika pasukannya terpaksa mundur karena perlawanan rakyat.Untuk menyebut sekadar sebuah contoh, pasukan Israel bersama serdadu Tentara Lebanon Selatan (SLA) upahan mereka membawakan "satu tahun terorisme internasional berdarah" sampai tuntas pada 31 Desember 1985. Mereka "menggempur sebuah desa Muslim Syi'ah (Kunin) di Lebanon Selatan dan memaksa seluruh kira-kira 2.000 penduduknya untuk hengkang". Membumihangus rumah-rumah dan menembaki tempat-tempat lain, dan menangkap 32 pemuda. Orang tua, wanita, dan anak-anak desa itu dilaporkan digiring ke sebuah kota di luar "zona keamanan" Israel --tempat pasukan PBB memiliki sebuah pos komando.23 Laporan ini, yang didasarkan atas para saksi mata yang dikutip polisi Lebanon, seorang wartawan jurnal konservatif Beirut An Nahar, dan gerakan Amal Syi'ah, dihimpun dari Beirut. Dari Jerusalem, Joel Greenberg mengungkapkan sebuah versi lain, bukan karena berdasarkan sumber-sumber yang jelas, melainkan lantaran fakta gamblang: "Penduduk yang takut akan pembalasan SLA meninggalkan desa Syi'ah Kunin, setelah dua serdadu SLA dibantai di desa ini."24 Berita pembanding itu, yang sangat tipikal, amat diperlukan. Propaganda Israel memetik banyak keuntungan dari kenyataan bahwa media banyak sekali bersandar pada koresponden-koresponden yang berpangkalan di Israel. Ini inemberi dua keuntungan penting: pertama, "berita" itu disajikan kepada khalayak Amerika melalui pandangan pejabat Israel; kedua, kadang-kadang kalau para koresponden AS melakukan penyidikan sendiri, bukan cuma mengandalkan tuan-tuan rumah mereka yang ramah, sistem propaganda Israel beserta sejumlah besar filial Amerikanya dapat mengeluh berat bahwa kejahatan-kejahatan Arab tak dihiraukan, sementara Israel jadi bulan-bulanan pembeberan terperinci karena cacat-cacat kecil, yang dipaparkan di sepanjang laporan. Ketakmampuan mengatur berita dengan cara lazim terkadang menimbulkan masalah. Misalnya, pada perang Lebanon 1982, ketika Israel tak punya jalan untuk mengendalikan laporan pandangan mata oleh para wartawan yang berpangkalan di Lebanon. Hal itu membangkitkan badai protes keras atas fitnah dan prasangka tindak penganiayaan dalam suatu "perang psikologi massa besar-besaran" yang ditujukan kepada Israel kecil yang merana tanda lain tentang keberakaran anti-Semitiame dalam opini dunia; Israel menjadi korban, bukan agresor. Mudahlah untuk memperlihatkan bahwa tuduhan-tuduhan ini palsu, sering cuma menggelikan, dan dapat diduga bahwa media akan tunduk untuk melihat persoalan-persoalan dari sudut-pandang Israel; bukanlah hal yang mudah bagi para wartawan untuk mencoba.menutup-nutupi pemboman teror Israel. Kenyataannya, kesaksian dari sumber-sumber Israel acap kali lebih keras daripada yang dilaporkan dalam pers AS, dan apa yang muncul dalam jurnal-jurnal AS sering merupakan versi yang sudah teramat dilunakkan dari apa yang sungguh-sungguh dilihat oleh para wartawan.25 Tetapi, tuduhan-tuduhan ini dianggap sangat serius walaupun keganjilannya teramat jelas, sementara kritik telak atas media untuk ketundukannya pada perspektif AS-Israel dan pemberangusan fakta-fakta yang tak dapat diterima, seperti biasa, sama sekali tak dihiraukan. Demikianlah, sebuah studi tentang "Analiaia yang Terbit dari Liputan Media tentang Perang 1982 di Lebanon" memuat sekeranjang kecaman pers untuk pendirian yang dianggap anti-Israel dan sedikit pembelaan media terhadap dakwaan-dakwaan ini, namun tak memberikan satu pun rujukan pada kenyataan bahwa terdapat analisis kritis, ekstensif, dan sangat akurat, persis mengenai kenyataan sebaliknya26. Dalam batas-batas ketat iklim intelektual AS yang sangat ideologis, hanya kritik pertama yang dapat didengar. Terkadang, ini merupakan kenyataan yang amat tipikal, terlihat gamblang dalam kaitannya dengan perang Indocina, perang Amerika Tengah dan lain-lain, dan berperan sebagai bentuk lain manipulasi dalam pengendalian pikiran. Operasi-operasi Tinju Besi tersebut, yang dilukiskan dengan ceria sebagai "terorisme" oleh komandan Israel (lihat penegasan Jenderal Ilya yang dikutip di atas), mempunyai dua tujuan. Pertama, menurut John Kifner (dari Lebanon), adalah "untuk mengalihkan penduduk agar menentang gerilyawan dengan membuat biaya untuk mendukung mereka terlalu mahal"; singkatnya, untuk menjadikan penduduk sebagai sandera dari serangan teroris, kecuali kalau mereka menerima kesepakatan-kesepakatan yang ingin dipaksakan Israel dengan kekerasan. Tujuan kedua adalah untuk memperuncing konflik-konflik internal di Lebanon dan untuk menerapkan penukaran penduduk setelah perseliaihan antarkomunitas, yang sebagian besar terjadi karena hasutan sang penjarah sejak 1982, dengan cara klasik. "Ada sejumlah besar bukti," kata koresponden Lebanon Jim Muir, "bahwa Israel turut mengipas dan mendorong konflik Kristen Druze" di daerah Chouf di belahan selatan, kata seorang pejabat senior bantuan internasional: "Departemen taktik-taktik kotor mereka melakukan segala yang ia mampu untuk mengobarkan kericuhan, tapi usaha ini gagal." "Perbuatan mereka sangat keji," menurut pandangan yang "dianut oleh keseluruhan komunitas pemulihan internasional." "Para saksi mata setempat melaporkan bahwa serdadu-serdadu Israel sering menembaki kamp-kamp Palestina agar memusuhi warga Kristen", dan penduduk di desa-desa Kristen melaporkan bahwa pasukan patroli Israel memaksa kaum Kristen dan Muslim dengan todongan senapan untuk saling memukul, disamping bentuk-bentuk lain "penghinaan yang ganjil". Taktik-taktik ini akhirnya manjur. Sekutu-sekutu Kristen Israel menyerang kaum Muslim di dekat Sidon dengan cara yang menjamin pemunculan respons dari pasukan yang jauh lebih kuat, dimaksudkan untuk menciptakan suatu lingkaran kekerasan berdarah yang akhirnya menyebabkan perginya puluhan ribu orang Kristen --sebagian besar ke daerah-daerah Israel di selatan-- sementara puluhan ribu umat Syi'ah tergiring ke utara oleh operasi-operasi Tinju Besi.27 Dalih yang berkembang di Amerika Serikat ialah bahwa Israel selalu merencanakan untuk mundur sambil memberi kemungkinan kepada teroris Sy'iah secara leluasa memuaskan kegemaran lazim Arab dalam urusan kekerasan. Karena itu, pengunduran yang sudah direncanakan ini harus ditunda. Tetapi, seperti dengan tepat dikemukakan oleh Jim Muir, "adalah fakta historis yang tak diperdebatkan dengan serius bahwa penyebab orang-orang Israel itu tidak akan mundur sekarang bukanlah serangan-serangan beserta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkannya", dan derajat pengunduran itu akan ditentukan oleh intensitas perlawanan.28 Komando tertinggi Israel menjelaskan bahwa Para korban operasi-operasi Tinju Besi adalah "warga-warga desa teroris"; maka dapat dimengerti kalau ada tiga belas warga desa yang dibantai oleh milisi SLA dalam peristiwa yang melahirkan observasi ini. Yossi Olmert dari Institut Shiloah, lembaga kajian strategis Israel, mengungkapkan bahwa "teroris-teroris ini beroperasi dengan dukungan bagian terbesar penduduk setempat". Seorang komandan Israel mengeluh bahwa "kelompok teroris ... punya banyak-mata di sini sebab mereka tinggal di sini". Sementara koresponden militer Jerusalem Post melukiskan problem-problem yang dihadapi dalam memerangi para "teroris bayaran" dan "kaum fanatik, yang semuanya cukup gigih memperjuangkan kehendak mereka, sampai berani menempuh risiko mati dalam operasi melawan IDF", yang harus "menjaga ketertiban dan keamanan" kendatipun ada "harga yang harus dibayar oleh penduduk". Ia juga menyampaikan "penghargaan terhadap cara yang mereka gunakan dalam menunaikan tugas mereka". Leon Wieseltier menjelaskan perbedaan antara "terorisme Syi'ah" terhadap tentara penjarah dan terorisme Palestina, yang masing-masing mencerminkan watak jahat Arab: "Kelompok Palestina memiliki pembunuh-pembunuh yang ingin membunuh, kelompok Syi'ah memiliki .pembunuh-pembunuh yang ingin mati, ingin melakukan aksi-aksi yang "diilhami oleh suatu tuntutan mesianistis atas dunia, yang tak cukup sekadar dipenuhi secara diplomatis atau politis", dan sama sekali tak sesederhana seperti mengusir tentara penjarah dari negeri mereka. Bahkan, "tentara rahasia" Amal mereka telah "ber-bai'at" untuk "menghancurkan Israel" sejak pembentukannya pada 1975 --omong kosong yang subur melampaui dongeng-dongeng yang dicekokkan oleh para gurunya.29 Konsep terorisme serupa digunakan luas oleh para komentator dan pejabat AS. Maka, pers melaporkan, tanpa ulasan, bahwa keprihatinan Menlu Shultz atas "terorisme internasional" menjadi "semangat jiwanya" setelah pemboman bunuh-diri atas Marinir AS di Lebanon pada Oktober 1983, serdadu-serdadu yang dipandang oleh banyak penduduk sebagai --dan ini sangat wajar-- pasukan militer asing yang dikirim untuk memaksakan "Orde Baru" yang dibangun oleh agresi Israel. Barry Rubin menulis bahwa "Penggunaan Terorisme dukungan Syria yang paling penting di Lebanon adalah untuk memaksa pengunduran serdadu Israel dan pasukan Marinir AS". Sementara Iran maupun Syria telah mendukung "aktivitas teroris" oleh "kelompok-kelompok ekstremis Syi'ah" di Lebanon Selatan, seperti serangan-serangan atas "Tentara Lebanon Selatan yang didukung Israel". Bagi pembela terorisme negara ini, perlawanan terhadap tentara penjarah atau serdadu-serdadu lokal bayarannya adalah terorisme, yang patut dibalas dengan keras. Koresponden Times Israel, Thomas Friedman, rutin melukiskan serangan-serangan di Lebanon Selatan yang diarahkan kepada pasukan Israel sebagai "pemboman-pemboman teroris" atau "terorisme bunuh-diri" yang, katanya meyakinkan kita, merupakan hasil dari "kelemahan-kelemahan psikologis atau kegairahan religius". Ia melaporkan lebih jauh bahwa penduduk "zona keamanan" Israel yang melanggar aturan-aturan yang ditetapkan oleh para penjarah "ditembak di tempat, ditanya belakangan. Sebagian dari mereka yang ditembak adalah penonton yang tak berdosa". Tetapi, perbuatan ini bukanlah terorisme negara. Ia juga mencatat bahwa Israel "berusaha keras membatasi arus berita dari daerah ini": "Tidak ada wartawan yang diizinkan untuk meliput kelanjutan dari serangan yang diungkapkan mengenainya." Kenyataan ini tak mengurungkan niatnya untuk melaporkan dengan keyakinan besar tentang latar belakang dan motif-motif mereka yang dicap "teroris" oleh para penjarah --dengan demikian dalam laporan-laporannya juga.30 Ketika Reagan dan Peres saling mengucapkan selamat atas pendirian gigih mereka terhadap "momok bengis terorisme" di depan audiensi yang takzim, pers melaporkan aksi teroris lain di Lebanon Selatan: 'Teroris Membunuh 6 Orang, Menghancurkan Stasiun Radio Kristen Milik AS di Lebanon Selatan", begitu bunyi headline di hari yang sama.31 Mengapa para teroris Lebanon perlu menghancurkan "Suara Harapan" yang dijalankan oleh misionaris Kristen Amerika itu? Pertanyaan ini nyaris tak telontar, tapi marilah kita tengok, demi keperluan penjernihan konsep-konsep terorisme dan pembalasan. Salah satu alasannya ialah karena stasiun tersebut "berbicara untuk Tentara Lebanon Selatan"32, pasukan bayaran yang dibentuk Israel di Lebanon Selatan untuk meneror penduduk di "zona keamanan"-nya. Lokasi stasiun tersebut, di dekat desa Khiam, juga layak dicatat. Khiam menyimpan sebuah sejarah, yang tak diketahui di sini (Amerika). Ze'ev Schiff menyinggung sejarah ini di tengah operasi-operasi Tinju Besinya Peres. Ia mengungkapkan bahwa ketika Israel menyerbu Lebanon pada 1982, desa Khiam "tak ada penghuninya", meskipun kini ia berpenduduk 10.000. Penduduk kota Nabatiya hanya 5.000, sekarang 50.000. "Mereka dan penduduk tempat-tempat lain akan sekali lagi dipaksa melupakan rumah-rumah mereka seandainya mereka mengizinkan para ekstremis di komunitas mereka atau orang-orang Palestina untuk menyerang permukiman-permukiman Israel," papar Schiff.33 Itulah yang akan menimpa mereka jika mereka mempermainkan IDF; yang waktu itu sudah menyerang desa-desa Lebanon, membunuh acak penduduk sipil, dan mengamuk untuk bertahan dari "terorisme yang tak juga hilang". Kendatipun "para serdadu Israel berpatroli saban hari di Lebanon Selatan".34 Bagi penduduk Lebanon yang dituju oleh peringatan ini, dan setidaknya bagi unsur-unsur yang agak lebih tahu di kalangan masyarakat Israel, Schiff tak perlu menjelaskan kenapa penduduk Nabatiya merosot sampai hanya tinggal 5.000 dan Khiam kosong pada 1982. Mereka semua dipaksa keluar, ratusan di antaranya dibunuh, oleh bombardemen teror Israel sejak awal 1970-an. Segelintir kecil yang tersisa di Khiam dibantai selama invasi atas Lebanon pada 1978 dengan sepengetahuan brigade elite Golani --oleh milisi Haddad Israel, yang "berhasil menciptakan perdamaian relatif di daerah itu dan mencegah kembalinya teroris-teroris PLO," demikian sang tokoh perdamaian (Peres) menjelaskan.35 Khiam juga merupakan tempat sebuah "penjara rahasia" yang dijaga oleh "Israel bersama sekutu-sekutu milisi lokalnya di Lebanon Selatan ... tempat para tahanan disekap dalam kondisi-kondisi mengerikan dan dijadikan sasaran pemukulan dan penyetruman, menurut para bekas tahanan dan petugas-petugas pemulihan internasional di daerah ini"; Palang Merah melaporkan bahwa "Israel mengelola lembaga (penjara) ini", dan bahwa ia dilarang masuk oleh IDF.36 Maka, tentulah lebih banyak yang dapat diungkapkan tentang serangan teroris oleh "kaum fanatik" di Khiam pada 17 Oktober 1985, yang dipandang cocok untuk dijadikan bagian dari memori sejarah, berdampingan dengan aksi-aksi teror lain guna keperluan ideologis yang lebih besar. Nabatiya juga punya kisah-kisah lanjutan untuk dituturkan. Perginya 50.000 orang dari 60.000 penduduknya yang "umumnya takut akan berondongan (Israel)" dilaporkan oleh dua wartawan Jerusalem Post yang mengunjungi Lebanon Selatan dalam upaya menggali bukti tentang kebrutalan dan teror PLO --hanya sedikit yang ditemukan. Mereka malah mendapatkan bukti melimpah tentang teror Israel beserta akibat-akibatnya.37 Salah satu bombardemen terjadi pada 4 November 1977, ketika Nabatiya "dihujani tembakan artileri darat dari kubu Maronit Lebanon (dukungan Israel) dan dari pos-pos Israel di sepanjang kedua siai medan pertempuran --termasuk beberapa di antara enam basis Israel di dalam Lebanon". Serangan-serangan terus berlangsung sampai esoknya, menewaskan tiga wanita di antara korban-korban lain. Pada 6 November, dua roket yang ditembakkan oleh gerilyawan Fatah menewaskan dua orang Israel di Nahariya, menyulut pertempuran artileri, dan roket kedua menewaskan seorang Israel. "Lalu datanglah serangan udara Israel yang gencar, menewaskan 70 orang --hampir semuanya orang Lebanon."38 Perselisihan yang dipicu oleh Israel ini, yang dapat mengarah ke sebuah perang besar, disebut oleh Presiden Sadat sebagai salah satu alasan kesediaannya mengunjungi Israel, beberapa hari kemudian.39 Namun, peristiwa-peristiwa telah masuk dalam memori sejarah dalam bentuk berbeda, bukan hanya dalam jurnaliame melainkan juga di kancah keilmuan: "Dalam sebuah upaya untuk merintangi gerakan menuju suatu konferensi perdamaian," tulis Edward Haley tanpa punya bukti, "PLO menembakkan roket-roket Katyusha ke desa Israel di utara, Nahariya, pada 6 dan 8 November, menewaskan tiga orang", dan mencetuskan "pembalasan Israel yang tak terhindarkan" pada 9 November, yang menewaskan lebih dari 100 orang dalam serangan-serangan "di dan sekitar Tyre dan dua kota kecil di selatannya."40 Sebagaimana galibnya, dalam sejarah yang sudah disterilkan dengan baik bahwa kelompok Palestinalah yang melakukan terorisme, lalu Israel mungkin membalas dengan terlalu keras. Di dunia nyata, kebenarannya sering agak berbeda --suatu hal yang sangat disepelekan dalam kajian , tentang terorisme di Timur Tengah. Penistaan Nabatiya amat jarang dicatat oleh pers Barat, meskipun ada.sedikit perkecualian. Salah satu serangan Israel tersebut terjadi pada 2 Desember 1975, ketika pasukan Israel menggempur kota ini dengan senjata-senjata anti-personel, bom, dan roket, menewaskan banyak penduduk sipil Lebanon dan Palestina.41 Gempuran ini, yang luar biasa lantaran dilaporkan, tak mengakibatkan perhatian atau keprihatinan di kalangan masyarakat beradab, mungkin karena ia tampak sebagai "pembalasan": yaitu pembalasan terhadap Dewan Keamanan PBB, yang sudah bersepakat untuk membuka sebuah sidang tentang usulan perdamaian yang diajukan oleh Syria, Yordania, Mesir, dan PLO, seperti dibahas dalam Bab Pertama. Ceritanya berlanjut sampai sekarang, dengan hanya sedikit perubahan. Pada awal 1986, di saat perhatian dunia terpusat pada kengerian terhadap teroris-teroris sinting di dunia Arab, pers melaporkan bahwa meriam tank-tank Israel memuntahkan tembakan-tembakan ke desa Sreifa di Lebanon Selatan, menghancurkan 30 rumah. Menurut IDF, dari rumah-rumah inilah mereka ditembaki oleh "teroris bersenjata"; aksi-aksi militer Israel ini juga digencarkan dalam rangka mencari dua serdadu Israel yang menurut mereka ,telah "diculik" di "zona keamanan" Israel di Lebanon. Pers Amenka juga umumnya banyak memberangus laporan pasukan-pasukan penjaga perdamaian PBB bahwa serdadu-serdadu Israel "betul-betul gila" dalam operasi-operasi ini. Mereka memblokade semua desa, mencegah pasukan PBB yang ingin mengirim air, susu, dan jeruk kepada penduduk desa yang sedang "diinterogasi"; melakukan penyiksaan brutal terhadap pria dan wanita bersama-sama dengan tentara bayaran lokal yang didukungnya. IDF kemudian pergi, sambil membawa sejumlah besar penduduk desa, termasuk para wanita hamil. Sebagian diangkut ke Israel dengan melanggar lebih jauh hukum internasional, sesudah menghancurkan sejumlah rumah, merusak, dan menggarong sebagian lainnya-sementara Shimon,Peres mengatakan bahwa pencarian Israel terhadap serdadu-serdadunya yang "diculik", "mencerminkan sikap kami terhadap nilai kehidupan dan martabat manusia".42 Sebulan kemudian, pada 24 Maret, radio Lebanon melaporkan bahwa pasukan Israel, baik IDF maupun serdadu bayaran SLA, memberondong Nabatiya dengan menewaskan 3 penduduk sipil dan melukai 22 lainnya, sewaktu "peluru-peluru menghujani pasar di pusat kota itu pada jam istirahat, ketika banyak orang berkerumun untuk berjual-bell"; serangan ini diduga sebagai pembalasan terhadap sebuah serangan atas pasukan bayaran Israel di Lebanon Selatan. Seorang pemimpin Amal Syi'ah bersumpah bahwa "permukiman dan instalasi-instalasi Israel tak akan lolos dari gempuran pasukan perlawanan". Pada 27 Maret, sebuah roket Katyusha menghajar sebuah gedung sekolah di Israel Utara, melukai 5 orang dan menyulut serangan Israel atas kamp-kamp pengungsi Palestina di dekat Sidon yang menewaskan 10 orang dan mencederai 22 orang; komandan kawasan Israel utara menyatakan melalui radio tentara Israel bahwa IDF tidak tahu pasti apakah roket itu ditembakkan oleh gerilyawan Syi'ah atau Palestina. Pada 7 April, pesawat-pesawat Israel membom kamp-kamp yang sama dan sebuah desa tetangga, menewaskan dua dan melukai 22 orang; dikatakan bahwa para teroris telah mengadakan persiapan di sana dengan rencana membunuh warga Israel .43 Dari semua peristiwa ini, hanya serangan roket di Israel Utara itu yang dilaporkan dengan muram di televisi bersama kemarahan umum atas "momok bengis terorisme". Yang terakhir ini sebenarnya agak aneh sebab histeria massa waktu itu sedang diarahkan kepada "invasi" Nikaragua atas Honduras; tentara Nikaragua menggunakan hak legalnya dalam berusaha keras mengamankan wilayahnya dari kelompok-kelompok teroris kiriman AS yang pamer kekuatan tak lama sebelum Senat bersidang untuk membahas bantuan buat Contra; mengingatkan kita bahwa satu-satunya masalah serius yang diperdebatkan di negara teroris ini (Amerika) ialah apakah tentara-centeng (proxy army) itu dapat menunaikan tugs-tugas yang sudah diperintahkan oleh majikan mereka.44 Adapun Israel, jelas bukan sedang menjalankan hak legalnya untuk memburu penjahat, dengan menembaki dan membom kota-kota dan kamp-kamp pengungsi; aksi-aksi terorisme luas dan agresi serentaknya atas Lebanon juga tak pernah tercakup dalam konsep ini. Tetapi, sebagai sebuah negara klien, Israel mewarisi hak untuk melakukan terorisme, penganiayaan, dan aresi dari sang Kaisar. Dan Nikaragua, sebagai musuh, terang tak berhak untuk mempertahankan wilayahnya dari terorisme internasional AS, walaupun orang dapat menandaskan bahwa aksi-aksi AS di sana mencapai tingkat agresi, sebuah kejahatan perang menurut kategori yang memungkinkan orang dihukum gantung di Nuremberg dan Tokyo. Maka, wajarlah kalau aksi-aksi Israel harus diabaikan, atau dianggap sebagai "pembalasan" yang sah, sementara Kongres melalui spektrum yang sempit --mengecam "kaum Marxis-Leninis Nikaragua" untuk sikap ulangan mereka yang mengancam stabilitas dan perdamaian regional. Catatan kaki: 1 NYT, 17, 18 Oktober 1985. 2 Ha'aretz, 22 Maret 1985; FT, 54, 75, 202. 3 Yossi Beilin, Mechiro Shel Ichud (Tel Aviv, 1985),147; Gazit; Hamakel Vehagezer, (Tel Aviv, 1985), dikutip dalain Al Hamishmar, 7 November 1985; TNCW, 267-8. 4 Jika saya menunjuk Reagan, sudah tentu saya bukan sedang bicara tentang figur simbolis yang memegang jabatan, melainkan tentang para pembuat keputusan dan propaganda dalam pemerintahan. 5 Yediot Ahronot, 15 November 1985. 6 Ze'ev Schiff, Ha'aretz, 8 Februari 1985; lihat FT untuk kesaksian dari para partisipan, yang tak dilaporkan di AS, dan untuk bantahan atas fakta-fakta ini oleh para pembela teror Israel, dengan dasar bahwa media bersikap anti-Semit dan "pro-PLO", dan "tidak ada sanksi untuk dusta" dalam "kebudayaan Arab" (Martin Peretz; kutipan terakhir dari New Republic, 29 Agustus 1983). 7 Lihat catatan kaki no. 48 di bawah. 8 Godfrey Jansen, Middle East International, 11 Oktober 1985, mengutip Los Angeles Times (LAT), 3 Oktober. 9 Terbit dalam Against the Current, Januari 1986. 10 Bandingkan FT, 127, 176. 11 Bernard Gwertzman, NYT, 2, 7 Oktober 1985. 12 Beverly Beyette, LAT, laporan mengenai Konferensi Internasional tentang Terorisme, LAT, 9 April 1986. 13 Edward Schumacher, NYT, 22 Oktober 1985. 14 New Republic, 24 Oktober 1985, 20 Januari 1986; AP, 4 April 1986. 15 Robert McFadden, "Terror in 1985: Brutal Attacks, Though Response", NYT, 30 Desember 1985. 16 UPI, LAT, 28 Desember 1985; McFadden, op.cit; Dershowitz, NYT. 17 Oktober 1985; Alexander Cockburn, Nation, 2 November 1985, satu-satunya catatan tentang kemunafikan yang memalukan ini. 17 Ross Gelbapan, Boston Globe (BG), 16 Desember 1985. Tentang pcnganiayaan-penganiayaan Contra, lihat laporan-laporan berkala Americas Watch dan sejumlah penyelidikan cermat dan terperinci lainnya, di antaranya Report of Donald T. Fox, Esq. and Prof Michael J. Glennon to the International Human Rights Law Group and the Washington Office on Latin America April 1985. Mereka mengutip seorang pejabat tinggi Deplu yang melukiskan pendirian AS sebagai sebuah "kelalaian yang disengaja". Catatan luas dan menyeramkan ini juga umumnya dicampakkan oleh media, dan bahkan terang-terangan dibantah (tanpa mengajukan bukti) oleh sebagian dari para pembela kekejian-kekejian Barat yang lebih ekstrem, misalnya Robert Conquest, "Laying Propaganda on Thick", Daily Telegraph (London), 9 April 1986, yang mencoba meyakinkan kita bahwa tuduhan-tuduhan Oxfam dan lain-lainnya bukan hanya panas, melainkan juga "goblok". Lihat juga Gary Moore, National Interest, Musim Panas 1986, dengan pernyataan bernada serupa; atau Jeane Kirkpatrick (BG, 16 Maret 1986), yang mengatakan bahwa "kelompok Contra telah bekerja keras untuk tidak membahayakan warga sipil. Mereka tak melakukan apa-apa dibanding kebrutalan sistematis yang dilakukan pemerintah Sandinista terhadap para penentang dan penyempal"; pembelaan dan dusta serupa untuk kekejian-kekejian Soviet tidak akan ditoleransi sedikit pun di media. Lihat juga catatan kaki no. 44. Kebiasaan yang lazim bukanlah menyangkal, melainkan sekadar menyepelekan kekejian-kekejian para klien atau centeng Barat. Untuk pembelaan yang menggelikan, orang dapat menoleh ke suatu industri besar yang dicurahkan untuk mencetak pernyataan-pernyataan bahwa para pengkritik kekuasaan AS menyangkal atau mengabaikan laporan tentang kekejian-kekejian oleh musuh-musuh resmi. Untuk beberapa contoh, termasuk dusta-dusta yang betul-betul kelewatan, lihat Political Economy of Human Rights, vol. II; artikel saya, "Decade of Genocide in Review", Inside Asia (London), Februari-Maret 1985, dan "Vision of Righteousness", Culture Critique, Musim Semi 1986; Christopher Hitchens, "The Chorus and Cassandra", Grand Street, Musim Gugur 1985. 18 NYT, 29 Juni 1985. 19 Dan di Israel. Setelah ia berkuasa, terjadi peningkatan dalam penggunaan kekerasan terhadap tawanan, tahanan administratif, pengusiran dengan melanggar hukum internasional, dan penyegelan rumah-rumah, perbuatan-perbuatan yang lazim di masa pemerintahan Buruh sebelumnya, yang banyak dipuji oleh kaum kiri-liberal Amerika, tapi berkurang atau dihentikan di masa Menachem Begin (Likud). Danny Rubinstein, Davar, 4 Februari 1986; Eti Ronel, Al-Hamishmar, 11 Juni 1986. Tentang penganiayaan, lihat Ha'aretz, 24 Februari 1986; dan Ghadda Abu Jaher, 1985 --Policy of Torture Renewed, Pusat Informasi Alternatif, Jerusalem, Februari.1986; Koteret Rashit, 7 Mei 1986. Lihat juga Amnesti Internasional, "Town Arrerst Orders in Israel and the Occupied Territories", 2 Oktober 1984. 20 Curtis Wilkie, BG, 10 Maret; Julie Flint, Guardian (London), 13 Maret; Jim Muir, MEI, 22 Maret; Breindel, NYT Op-Ed, 28 Maret; Nora Boustany WP, 12 Maret 1985. Sebuah foto graffiti di dinding itu dimuat dalam Joseph Schechia, The Iron Fist (ADC, Washington, 1985). 21 Guardian (London), 2, 6 Maret 1985. 22 Ilya,Jerusalem Post, 27 Februari 1985; Magnus Linklater, Isabel Hilton, dan Neal Ascherson, The Fourth Reich (Hodder & Stoughton, London, 1984, 111); Der Speigel; 21 April 1986 (lihat Bab Ketiga); NYT, 13 Maret 1985. 23 Ihsan Hijazi, NYT, 1 Januari 1986; Hijazi mencatat bahwa laporan-laporan dari Israel berbeda. 24 CSM, 30 Januari 1986. 25 Untuk kajian terperinci tentang masalah ini, lihat FT. Atau bandingkan, misalnya, antara apa yang dimuat dalam Newsweek dengan apa yang dilukiskan oleh kepala biro Tony Clifton dalam bukunya, God Cried (Clifton dan Catherine Leroy, Quartet, 1983), diterbitkan di London. Atau teliti My War Diary oleh Kolonel Dov Yermiya, salah seorang pendiri Angkatan Darat Israel, yang terbit dengan melanggar penyensoran di Israel (lihat FT, untuk sejumlah besar kutipan) dan kemudian dalam terjemahan Inggris (South End, 1983), tapi sepenuhnya disingkirkan oleh media, meskipun jelas ini adalah sebuah karya yang amat penting. Masih banyak contoh. 26 Landrum Bolling (ed.), Reporters Under Fire (Westview,1985). Memuat, misalnya, kritik terhadap media oleh Liga Anti-Defamasi B'nai Brith dan tuduhan-tuduhan lain yang nyaris mencapai tingkat absurditas (Lihat FT untuk analisis atas dokumen-dokumen ini), tapi tidak memasukkan sebuah studi oleh Komite Anti-Diskriminasi Arab-Amerika, yang menyajikan bukti tentang "suatu bias pro-Israel yang konsisten" dalam liputan pers mengenai perang ini. 27 Kifner, NYT, 10 Maret; Muir, MEI, 22 Februari 1985; Mary Curtis, CSM, 22 Maret; Jim Yamin, CSM, 25 April; Yamin, wawancara, MERIP Reports, Juni 1985; David Hirst, Guardian (London), 2 April; Robert Fisk, Times (London), 26, 27 April; Philadelpia Inquirer, 28 April 1985. Tentang usaha-usaha Israel untuk memperuncing permusuhan, di daerah Chouf sejak pertengahan 1982, lihat FT, 418 dst. 28 MEI, 22 Maret 1985. 29 UPI, BG, 22 September 1984; Olmert, wawancara, Al-Hamishmar, 27 Januari 1984; Hirst Goodman, Jerusalem Post, 10 Februari 1984; Weiseltier, New Republic, 8 April 1985. 30 Don Oberdorfer, "The Mind of George Shultz", WP Weekly, 17 Februari 1986; Rubin, New Republic, 2 Juni 1986; "Thomas Friedman, NYT, 16 Februari 1986, di antara sejumlah besar laporan lain. Seperti Wieseltier, Rubin menandaskan bahwa terorisme yang disponsori Syria ini "... bukanlah raungan marah terhadap kegagalan Barat untuk mengusahakan perdamaian, melainkan sebuah upaya untuk menutup diplomasi sama sekali", sebab "hampir setiap bayang-bayang solusi merupakan malapetaka bagi pemerintah Syria". Rubin tahu bahwa Syria sudah mendukung solusi-solusi diplomatik yang mendekati konsensus internasional, tapi karena jauh dari rejeksionisme AS, solusi-solusi ini tidak "terbayangkan" dan tidak dihitung sebagai "pilihan-pilihan diplomatik"; lihat Bab Kesatu. 31 LAT, 18 Oktober 1985. 32 NYT, 18 Oktober 1985. 33 Ze'ev Schift, "The Terror of Rabin and Berri", Ha'aretz, 8 Maret 1985; juga Jenderal Orior, Komandan Komando Utara IDF, radio IDF; FBIS,15 April 1985. 34 Gershom Schocken, editor Ha'aretz, Foreign Affairs, Musim Gugur 1984. 35 Shimon Peres, NYT, 8 Juli 1983; tentang kekejian-kekejian di Khiam, lihat TNCW, 396-7; FT, 191; Yoram Hamizrahi, Davar, 7 Juni 1984; laporan-laporan pers yang dikutip dalam publikasi Front Demokrasi, Nisayon Leretsach-Am Bilvanon: 1982 (Tel Aviv, 1983). Tentang Nabatiya, lihat FT, 70, 187. 36 Jim Muir, Sunday Times (London), 4 April 1985; CSM, 15 April 1985; Joel Greenberg, CSM, 30 Januari 1986; Sonia Dayan, Paul Kessler, dan Geraud de la Pradelle, Le Monde diplomatique, April 1986; Menahem Horowitz, Ha'aretz, 30 Juni 1986, menyebut pengusiran petugas Palang Merah, penyiksaan, dan lain-lain serta mengungkapkan bahwa Israel telah mendapat "pelajaran dari Ansar", kamp konsentrasi (lihat di bawah) yang dikelola oleh IDF, dan sekarang dipakai pula oleh serdadu-serdadu bayaran SLA untuk menyiksa para warga Khiam, dengan demikian mengalihkan kritik. Laporan-laporan panjang tentang penganiayaan yang diungkapkan oleh para bekas tawanan, yang tak dihiraukan di Barat, terbit dalam Information Bulletin 21, 1985, Lembaga Internasional untuk Informasi tentang Tawanan Palestina dan Lebanon, Orang-orang yang Terusir dan Hilang, Paris. Mengutip bukti ini, Paul Kessler (dari College de France, salah seorang pendiri Komite Dokter Perancis untuk Kaum Yahudi Soviet), mengungkapkan bahwa kebanyakan tawanan itu "ditangkap sebagai tersangka selama operasi-operasi perburuan, dan orang-orang desa ditahan karena menolak bekerja sama dengan penguasa pendudukan, dan khususnya, karena tak mau bergabung dengan "milisi Tentara Lebanon Selatan", yang dipimpin Israel; tidak seorang pun yang dituntut atau diadili, dan sebagian sudah disekap selama lebih satu tahun. Khiam adalah kota utama, tapi bukan satu-satunya pusat. Ia melaporkan penyiksaan sistematis-oleh para tukang-pukul SLA, yang mengoperasikan penjara ini "di bawah pengarahan perwira-perwira Israel", Israel & Palestine (Paris), Juli 1986. 37 Benny Morris dan David Bernstein, JP, 23 Juli 1982; untuk perbandingan oleh para wartawan Israel mengenai kehidupan di bawah PLO dan di bawah sekutu-sekutu Kristen Israel di Lebanon, suatu gambaran yang sangat berbeda dari penggambaran menurut doktrin yang dianut di AS, lihat FT, 186 dst. Yang juga penting adalah laporan dari Lebanon oleh wartawan Israel Attallah Mansour, seorang penganut Maronit. 38 Economist, 19 November 1977. 39 John Cooley, dalam Edward Haley dan Lewis Snider (ed.), Lebanon in Crisis (Syracuse, 1979). Lihat TNCW, 321; FT, 70, 84. 40 Edward Haley, Qaddafi and the United States since 1969 (Preager, 1984), 74. 41 James Markham, NYT, 4 Desember,1975. 42 AP, NYT, 21 Februari;Julie Flint, Guardian (London) 24 Februari; Ihsan Hijazi NYT, 28 Februari; AP, 20 Februari, 1986. Satu-satunya cerita terperinci di AS, setahu saya, adalah oleh Nora Boustany WP, 1 Maret, walaupun tentang peran IDF banyak yang dihapus, kemungkinan besar oleh editor, sebab para wartawan di lapangan tahu betul apa yang terjadi-termasuk pembunuhan orang-orang desa yang sedang mengungsi oleh berondongan dari helikopter, pemukulan dan penyiksaan dengan sepengetahuan perwira Israel, dan lain-lain, seperti banyak diungkapkan secara pribadi. Tak ada keraguan bahwa cerita-cerita itu ditulis kembali di kantor pusat untuk mencoret penyebutan tentang IDF. 43 Ihsan Hijazi NYT, 25 Maret; Dan Fisher, LAT, 28 Maret; AP, 7 April; Hijazi NYT, 8 April 1986. 44 Lihat, misalnya, Robert S. Leiken, "Who Says the Contras Cannot Succeed?", WP, 27 Juli 1986 --menolak tanpa argumen catatan luas tentang kekejian-kekejian oleh para teroris yang ia dukung dengan gaya lazim para pembela (lihat catatan kaki no.17), dan penuh berisi kicauan Maois tentang tentara-tentara petani dan konflik AS-Rusia yang jamak terdapat dalam tulisan-tulisannya; lihat juga artikel-artikel saya dalam Walker, op.cit, dan Morley & Petras,-op.cit, dan Bab Ketiga, catatan kaki no. 3. ||_______ erorisme Timur Tengah dan Sistem Ideologi Amerika (2/3) Invasi Israel atas Lebanon pada Juni 1982 juga selalu disajikan dalam bentuk yang sangat steril. Shimon Peres menulis bahwa operasi "Damai untuk Galilee" dilancarkan "guna menjamin bahwa Galilee tidak akan lagi ditembaki oleh roket-roket Katyusha". Eric Breindel menjelaskan, "sudah terang, tujuan utama invasi Israel pada 1982" adalah "untuk melindungi daerah Galilee ... dari serangan roket Katyusha dan penembakan lain dari Lebanon." Halaman-halaman berita Times memberi tahu kita bahwa invasi itu terjadi "setelah serangan-serangan atas permukiman-permukiman di Israel Utara oleh Organisasi Pembebasan Palestina", dan --tanpa ulasan-- menyatakan bahwa para pemimpin Israel "mengatakan bahwa mereka ingin mengakhiri serangan-serangan roket dan penembakan di perbatasan utara Israel" yang "sudah tuntas selama tiga tahun Tentara Israel berada di Lebahon". Henry Kamm menambahkan bahwa "Selama hampir tiga tahun masyarakat Qiryat Shemona tidak lagi tidur di lubang-lubang perlindungan mereka, dan orang-orang tua tak lagi khawatir kalau anak-anak mereka ke luar untuk sekolah atau bermain-main. Roket-roket Katyusha buatan Soviet, yang selama bertahun-tahun menghajar kota di dekat perbatasan Lebanon ini dengan interval tak menentu, tak lagi jatuh sejak Israel menginvasi Lebanon pada Juni 1982." Dan Thomas Friedman mengungkapkan, "Seandainya roket-roket kembali berjatuhan di perbatasan utara Israel setelah semua yang sudah ditembakkan di Lebanon, rakyat Israel akan menderita"; ... sekarang ini sudah tak ada lagi roket-roket yang jatuh di Israel Utara ... dan seandainya, serangan-serangan besar kembali menghantam perbatasan utara Israel, kelompok minoritas (yang sering membantu tentara di Lebanon) dapat mekar menjadi mayontas lagi". Dalam salah satu dari banyak laporan berita human interest-nya tentang nestapa orang-orang Israel yang menderita, Friedman menyatakan bahwa "Operasi.Damai untuk Galilee-yakni invasi Israel atas Lebanon-semula dilakukan" untuk melindungi penduduk sipil dari para penembak Palestina. Tokoh-tokoh politik kerap menguraikan doktrin serupa. Zbigniew Brzezinski menulis bahwa "kehadiran militer Syria yang terus bertambah dan pemanfaatan orang Lebanon oleh Organisasi Pembebasan Palestina untuk melakukan serangan-serangan terhadap Israel semakin mendorong invasi Israel tahun lalu". Dan Ronald Reagan, dengan memamerkan moral pengecut khasnya, meminta kita untuk "ingat bahwa kalau (invasi) ini sudah dimulai, Israel, karena perbatasan utara miliknya dilanggar oleh orang-orang Palestina, PLO, dapat leluasa untuk ke Beirut", tempat bercokolnya "10.000 orang Palestina(!) yang telah menimbulkan kehancuran atas Beirut"; jadi, kehancuran itu bukan oleh para pembom sinting yang ia dukung dengan sepenuh hati.45 Cerita-cerita ini dan segerobak cerita lainnya --banyak yang merupakan paparan murung tentang penderitaan masyarakat Galilee yang kerap dihajar bom Katyusha membantu menciptakan gambaran yang disepakati tentang kaum fanatik Palestina yang dipersenjatai Soviet, dan cap bahwa kelompok Palestina adalah unsur utama dalam jaringan terorisme internasional yang berbasis di Rusia, yang memaksa Israel menginvasi dan menghajar kamp-kamp pengungsi Palestina dan sasaran-sasaran lainnya sesuatu yang pasti dilakukan oleh setiap negara untuk membela rakyatnya dari serangan teroris yang kejam. Dunia nyata, sekali lagi, berbeda. David Shipler menulis, "Dalam masa empat tahun antara invasi Israel terdahulu atas Lebanon Selatan pada 1978 dan invasi 6 Juni 1982, sebanyak 29 orang. telah terbunuh di Israel Utara dalam segala bentuk serangan dari Lebanon, termasuk penembakan dan pelanggaran perbatasan oleh para teroris," tetapi, selama satu tahun sebelum invasi 1982 itu, keadaan perbatasan tersebut tenteram."46 Laporan ini patut kita pandang mendekati setidaknya setengah-kebenaran. Sementara PLO tak melakukan aksi-aksi pelanggaran perbatasan selama satu tahun sebelum invasi Israel, perbatasan itu sama sekali tidak tenteram sebab teror Israel terus berlangsung dan menewaskan banyak warga sipil; sekali lagi, perbatasan tersebut "tenteram" hanya dalam pengertian rasis menurut diskursus Amerika. Selain itu, Shipler maupun rekan-rekannya tak ingat bahwa sementara 29 orang terbunuh di Israel Utara sejak 1978, beribu-ribu orang tewas oleh bombardemen Israel di Lebanon, yang nyaris tak diungkap di AS, dan bukan dalam pengertian "pembalasan". Pemboman-pemboman sejak 1978 itu merupakan unsur utama dalam "proses perdamaian" Camp David yang, mudah ditebak, yaitu membebaskan Israel untuk memperluas represi dan perampasannya atas daerah-daerah pendudukan sambil menyerang tetangga utaranya. Sementara itu, benteng utama Arab (Mesir) kini minggir dari ajang konflik dan dukungan militer AS meningkat pesat. William Quandt lebih jauh mencatat bahwa "Rencana operasional Israel untuk menginvasi Lebanon guna menggebuk PLO (pada 1981-82) itu tampaknya bertepatan dengan pemantapan perjanjian perdamaian Mesir-Israel." Perlu dicatat bahwa makna yang jelas dari perjanjian Camp David, meskipun tak diungkapkan di media Amerika pada waktu itu (ketika ia sama jelasnya) dan seterusnya, dimengerti oleh para wartawan terkemuka Amerika. Maka, dalam sebuah wawancara di Israel, David Shipler menyatakan, "Di pihak Israel, tampak bagi saya bahwa perjanjian perdamaian ini mempersiapkan situasi bagi peperangan di Lebanon. Dengan Mesir tak lagi merupakan negara konfrontasi, Israel merasa bebas untuk menyulut sebuah perang di Lebanon, sesuatu yang agaknya tak akan berani ia lakukan sebelum perjanjian perdamaian ini. Adalah suatu ironi (sic) bahwa perang di Lebanon tidak akan terjadi tanpa perjanjian perdamaian tersebut."47 Ia tak pernah menulis yang semacam ini di Times selama lima tahun menjadi koresponden Israel, yang berakhir Juni 1984; atau sejak itu. Shipler menambahkan, "Saya kira tidak akan timbul oposiai sedemikian besar terhadap perang tersebut di kalangan warga Israel, jika tidak ada perjanjian perdamaian serupa ini."' Dengan berada di Israel pada saat itu, Shipler tahu bahwa "oposisi sedemikian besar terhadap perang tersebut" adalah sebuah propaganda buatan pasca-peristiwa (post hoc) yang dirancang untuk memulihkan citra "Israel yang indah"; kenyataannya, oposiai yang muncul kecil saja, dan baru membesar setelah pembantaian-pembantaian pasca-perang Sabra-Shatila (ketika para pendukung perang itu di AS pun meninggalkan si kapal karam --Israel-- dan menciptakan kecurangan sejarah tentang "oposisi sudah sejak awal", yang sangat mirip seperti dalam kasus perang Indocina) dan khususnya lantaran memuncaknya biaya pendudukan itu.48 Kembali ke dunia nyata, lihatlah lebih dulu latar belakang langsung dari operasi "Damai untuk Galilee" itu. PLO meniatuhi gencatan-senjata rancangan AS pada Juli 1981, di tengah seringnya upaya-upaya Israel untuk memancing aksi yang dapat digunakan sebagai dalih untuk melakukan invasi yang telah direncanakan itu, termasuk pemboman di akhir April 1982 yang menewaskan dua lusin orang, menenggelamkan sejumlah perahu nelayan, dan lain-lain. Perkecualiannya hanya berupa sebuah pembalasan lunak pada bulan Mei setelah pemboman Israel, dan tanggapan terhadap serangan-serangan darat dan pemboman besar Israel di Lebanon pada Juni yang memakan banyak korban sipil. Serangan-serangan Israel tersebut adalah dalam rangka "pembalasan" atas usaha pembunuhan duta besar Israel di London oleh Abu Nidal, musuh berat PLO yang tak punya sebuah kantor pun di Lebanon --lagi-lagi cerita lazim tentang "pembalasan". Usaha pembunuhan itulah yang dipakai sebagai dalih untuk invasi .yang sudah lama direneanakan itu. New Republic menyatakan bahwa sukses-sukses perunding PBB, Brian Urquhart, "kecil saja, malah agak dilupakan: misalnya perundingannya tentang sebuah gencatan-senjata PLO (sic) di Lebanon Selatan pada 1981".49 Bahwa jurnal-jurnal pembeo Garis Partai tentu lebih suka untuk "melupakan" fakta-fakta tidaklah mengejutkan, tetapi bercokolnya "daya lupa" yang sedemikian tegar patut dicatat. Lebih lanjut, suatu penelitian pada apa yang terjadi pada Juni 1981 menunjukkan pola serupa. Pada 28 Mei, tulis Ze'ev Schiff dan Ehud Ya'ari, Perdana Menteri Menachem Begin dan Kepala Staf AB Rafael Eitan "mengambil langkah lain yang akan menggiring negeri mereka amat dekat menuju sebuah perang di Lebanon, dengan sebuah tindakan yang telah diperhitungkan matang terhadap tujuan itu"; yaitu, mereka melanggar gencatan-senjata dengan membom "pusat-pusat PLO" (sebuah istilah Newspeak, menunjuk pada setiap sasaran yang dipilih oleh Israel untuk dihajar) di Lebanon Selatan. Serangan-serangan terus menyembur dari udara dan laut sampai 3 Juni, tutur Schiff dan Ya'ari, sementara "pihak Palestina menanggapinya dengan hati-hati karena takut bahwa suatu reaksi keras akan menimbulkan operasi darat Israel yang mematikan." Sebuah gencatan senjata kembali ditetapkan, dan kembali dilanggar oleh Israel pada 10 Juli, dengan pemboman-pemboman baru. Kali ini muncul reaksi keras Palestina, dengan serangan-serangan roket yang menyebabkan kepanikan di Galilee Utara, dan diikuti oleh pemboman besar Israel atas Beirut dan sasaran-sasaran sipil lainnya. Ketika gencatan senjata baru diumumkan pada 24 Juli, kira-kira 450 orang Arab --hampir semuanya warga sipil Lebanon-- dan 6 orang Israel diketahui tewas.50 Dari rentetan peristiwa ini yang diingat hanya kesedihan di Galilee Utara, yang ditimpa roket-roket Katyusha oleh teroris PLO dan akhirnya menyulut Israel untuk membalas dengan invasinya ke Lebanon pada Juni 1982. Ini terlihat bahkan pada wartawan-wartawan serius yang bukan sekadar menjadi corong bagi propaganda resmi. Edward Walsh menulis bahwa "serangan roket yang berulang-ulang pada 1981 telah sekali lagi membuat (Qiryat Shemona) terkepung", melukiskan "orang-orangtua yang putus asa" dan teror yang ditimbulkan oleh "gempuran roket dan artileri dari basis-basis Palestina di sekitar tempat itu", tanpa keterangan lanjutan tentang apa yang terjadi. Curtis Wilkie, salah seorang wartawan Amerika yang agak kritis dan tajam di Timur Tengah, menulis bahwa Qiryat Shemona "menjadi sasaran gempuran senjata dari pasukan-pasukan Organisasi Pembebasan Palestina pada 1981; hujan roket Katyusha buatan Soviet sedemikian gencar pada suatu saat sehingga penduduk yang tak mengungsi terpaksa menghabiskan delapan hari siang-malam berturut-turut di tempat-tempat perlindungan" --lagi-lagi tanpa keterangan lanjutan tentang alasan-alasan bagi "gempuran senjata" ini, atau tentang suasana di Beirut dan daerah-daerah sipil lainnya di mana beratus-ratus orang tewas dalam bombardemen maut Israel. Di tempat lain pun hal-hal ini tak diungkapkan.51 Contoh itu memberi pemahaman lebih jauh tentang konsep "terorisme" dan "pembalasan", sebagaimana dipahami dalam sistem ideologi AS, dan tentang asumsi-asumsi rasis yang --dengan sendirinya-- tak menghiraukan penderitaan korban-korban utama, yakni Arab dan karena itu bukan manusia utuh. Keterangan resmi bahwa "serangan-serangan roket dan berondongan senapan atas perbatasan utara Israel" berakhir berkat operasi "Damai untuk Galilee" (NYT lihat di atas) adalah keliru dua kali. Pertama, perbatasan itu tenang selama satu tahun sebelum invasi tersebut dilepaskan dari provokasi dan serangan-serangan teror Israel. Serangan-serangan roket pada Juli 1981 merupakan respons terhadap teror Israel yang dalam insiden ini saja, menelan korban hampir seratus kali lebih besar daripada korban PLO. Kedua, berlawanan tajam dengan periode sebelumnya, serangan-serangan roket mulai dilakukan sesudah invasi berakhir, sejak awal 1983, dan sejak itu terus berlangsung. Sekelompok wartawan Israel penyempal melaporkan bahwa dalam dua pekan selama September 1985, 14 roket Katyusha ditembakkan ke Galilee. Selanjutnya, "serangan-serangan teroris" meningkat 50 persen di Tepi Barat pada bulan-bulan sesudah perang itu, dan pada akhir 1983 bertambah 70 persen sejak perang di Lebanon, lalu menjadi ancaman gawat pada 1985 --bukan suatu konsekuensi yang mengejutkan dari penyiksaan-penyiksaan keji dan penghancuran masyarakat sipil dan sistem politik bangsa Palestina.52 Alasan real bagi invasi 1982 tersebut bukanlah ancaman terhadap Galilee Utara, sebagaimana direkam oleh sejarah yang sudah disterilkan, melainkan justru sebaliknya, seperti dijelaskan dengan logis oleh pakar terkemuka Israel tentang Palestinia, Profesor Universitas HebrewYehoshua Porath (seorang "moderat" dalam kancah Israel, yang mendukung "solusi Yordania"-nya Partai Buruh untuk mengatasi problem Palestina), tak lama sesudah invasi itu dilancarkan. Keputusan untuk menginvasi, ujarnya, "tercetus dari kenyataan tandas bahwa gencatan senjata tersebut telah ditaati." Ini merupakan sebuah "malapetaka dahsyat" bagi pemerintah Israel sebab ia mengancam kebijakan pengelakan pemecahan politik. "Pemerintah berharap", katanya melanjutkan, "agar PLO yang terpojok --kekurangan logistik dan basis teritorial-- akan kembali ke terorismenya sediakala; ia akan melakukan pemboman di seluruh dunia, membajak pesawat, dan membunuh banyak orang Israel". Dengan demikian, PLO "akan kehilangan porsi legitimasi politik yang sudah diperolehnya", dan "mengikis bahaya" berupa perundingan-perundingan dengan para wakil bangsa Palestina, yang akan mengancam kebijakan pelestarian kontrol efektif atas daerah-daerah pendudukan --suatu kebijakan yang dianut oleh kedua kelompok politik utama (Partai Buruh dan Likud).53 Asumsi logis para pemimpin Israel ialah bahwa orang-orang yang mempengaruhi opini publik di Amerika Serikat --satu-satunya negara yang digubris, dan kini Israel telah dipilih untuk menjadi negara bayaran pelayan kepentingan-kepentingan sang majikan-- dapat diharapkan untuk menggelapkan sejarah aktual dan menggambarkan aksi-aksi teroris kekerasan membabi buta yang dapat dirujukkan ke cacat-cacat dalam watak dan kultur Arab, kalau bukan keburukan-keburukan rasial. Lalu ulasan-ulasan tentang terorisme di AS kontan memenuhi harapan-harapan alamiah ini dengan cukup pas --suatu kegesitan propaganda yang bermanfaat bagi para teroris negara di Jerusalem dan Washington. Hal-hal pokok ini dipahami cukup baik di Israel. PM Yitzhak Shamir menegaskan di televisi Israel bahwa Israel melakukan perang lantaran ada "sebuah bahaya yang gawat ... Bukan bahaya militer, melainkan terutama bahaya politlk", memberi peluang kepada satiris tajam Israel, B. Michael, untuk menulis bahwa "alasan lemah tentang suatu bahaya militer atau bahaya terhadap Galilee sudah mati", maka kita "telah melenyapkan bahaya politik" dengan menggebuk duluan, pada saat yang tepat. Sekarang, "syukurlah, tak ada seorang pun yang membicarakannya." Kolumnis Aaron Bachar berkomentar, "mudahlah memahami perasaan para pemimpin Israel. Arafat dituduh terus bergerak menuju semacam akomodasi politik dengan Israel", dan "dalam pandangan pemerintah Israel, ini merupakan ancaman kemungkinan terburuk" --termasuk bagi Buruh dan Likud. Benny Morris mengamati bahwa "PLO menghentikan aksi bersenjatanya di sepanjang perbatasan utara selama setahun penuh. Pada sejumlah kesempatan mereka sama sekali tak menanggapi aksi-aksi Israel (yang dirancang khusus untuk memancing reaksi PLO di Utara)". Selanjutnya, ia berkomentar bahwa bagi para pejabat senior IDF, "perang ini mau tak mau harus dilakukan karena PLO merupakan ancaman politik bagi Israel dan bagi cengkeraman Israel atas daerah-daerah pendudukan", sebab "harapan bangsa Palestina di dalam dan luar daerah-daerah pendudukan bagi kematangan aspirasi-aspirasi nasionalis terletak dan berkisar seputar PLO". Sebagaimana setiap komentator waras, Morris amat heran mendengar pembicaraan histeria tentang persenjataan dan ancaman militer PLO yang menakutkan, dan meramalkan bahwa "kaum Syi'ah Beirut Barat, banyak di antara mereka adalah pengungsi dari pemboman-pemboman Israel di Lebanon Selatan pada 1970-an, akan lama mengenang pengepungan IDF pada Juni-Agustus (1982) itu", dan dalam jangka-panjang bakal muncul pembalasan-pembalasan "terorisme Syi'ah terhadap sasaran-sasaran Israel".54 Dari sayap kanan, terlontar komentar dari anggota Knesset dari Likud, Ehud Olmert, bahwa "bahaya yang ditimbulkan oleh PLO terhadap Israel bukanlah terletak pada ekstremisnya, melainkan pada moderasi-gadungan Arafat yang disetel untuk dipamerkan, tanpa pernah alpa pada tujuan akhirnya, yaitu menghancurkan Israel" (argumen ini benar, dalam pengertian sebagaimana David Ben Gurion --ketika masih berkuasa-- tak pernah alpa pada tujuan akhirnya, yaitu memperluas "batas-batas bagi aspirasi-aspirasi Zionis", termasuk ke banyak negara di sekitarnya dan kadang-kadang menurut "perbatasan-perbatasan biblikal" dari Nil sampai Irak, sementara penduduk asli, pokoknya harus dipindahkan). Mantan Administrator Tepi Barat, Profesor Menachem Milson, menandaskan, "kelirulah berpikir bahwa ancaman terhadap Israel yang ditampilkan oleh PLO pada dasarnya ancaman militer; justru ini adalah ancaman politik dan ideologis." Menteri Pertahanan Ariel Sharon menjelaskan tak lama sebelum invasi bahwa "ketenteraman di Tepi Barat" menuntut "penghancuran PLO di Lebanon", dan pengikut ultrakanannya, Kepala Staf Rafael Eitan, berkomentar kemudian bahwa perang ini adalah sebuah sukses, sebab ia betul-betul memperlemah "status politik" PLO dan "perjuangan PLO untuk mendirikan negara Palestina," seraya memperkuat kemampuan Israel untuk "membendung setiap tujuan semacam itu". Mengomentari pernyataan-pernyataan ini, sejarahwan militer Israel, Uri Milshtein (seorang pendukung "solusi Yordania" Buruh), mengungkapkan bahwa salah satu tujuan utama invasi ini dalam konsepsi Sharon-Eitan adalah "untuk menciptakan Orde Baru55 di Lebanon dan Timur Tengah", "memajukan proses Sadatisasi di sejumlah negara Arab", "menjamin aneksasi Yudea dan Samaria (Tepi Barat) bagi negara Israel", dan "mungkin suatu solusi bagi problem Palestina". Di ujung lain spektrum politik, anggota Knesset, Amnon Rubinstein --banyak dipuji di AS untuk sikap lunak dan liberalnya-- menulis bahwa sekalipun gencatan senjata "kurang-lebih" dipatuhi (baca: dipatuhi oleh PLO, tapi tidak oleh Israel), invasi atas Lebanon tersebut "dapat dibenarkan" lantaran adanya ancaman potensial, bukan aktual militer: persenjataan dan amunisi di Lebanon Selatan pada akhirnya akan digunakan untuk menghajar Israel. Pertimbangkanlah implikasi-implikasi dari argumen ganjil ini dalam konteks-konteks lain, bahkan kalaupun kita menganggap serius penegasan-penegasan tentang ancaman potensial militer PLO terhadap Israel .56 Lihat betapa Rubinstein mengantisipasi doktrin menarik yang ditelurkan oleh pemerintahan Reagan ketika mengantiaipasi pemboman April 1986 atas Libya dengan "pembelaan-diri terhadap serangan di masa depan" --kita akan kembali mengupas soal ini pada bab berikut. Para pembela kekejian Israel di Amerika terkadang mengakui kebenaran-kebenaran serupa. Tidak lama sebelum invasi, editor New Republic, Martin Peretz, dengan menggemakan suara Sharon dan Eitan, menegaskan bahwa Israel harus menggencarkan aksi bersenjata terhadap PLO sampai ia mengalami "kehancuran militer selamanya" di Lebanon. Dengan demikian, "akan jelas bagi masyarakat Palestina di Tepi Barat bahwa perjuangan mereka telah mengalami kemunduran yang panjang" sehingga dengan demikian "bangsa Palestina akan kembali menjadi sekadar bangsa tertindas, seperti kaum Kurdi atau Afghan". Dan sosialis Michael Walzer, yang menyetujui solusi bagi bangsa Arab-Palestina --juga yang tinggal di Israel-- dengan cara memindahkan mereka yang merupakan "kelornpok pinggiran di negara itu" (sesungguhnya ini garis Rabbi Kahane yang rasis itu, lihat Bab Pertama, catatan kaki nomor 7), menjelaskan di New Republic sesudah perang tersebut bahwa "saya tentu gembira menyambut kehancuran politik PLO, dan saya yakin bahwa diperlukan operasi militer terbatas untuk memungkinkan kehancuran itu dapat ditahan berdasarkan teori perang yang adil."57 Terkadang, amat menarik menyaksikan kesamaan pandangan antara kelompok ultrakanan Israel dan kaum Liberal-kiri Amerika mengenai masalah-masalah ini. Singkatnya, tujuan-tujuan perang ini politis, daerah-daerah pendudukan, dijadikan target utama, sasaran lainnya adalah pembentukan "Orde Baru" di Lebanon (dan mungkin di luarnya juga). Dongeng tentang perlindungan perbatasan dari terorisme itu Agitprop (agitasi-propaganda), yang ditelan dengan penuh nafsu oleh si jinak media AS. Kalau terorisme Palestina dapat dihidupkan lagi, itu malah lebih bagus. Dan, seandainya pun kita tak dapat rnenuding hidung Arafat, setidaknya ia dapat dicap sebagai "bapak pendiri kekerasan Palestina kontemporer" (New Republic) sehingga upaya-upayanya untuk mencapai pemecahan politik dapat dihapus. Soal pengelakan pemecahan politik tak selesai dengan kehancuran basis politik bagi PLO, sebagaimana diharapkan, sehingga media AS harus tetap gigih memerangi ancaman ini dan mempertahankan kebenaran doktrinal bahwa AS dan Israel menghendaki perdamaian, tapi selalu terhalang oleh rejeksionisme Arab. Demikianlah, pada April-Mei 1984, Arafat membuat serangkaian pernyataan di Eropa dan Asia, mengimbaukan perundingan-perundingan dengan Israel yang akan mengarah ke pengakuan timbal-balik. Tawaran ini kontan ditolak oleh Israel, dan tak digubris oleh AS. Sebuah berita UPI tentang usulan-usulan Arafat dimuat di halaman muka San Francisco Examiner, dan fakta-faktanya dilaporkan secara bersahaja dalam pers kualitas lokal. Pers nasional serempak membenamkan berita ini, kecuali Washington Post yang menyinggungnya sepintas beberapa pekan kemudian. New York Times tak mau memuat sepatah kata pun, bahkan memberangus surat-surat pembaca tentang topik ini, seraya --bersama media pada umumnya-- terus mengutuk Arafat atas keengganannya mengupayakan jalan diplomatik. Secara umum, semakin penting sebuah jurnal, semakin tandas ia memberangus fakta-fakta --suatu sikap yang wajar belaka mengingat pendirian pemerintah AS tentang masalah-masalah ini.58 Orang-orang Israel yang berpengetahuan, sudah jelas mengetahui pendirian Arafat. Mantan kepala dinas intelijen militer, Yehoshaphat Harkabi, ahli Arab dan tokoh yang sejak lama terkenal beringas, mencatat bahwa "PLO menghendaki pemecahan politik sebab ia tahu bahwa alternatifnya mengerikan dan akan menimbulkan kehancuran total". "Arafat, sebagaimana Hussein dan masyarakat Arab di Tepi Barat, cemas bahwa kalau tidak mungkin ada suatu pemecahan, Israel akan meledak, hancurlah semua tetangganya, termasuk bangsa Palestina". Karena itu, "Arafat bersikap relatif moderat dalam menghadapi Israel."59 Observasi-observasi ini menggarisbawahi beberapa hal: pertama, ada suatu konteks politik teramat penting yang di dalamnya terorisme harus dipahami, jika kita menyikapinya dengan serius. Kedua, ada kejahatan-kejahatan orang lain, bukan kejahatan kita yang sebanding atau lebih buruk, yang namanya "terorisme" --dalam hal ini kejahatan orang Palestina, bukan kekejian-kekejian orang Israel atau orang Amerika. Ketiga, konsep-konsep "terorisme" dan "pembalasan" dipakai sebagai istilah-istilah propaganda, bukan deskripsi. amat penting dicatat, kobaran histeria atas aksi-aksi terorisme yang diseleksi dengan cermat --adalah dilakukan orang Arab, entah Palestina, kaum Syi'ah Lebanon, Syria, Libya, atau bahkan Iran, yang boleh dianggap sebagai Arab untuk tujuan ini adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan politik khas tertentu. Pelacakan lebih jauh memperkuat kesimpulan-kesimpulan ini. Lihatlah sekali lagi soal pembalasan tersebut. Serangan roket pertama oleh kelompok Syi'ah atas Qiryat Shemona itu sendiri terjadi pada Desember 1985, setelah lebih tiga tahun masa pendudukan militer yang penuh kebiadaban luar biasa, yang mencapai puncaknya selama operasi-operasi Tinju Besi di masa Shimon Peres pada awal 1985. Tetapi, laporan tentang kebuasan para penjarah itu, yang diturunkan sekali-kali, tak mampu menggambarkan sesuatu yang menyerupai cerita utuh sebab ia mengabaikan kenyataan dari hari ke hari. Demikian pula halnya dengan laporan sesekali tentang penganiayaan-penganiayaan Israel di daerah-daerah pendudukan yang luput mengungkapkan gambaran-gambaran sejati tentang penistaan brutal, penindasan, pengeksploitasian buruh murah (termasuk anak-anak), kontrol keras atas kehidupan politik dan kultural, dan perintangan pengembangan ekonomi. Sebuah gambaran yang lebih jelas diberikan oleh Julie Flint, yang menuturkan "cerita tentang kehidupan, dan kematian, di sebuah desa di Lebanon Selatan", kediaman masyarakat Sy'iah, satu bulan sebelum serangan roket itu. Menurut sejarah resmi, Kfar Roummane telah menjadi "sebuah kota pertanian yang makmur, berpenduduk delapan ribu orang" di dekat Nabatiya selama masa ketika Lebanon Selatan dikuasai "teror" PLO (lihat catatan kaki nomor 37). Setelah apa yang disebut New York Times sebagai "pembebasan"-nya dari kekuasaan PLO, ia dikelilingi oleh "dua benteng raksasa yang dibangun oleh Israel bersama centeng Lebanonnya, Tentara Lebanon Selatan". Dan kedua benteng inilah selalu tersembur tembakan dan berondongan peluru, "kadang-kadang dari subuh sampai petang, terkadang hanya beberapa jam", menimbulkan banyak korban, sampai membuat enam ribu warganya mengungsi dan, menyebabkan tiga perempat wilayah kota kecil ini tak dapat dihuni dan menjadi "desa mati". Di sini tak terlihat adanya aktivitas-aktivitas perlawanan --kemungkinan kecil hanya ada di kalangan para petani apolitis yang mendiami rumah-rumah petak di bentangan kawasan luas di lereng bukit.60 Apakah pemberondongan Qiryat Shemona itu pantas disebut "terorisme" atau "pembalasan", bahkan dengan mengesampingkan penyiksaan-penyiksaan maut dalam operasi-operasi Tinju Besi-nya Peres-Rabin? Melihat kehidupan para teroris juga mengesankan. Seseorang yang diwawancarai Washington Post dalam serial lima tulisannya tentang terorisme, diseleksi dengan kekhasan yang lazim. Ia pernah divonis 18 tahun di sebuah penjara Israel, dan dipilih karena "dalam banyak hal mewakili teroris-teroris yang kini mendekam di penjara London sampai Kuwait". "Dalam hidupnya, sebuah tragedi pribadi (kematian ayahnya akibat ledakan bom di Jerusalem pada 1946) yang berpadu dengan penemuan sebuah sistem keyakinan (Marxisme) menceburkannya ke dalam suatu kancah pembunuhan politik darah-dingin". "Bom yang menewaskan ayahnya bersama lebih sembilan puluh orang lainnya dipasang oleh kelompok bawah tanah Zionis Irgun, pimpinan Menachem Begin, di markas besar militer Inggris yang sekarang menjadi Hotel King David" --sebagaimana waktu itu.61 Ia "diperkenalkan dengan Marxisme, katanya, melalui 'realitas' kondisi di kamp-kamp Palestina" di Tepi Barat yang diduduki. "Realitas" di daerah-daerah pendudukan, bukan hanya di kamp-kamp itu, sangat real, dan lebih buruk dan kejam, di luar halaman-halaman editorial pers nasional, yang melaluinya kita diberi tahu bahwa pendudukan itu merupakan "sebuah model bagi kerja sama masa depan" dan suatu "eksperimen dalam koeksistensi Arab-Israel".62 Menjelaskan bukanlah membenarkan, tapi ini terus terang saja menimbulkan beberapa pertanyaan mengenai gampangnya penggunaan istilah-istilah seperti "pembalasan". Atau lihatlah Sulaiman Khaler, serdadu Mesir yang membunuh wisatawan Israel di sebuah Pantai Sinai pada 5 Oktober 1985. Pers Mesir melaporkan bahwa ibunya mengatakan ia "senang melihat Yahudi-Yahudi itu sudah mati", dan seorang dokter di desanya, Baher Al-Bakr, melukiskan penembakan-penembakan itu sebagai sebuah peringatan terhadap "perdamaian semu" antara Mesir dan Israel. Kejahatan apakah yang sampai menimbulkan reaksi sekeras itu? pemboman Tunisia beberapa hari sebelumnya barangkali alasannya, tapi agaknya ada alasan-alasan lain. Pada 1970, pesawat-pesawat tempur Israel membom Baher Al-Bakr, menewaskan 47 anak sekolah, selama "perang pengurasan tenaga musuh" (war of attrition). Israel melakukan pemboman luas sebagian jauh memasuki wilayah Mesir --memaksa satu setengah juta penduduk sipil menyingkir dari daerah Terusan Suez karena mengkhawatirkan meletusnya perang besar, ketika pesawat-pesawat MIG dengan pilot Soviet yang sedang bertahan di dalam Mesir ditembak jatuh di atas wilayah Mesir, oleh jet-jet Phantom Israel yang baru dimilikinya.63 Maka, ada sesuatu yang hilang ketika korespondensi Times Israel dengan lunak melaporkan bahwa Khaler "bertindak karena motif-motif yang bersifat nasionalis dan anti-Israel"64 --suatu sikap yang wajar belaka mengingat peristiwa yang baru saja dituturkan kembali itu. David Hirst mengamati bahwa "pusat atau basis yang teramat penting bagi terorisme internasional (dalam pengertian Barat yang sudah disterilkan) adalah Lebanon. Lebanon menafkahi teroris-terorisnya sendiri, ataupun bertindak sebagai tuan rumah yang ramah bagi teroris-teroris yang didatangkan", baik kelompok Palestina yang "tahunya cuma membom, membunuh, membantai dan memenggal, menyebarkan kebencian, ketakutan, dan perasaan terancam", maupun orang-orang Lebanon, yang masyarakatnya sudah dihajar telak oleh agresi Israel dukungan Amerika berikut kelanjutannya; "... sebuah keyakinan tertanam di jiwa kaum muda masa kini" di kalangan kelompok-kelompok ini: "bahwa di bawah Presiden Reagan, yang telah memberikan keberpihakan tradisional negerinya kepada Israel dalam masa yang teramat panjang, AS adalah biang keladi laknat pencipta seluruh tatanan yang ada, yang demikian tak termaafkan sehingga cara apa pun kini dihalalkan untuk menghancurkannya. Rangsangan teroris agaknya paling kuat di kalangan bangsa Palestina, tapi ia kuat juga di antara orang Lebanon, Arab, atau --yang manifestasinya paling spektakuler-- di kalangan kelompok Syi'ah". Hal yang amat penting diungkapkan oleh mantan kepala dinas intelijen militer Israel, Jenderal (Purnawirawan) Yehoshaphat Harkabi: "Tawarkanlah suatu solusi terhormat kepada bangsa Palestina yang menghormati hak-hak mereka untuk menentukan nasib sendiri: yaitu solusi atas masalah terorisme. Kalau rawanya sudah lenyap; nyamuk-nyamuk tidak akan muncul lagi."65 Agresi dan terorisme skala besar AS-Israel terang memberikan sumbangan bagi situasi yang dilukiskan Hirst --seperti dapat diduga dan barangkali malah sangat disadari (lihat uraian di muka)-- dan kedua negara teroris ini lebih dari gembira melihat hasilnya, yang memberi mereka suatu pembenaran untuk tetap menpertahankan cara kekerasan dan rejeksionisme mereka. Selanjutnya, terorisme balasan yang disebabkan oleh ulah mereka dapat dengan efektif dimanfaatkan untuk menanamkan perasaan cemas yang cukup dan mobilisasi di kalangan penduduk, sesuai dengan kebutuhan bagi tujuan-tujuan lebih luas. Yang terpenting adalah suatu sistem propaganda yang dapat diandalkan untuk berulang-ulang meneriakkan komando dan untuk memberangus setiap pemahaman tentang perbuatan-perbuatan AS, polanya, sumber-sumbernya, dan motivasinya. Untuk keperluan ini, para pembuat keputusan hanya membutuhkan beberapa hal. Aksi-aksi teroris dilukiskan dengan tegas oleh para pelakunya sebagai "pembalasan" (atau, dalam kasus terorisme AS dan Israel; sebagai "tindakan mendahului"). Maka, pemboman atas Tunisia diduga sebagai pembalasan untuk pembunuhan-pembunuhan di Larnaca, seperti sudah disebut, walaupun sama sekali tak ada bukti bahwa korban-korban pemboman Tunisia itu punya hubungan dengan penembakan Larnaca. Yang terakhir ini juga dijustifikasi sebagai "pembalasan", sebuah respons terhadap pembajakan Israel atas kapal-kapal yang sedang berlayar dari Cyprus ke Lebanon.66 Klaim yang pertama (pemboman Tunisia) diterima di AS sebagai tindakan sah, yang terakhir tak digubris atau dicemooh suatu pembedaan berdasarkan komitmen ideologi, sesuai dengan norma yang berlaku. Dengan mengesampingkan justifikasi-justifikasi bagi kekerasan teroris dan berpegang hanya pada catatan faktual, tak ada keraguan bahwa Israel telah dan sedang melakukan operasi-operasi pembajakan dan penculikan di laut sejak bertahun-tahun lalu. Di AS, tak ada perhatian dan kerisauan atas kejahatan ini, yang mengobarkan kegusaran dan kemarahan besar kalau pelakunya orang Arab. Bahkan tak dirasa perlu untuk melaporkan fakta bahwa Mahkamah Agung Israel sesungguhnya memberikan pengesahan atas cara ini. Dalam kasus seorang Arab yang memohon pembebasan hukumannya atas dasar bahwa ia ditangkap di luar wilayah perairan Israel, Mahkamah Agung menetapkan bahwa "legalitas bagi penghukuman dan pemenjaraan tidak bergantung pada cara-cara tersangka dibawa ke wilayah Israel", dan menggariskan (sekali lagi) bahwa pengadilan Israel dapat menghukum seseorang yang melakukan tindakan di luar Israel, yang dianggap sebagai kejahatan. Dalam kasus ini, Mahkamah menegaskan bahwa "alasan-alasan keamanan" membuatnya perlu membiarkan si pemohon tetap berada di penjara.67 Kembali ke catatan sejarah, pada 1976, menurut anggota Knesset jenderal (Purnawirawan) Mattiyahau Peled, Angkatan Laut Israel mulai menangkapi kapal-kapal milik kaum Muslim Lebanon, menyerahkannya kepada kelompok Kristen Lebanon sekutu Israel, yang kemudian membunuh mereka, dalam upaya untuk menggagalkan langkah-langkah menuju konsiliasi-konsiliasi yang telah direncanakan antara PLO dan Israel. PM Rabin membantah fakta-fakta ini, tetapi mengatakan bahwa kapal-kapal itu ditangkap sebelum ada rencana konsiliasi, sementara Menteri Pertahanan Shimon Peres tak mau berkomentar. Setelah suatu pertukaran tahanan pada November 1983, berita halaman-muka Times menyebut di alinea kedelapanbelasnya bahwa 37 tawanan Arab yang telah disekap di kamp tawanan Ansar yang terkenal buruk, "telah diciduk baru-baru ini oleh AL Israel ketika mereka mencoba berusaha melarikan diri dari Cyprus ke Tripoli", di Beirut Utara --sebuah ulasan yang tak dikomentari di sana dan di tempat-tempat lain.68 Pada Juni 1984, Israel membajak sebuah kapal feri yang sedang berlayar antara Cyprus dan Lebanon, 5 mil di luar Pantai Lebanon, dengan berondongan senapan mesin dan memaksanya berlayar ke Haifa. Lalu, sembilan penumpangnya, delapan orang Lebanon dan seorang Syria, diciduk dan ditawan. Lima orang kemudian dibebaskan setelah diinterogasi, dan empat tetap ditahan, termasuk seorang wanita dan seorang anak. sekolah yang pulang liburan dari Inggris ke Beirut; dua orang dilepaskan dua pekan kemudian, sementara nasib yang dua lagi tak jelas. Peristiwa ini dianggap begitu sepele sehingga orang harus menyusuri berita-berita kecil di halaman-halaman belakang koran, sekadar untuk mengetahui lebih banyak tentang nasib Para penumpang yang diculik itu: Observer London menyiratkan bahwa penculikan ini "bermotif politik": untuk memaksa para penumpang --menggunakan feri yang beroperasi dari Pelabuhan Jounieh milik kelompok Maronit, bukannya pelabuhan Muslim di Beirut Barat, atau untuk memberi isyarat kepada masyarakat Lebanon bahwa mereka "tak berdaya" dan karena itu harus mau bekerja sama dengan Israel. Lebanon mengutuk "aksi pembajakan" ini, yang oleh Godfrey Jansen dilukiskan sebagai "agenda lain" dalam "daftar panjang kejahatan terorisme laut". Ditambahkan bahwa, "Israel lalu membom dan membombardemen habis sebuah pulau kecil di Tripoli yang dikatakan menjadi markas operasi-operasi laut PLO"sebuah pernyataan yang dicibirnya sebagai "isapan jempol". Polisi Lebanon melaporkan bahwa 15 orang tewas, 20 cedera, dan 20 hilang, semuanya warga Lebanon, yang terdiri dari para nelayan dan anak-anak di sebuah perkemahan pramuka Sunni yang merupakan sasaran "pukulan paling keras".69 Dalam laporannya tentang "penangkapan" Israel (terjemahan Newspeak untuk pembajakan) atas kapal feri itu, Times mengungkapkan bahwa sebelum perang 1982, "Angkatan Laut Israel sering menangkapi kapal-kapal yang akan menuju atau meninggalkan Pelabuhan-Pelabuhan Tyre dan Sidon di selatan dan menggeledah mereka untuk mencari gerilyawan --suatu penelanan bulat-bulat yang lazim atas pernyataan-pernyataan Israel. "Penangkapan" Syria atas kapal-kapal sipil Israel dengan dalih serupa pasti dipandang dengan sangat berbeda. Demikian pula pembajakan Israel atas sebuah pesawat sipil Libya pada 4 Februari 1986, yang diterima dengan kalem kalaupun dikritik, dianggap sebagai kesalahan karena kekeliruan intelijen.70 Pada 25 April 1985, sejumlah orang Palestina diculik dari kapal-kapal sipil yang beroperasi antara Lebanon dan Cyprus, dan dikirim ke tempat-tempat rahasia di Israel. Fakta ini menjadi pengetahuan umum (di Israel) ketika salah seorang diwawancarai di televisi Israel, yang menyebabkan munculnya permohonan keterangan kepada Mahkamah Agung. Diduga masih ada korban-korban lain yang tak diketahui.71 Tak satu pun dari kasus-kasus ini --yang kebanyakan diketahui hanya melalui komentar incidental-- membangkitkan perhatian atau keprihatinan yang lebih besar daripada ketika dilaporkan sepintas bahwa "tawanan-tawanan keamanan" Arab yang dilaporkan dalam suatu pertukaran dengan Syria itu sebenarnya adalah "orang-orang Druze penduduk desa-desa di wilayah strategis Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel".72 Rupanya dianggap hak istimewa Israel untuk sekehendaknya melakukan pembajakan kapal-kapal dan penculikan-penculikan, dan membombardemen apa yang ia sebut "sasaran-sasaran teroris" dengan persetujuan orang-orang penting di Amerika Serikat, bagaimanapun fakta-faktanya. Mari kita tengok sejarah serangan atas Pulau Tripoli di utara Beirut itu, yang menyebabkan terbunuhnya sejumlah nelayan Lebanon dan anak-anak pramuka di sebuah perkemahan. Peristiwa ini sangat kurang mendapat perhatian, tetapi ini wajar saja jika diukur dari kekejian-kekejian teroris Israel yang begitu kerap terjadi, yang membuat peristiwa ini tampak sama sekali tak serius. Dalam hal serangan-serangan Palestina, persoalannya sangat berbeda. Tak ada seorang pun yang mengenang dengan lebih bergidik daripada kekejaman di Ma'alot pada 1974, yakni 22 anggota kelompok dan penduduk paramiliter tewas dalam tembak menernbak setelah (Menteri Pertahanan) Moshe Dayan menolak atas keberatan-keberatan Jenderal Mordechai Gur --untuk mempertimbangkan perundingan-perundingan mengenai tuntutan para teroris bagi pembebasan sejumlah tawanan Palestina.73 Orang dapat mempersoalkan apakah pembunuhan anak-anak pramuka Lebanon itu kurang keji --kenyataannya, sama sekali tidak ada yang menganggapnya keji karena itu dilakukan oleh "negeri yang menghargai kehidupan manusia" (Washington Post) yang memiliki "tujuan moral yang luhur" (Times) yang mungkin satu-satunya dalam sejarah.74 Dua hari sebelum serangan Ma'alot, jet-jet Israel membom desa El-Kfeir Lebanon, menewaskan empat warga sipil. Menurut Edward Said, serangan Ma'alot itu "didahului oleh pemboman napalm Israel terus-menerus selama berminggu-minggu atas kamp-kamp pengungsi Palestina di Lebanon Selatan", menewaskan lebih dari 200 orang. Pada waktu itu, Israel sedang menjalankan operasi pembumihangusan besar-besaran di Lebanon Selatan, dengan serangan-serangan darat, laut, dan udara, serta operasi-operasi komando yang menggunakan senapan, bom, senjata anti-personel,dan napalm. Operasi ini tampaknya menewaskan sampai ribuan orang (Barat rupanya begitu tenangnya sehingga tidak tercatat angka-angka akurat di AS), dan ratusan ribu orang tergiring ke arah utara, ke daerah-daerah kumuh di sekitar Beirut.75 Perhatian begitu kecil dan pelaporan amat sedikit. Tak satu pun dari kebuasan Israel ini yang dicatat dalam sejarah terorisme. Bahkan, menurut sejarah yang telah disterilkan, ia tak pernah terjadi, walaupun serangan-serangan maut teroris Palestina pada awal 1970-an --sudah pasti-- dikutuk keras, dan terus dijadikan bukti bahwa bangsa Palestina tak dapat menjadi mitra untuk merundingkan nasib mereka. Sementara itu, media terus saja dikecam kelewat kritis terhadap Israel dan bahkan "pro-PLO", sebuah bagian dari aksi propaganda yang sangat berhasil. Kita dapat mencatat interpretasi atas peristiwa-peristiwa ini yang dikemukakan oleh para pemimpin Israel yang di Amerika dihormati sebagai "kelompok moderat", misalnya Yitzhak Rabin --mantan duta besar di Washington dan kemudian perdana menteri selama periode kekejian terburuk Israel di Lebanon-- sebelum persetujuan Camp David: "Kita tak dapat membiarkan nestapa penduduk sipil di Lebanon Selatan ... Merupakan kewajiban kemanusiaan kitalah untuk membantu penduduk di kawasan itu dan mencegah jangan sampai mereka ditumpas habis oleh teroris-teroris garang itu."76 Para pengulas memoar Rabin, tempat munculnya kata-kata ini, tak merasakan ada yang tak beres di dalamnya-begitu efektifnya sebuah sejarah yang mengabdi ideologi terbangun, dan begitu dalamnya rasisme anti-Arab di Barat. Harus pula dicatat bahwa Israel tidaklah sendirian dalam menikmati hak untuk membajak, baik di laut maupun di udara. Sebuah laporan Tass yang mengutuk pembajakan Achille Lauro pada Oktober 1985, menuduh Amerika Serikat munafik, sebab dua orang yang telah membajak sebuah pesawat penumpang Soviet membunuh seorang pramugari dan melukai para awak lainnya diberi perlindungan di AS, yang menolak pengekstradisian.77 Kasusnya terang tak ada yang tahu, dan tuduhan munafik itu memang sangat pantas dilontarkan. Kasus ini juga tidak unik. Abraham Sofaer, penasihat hukum di Departemen Luar Negeri, mengamati bahwa "Selama 1950-an, di tengah penentangan keras Amerika terhadap pembajakan-pembajakan pesawat, Amerika Serikat beserta sekutu-sekutu Baratnya menolak permohonan dari Cekoslovakia, Uni Soviet, Polandia, Yugoslavia dan rezim-rezim komunis lainnya untuk menyerahkan orang-orang yang telah membajak pesawat, kereta api, dan kapal-kapal, yang melarikan diri." Sofaer menandaskan bahwa AS "meninjau kembali kebijakannya" pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, "ketika pembajakan pesawat mencapai tingkat yang mewabah" dan menghadapkan "problem yang terlalu serius dan ancaman yang terlalu besar bagi keamanan para penumpang yang tak berdosa untuk ditoleransi."78 Ini merupakan Newspeak untuk fakta bahwa pembajakan mulai diarahkan terhadap AS dan sekutu-sekutunya, dan karena itu masuk dalam kategori terorisme, bukan perlawanan heroik terhadap penindasan. Lagi-lagi, dukungan AS bagi pembajakan dengan sasaran tertentu tak dipaparkan dengan gamblang di media atau dalam ulasan-ulasan para pakar terorologi yang sedang naik-daun. Orang dapat pula menyebut pembajakan pesawat pertama di Timur Tengah, yang ceritanya juga ganjil. Pembajakan itu dilakukan Israel pada Desember 1954, ketika sebuah jet penumpang sipil Syria dikepung oleh pesawat-pesawat tempur Israel dan dipaksa mendarat di Bandara Lydda. Maksud Kepala Staf AB Moshe Dayan adalah "untuk memperoleh sandera-sandera guna mendapatkan pembebasan tawanan-tawanan kita di Damaskus", tulis Perdana Menteri Moshe Sharett dalam catatan hariannya. Tawanan-tawanan Dayanlah yang dimasalahkan itu adalah tentara-tentara Israel yang tertangkap dalam sebuah misi mata-mata di dalam Syria. Kita ingat, Dayan-lah yang, dua puluh tahun kemudian, memerintahkan usaha penyelamatan yang berujung pada kematian para remaja Israel di Ma'alot, yang disandera dalam upaya mencapai pembebasan para tawanan Palestina di Israel. Sharett menulis sendiri bahwa "kita tak punya alasan pembenar apa pun untuk merampas pesawat itu" dan bahwa ia "tak punya alasan untuk meragukan kebenaran penegasan faktual Deplu AS bahwa tindakan kita tak ada presedennya dalam sejarah praktek internasional". Tetapi, peristiwa ini lenyap dari sejarah sehingga Dubes Israel di PBB, Benjamin Netanyahu, --mantan PM Israel-- dapat tampil di televisi nasional dan menuduh PLO sebagai "pencipta" pembajakan pesawat dan bahkan pembunuhan diplomat, tanpa khawatir ada kontradiksi.79 Mengenai pembunuhan diplomat, kita agaknya hanya mengingat pembunuhan mediator PBB, Folke Bernadotte, pada 1948 oleh sebuah kelompok teroris yang dipimpin atasan langsung Netanyahu, Menlu Yitzhak Shamir, yang merupakan salah satu dari tiga komandan yang memerintahkan pembunuhan ini (komandan kedua, sekarang sudah meninggal, adalah komentator terpandang dalam pers Israel selama berpuluh tahun, sebagaimana yang ketiga). Seorang sahabat karib David Ben-Gurion secara pribadi mengakui bahwa dialah salah seorang pembunuhnya, tapi Ben-Gurion tetap merahasiakannya, dan pemerintah Israel mengatur pelarian dari penjara dan kepergian dari Israel bagi mereka yang bertanggung jawab atas peristiwa itu. Dalam penuturan berdasarkan kesaksiannya sendiri, sejarahwan Zionis, Jon Kimche, menulis bahwa "tidak ada kecaman luas dan desakan untuk menangkap para pelakunya", dan "tidak banyak muncul kemarahan moral". "Sikap mayoritas adalah bahwa musuh lain kaum Yahudi sudah kalah". Pembunuhan itu "dikecam, disesalkan, dan disayangkan karena ia akan menimbulkan cemoohan terhadap Israel, dan membuat kerja para diplomatnya lebih sulit; bukan karena cara pembunuhan yang ditempuh itu sendiri memang salah".80 Dalam memori selektif kita yang disepakati, hanya tindakan-tindakan Arab yang tetap sebagai "momok bengis terorisme". Setelah pembajakan Achille Lauro sebagai pembalasan atas pemboman Tunisia, isu pembajakan kapal menjadi perhatian pokok Barat. Sebuah studi oleh kantor berita Reuter menyimpulkan bahwa "hanya terjadi sedikit sekali pembajakan kapal sejak 1961", lalu memberi beberapa contoh pembajakan oleh kaum Muslim. Pembajakan oleh Israel sama sekali tak masuk daftar. ||_______ Terorisme Timur Tengah dan Sistem Ideologi Amerika (3/3) Pembajakan bukanlah satu-satunya bentuk terorisme yang lolos dari kategori ini jika ia dilakukan oleh kawan-kawan AS. Dubes AS di PBB, Jeane Kirkpatrick, menjelaskan bahwa peledakan kapal protes antinuklir kelompok Greenpeace, Rainbow Warrior, oleh agen-agen Perancis dengan menewaskan satu orang bukanlah terorisme: "Saya ingin mengatakan bahwa Perancis jelas tak berniat untuk menyerang warga sipil dan orang-orang tak berdosa dan melakukan penganiayaan atau pembunuhan" --sebuah seruan bahwa teroris-teroris lain dapat melakukan semua ini dengan tenang. Dalam editorial utamanya, berjudul "Mitterand's Finest Hour" ("Saat Terbaik Mitterand"), Asian Wall St. Journal menulis, "Kampanye Greenpeace itu teramat keras dan berbahaya ... Bahwa pemerintah Perancis telah siap untuk menggunakan kekerasan terhadap Rainbow Warrior ... mencerminkan bahwa pemerintah memiliki prioritas-prioritas yang jelas". Dalam New York Times, David Housego mengulas sebuah buku tentang peristiwa ini, mengkritik Perancis karena melakukan "kekeliruan-kekeliruan" dan "sebuah kesalahan yang buruk"; "tidak ada perlunya meledakkan kapal itu, dan Perancis dapat "mencapai tujuan serupa dengan publisitas yang jauh kurang jelek". Tidak ada isyarat bahwa sejumlah kata yang lebih keras patut dilontarkan. Berdasarkan "kekeliruan-kekeliruan" ini, Housego menyimpulkan bahwa "sukarlah untuk membenarkan tanpa memberatkan (Menteri Pertahanan) Mr. Hernu, dan sulit untuk menyalahkan orang-orang Selandia Baru untuk penyekapan mereka atas para perwira Perancis itu."82 Housego membandingkannya dengan Watergate, sambil melupakan kesamaan besarnya: dalam kasus itu juga terdapat kegaduhan besar tentang "kekeliruan-kekeliruan" dan kejahatan. kecil, serta banyak pujian-diri di pihak media, sementara Kongres maupun media menyepelekan kejahatan-kejahatan besar yang dilakukan Pemerintah Nixon karena menganggapnya tak relevan.83 Sang Kaisar terbebas dari dakwaan melakukan terorisme ataupun kejahatan-kejahatan lain, dan sekutu-sekutunya sering menikmati keistimewaan serupa. Kesalahan terburuk mereka hanyalah melakukan "kekeliruan-kekeliruan". George Shultz patut nian diberi penghargaan atas kemunafikan dalam hal ini. Seraya memberikan dorongan "aktif" terhadap terorisme, ia melukiskan pernyataan bahwa "seorang teroris adalah seorang pejuang kemerdekaan dalam bentuk lain" sebagai "akal bulus": Pejuang kemerdekaan atau kaum revolusioner tidak meledakkan bus-bus yang tak berisi tentara musuh. Para teroris pembunuh melakukan hal itu. Pejuang kemerdekaan tidak membunuh pengusaha tak berdosa atau membajak pria, wanita, dan anak-anak tak berdosa. Para teroris pembunuh melakukan hal itu ... Para pejuang perlawanan di Afghanistan tidak menghancurkan desa-desa atau membunuh orang-orang tak berdaya. Kelompok Contra di Nikaragua tidak meledakkan bus-bus sekolah atau melakukan eksekusi-eksekusi massal atas penduduk sipil. Kenyataannya, para teroris yang dikomandoi Shultz di Nikaragua, seperti ia ketahui, justru amat mahir dalam serangan-serangan maut atas warga sipil, dengan menganiaya, memperkosa, dan memotong-motong anggota badan. Catatan teror mereka yang menjijikkan terdokumentasi rapi, meski tak dihiraukan dan dengan cepat dilupakan, bahkan disangkal oleh para pembela teroris (lihat catatan kaki nomor 17). Pejuang-pejuang perlawanan di Afghanistan juga melakukan bentuk tertentu penganiayaan brutal yang akan mengobarkan kecaman-kecaman keras di Barat, seandainya pasukan-pasukan yang diserang (yang kemudian akan disebut "pembebas" yang bertindak "mempertahankan diri") adalah orang Amerika atau Israel. Hanya beberapa bulan sebelum Shultz bicara, kawan-kawannya dari kelompok UNITA di Angola berbangga karena telah menembak jatuh pesawat sipil dengan menewaskan 266 orang dan membebaskan 26 sandera yang telah mereka sekap selama sembilan bulan, termasuk 21 orang Portugis, dan misionaris-misionaris Spanyol dan Amerika Latin. Mereka juga, menurut laporan Associated Press, mengumumkan "suatu kampanye baru teror-kota", melakukan pemboman di Luanda dengan menewaskan 30 orang dan mencederai lebih dari 70 orang, ketika sebuah jip penuh dinamit meledak di kota itu. Mereka juga menangkapi guru, dokter-dokter Eropa, dan lain-lain --jumlahnya sekitar 140 orang asing menurut laporan pers-- termasuk 16 orang teknisi Inggris yang, tandas Jonas Savimbi, "dijadikan sandera" dan tidak akan "dibebaskan sampai Perdana Menteri Thatcher memberi organisasinya semacam pengakuan". Aksi-aksi semacam ini terus saja berlangsung, misalnya peledakan sebuah hotel pada April 1986, yang menewaskan 17 warga sipil dan melukai banyak lainnya. Savimbi "adalah salah seorang diantara segelintir pahlawan sejati di zaman kita", kumandang Jeane Kirkpatrick dalam sebuah konvensi Aksi Politik Konservatif. Disinilah Savimbi "menerima tepukan meriah sesudah bersumpah akan menyerang instalasi-instalasi minyak Amerika di negaranya, sebuah rencana untuk membunuh warga Amerika yang tidak mendorong AS untuk melancarkan doktrin "pembelaan-diri terhadap serangan di masa depan" seperti diterapkan untuk menjustifikasi pemboman atas "si anjing gila" Qaddafi. Demikian pula tak ada pemboman atas Johannesburg ketika para serdadu bayaran Afrika Selatan tertangkap pada Mei 1985 di Angola Utara dalam sebuah misi untuk menghancurkan fasilitas-fasilitas serupa dan membunuh para warga Amerika. Sebuah negara teroris harus menerapkan penilaian-penilaian yang sangat seksama.84 Dalam dunia nyata, Savimbi memenuhi syarat-syarat sebagai seorang pejuang kemerdekaan bagi Shultz, Kirkpatrick, dan para komandan serta penasihat teroris terkemuka lainnya, terutama lantaran "UNITA merupakan grup paling kuat di antara kelompok-kelompok klien dukungan Afrika Selatan, yang digunakan untuk menggoyahkan negara-negara tetangga."85 Sebagaimana serdadu-serdadu Contra Shultz, tugas utama mereka, seperti sudah disebut, adalah menjadikan seluruh penduduk Nikaragua sebagai sandera di bawah ancaman teror sadistis, untuk memaksa pemerintah menanggalkan setiap komitmen terhadap kebutuhan-kebutuhan mayoritas yang miskin, dan menggariskan kebijakan "moderat" dan "demokratis" demi kepentingan-kepentingan pokok bisnis AS beserta rekanan-rekanan lokalnya, sebagaimana layaknya negara manis yang berada di bawah pengayoman Amerika. Tetapi, dalam iklim kultural yang bejat dan korup, tempat suburnya komandan dan para pembela teroris, pernyataan Shultz dan pernyataan-pernyataan lain yang serupa, berlalu dengan nyaris tanpa menaikkan alia mata. Menyekap sandera jelas termasuk dalam rubrik terorisme. Oleh karena itu, jelas bahwa Israel bersalah untuk sebuah aksi besar terorisme internasional ketika ia menggelandang sekitar 1.200 tawanan, kebanyakan kelompok Syi'ah Lebanon, ke Israel dengan melanggar hukum internasional dalam perjalanan mundurnya dari Lebanon. Untuk tindakannya ini, Israel menjelaskan bahwa mereka akan dilepaskan "pada jadwal tak tertentu, bergantung pada situasi keamanan di Lebanon Selatan." jadi, teranglah bahwa mereka dijadikan sandera, sambil menantikan munculnya "perilaku baik" di pihak penduduk lokal yang dijaga ketat oleh pasukan Israel bersama serdadu-serdadu bayaran mereka di "wilayah keamanan", Lebanon Selatan dan daerah-daerah sekitarnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Mary McGrory, dengan penyempalan langka dari konformitas umum, para tawanan itu adalah "sandera-sandera di penjara Israel"; "Mereka bukan penjahat; mereka dijaring untuk dijadikan tameng terhadap serangan, ketika orang-orang Israel akhirnya meninggalkan Lebanon." Sesungguhnya, tak ada niat untuk meninggalkan Lebanon, tempat Israel mempertahankan "wilayah keamanan"-nya, dan sebenarnya pengunduran parsial ini merupakan prestasi aksi perlawanan rakyat Lebanon. Sebanyak 140 tawanan diam-diam dibawa ke Israel pada November 1983, dengan melanggar perjanjian dengan Palang Merah untuk membebaskan mereka dalam sebuah pertukaran tawanan, setelah penutupan (hanya untuk sementara, sebagaimana kemudian terbukti) kamp tawanan Ansar, pentas penganiayaan-penganiayaan brutal yang sering dilukiskan sebagai "kamp konsentrasi" oleh orang-orang Israel yang bekerja di sana atau yang mengunjunginya, dan yang merasa jijik melihat perilaku buas para penawan. Tawanan-tawanan itu bahkan tak boleh dikunjungi oleh Palang Merah sampai Juli 1984. Juru bicara Departemen Pertahanan Israel, Nachman Shai, menyatakan, 400 dari 766 orang yang masih disekap pada Juni 1985 ditangkap karena "kegiatan-kegiatan teroris" --artinya, mengadakan perlawanan terhadap pendudukan militer Israel, sedangkan "sisanya ditahan karena melakukan bentuk-bentuk aktivitas-aktivitas politik yang kurang keras atau mengorganisasikan kegiatan-kegiatan yang dimaksudkan untuk mengusir Tentara Israel dari Lebanon, kata Mr. Shai".86 Israel sudah berjanji untuk membebaskari 340 sandera pada 10 Juni, "tapi menunda pembebasan itu pada saat terakhir karena alasan-alasan keamanan yang tak pernah dijelaskan sepenuhnya".87 Empat hari kemudian, kelompok Syi'ah Lebanon --yang menurut laporan merupakan sahabat dan kerabat para sandera yang disekap Israel88-- membajak TWA flight 847, menawan sejumlah sandera dalam upaya untuk membebaskan para sandera yang ditawan Israel. Pembajakan ini mengobarkan histeris yang terancang rapi dan seratus persen hipokrit di Amerika Serikat, dengan munculnya nada-nada rasis yang gamblang dan maraknya serangan kepada media yang memberi para pembajak kesempatan langka untuk menjelaskan sikap mereka. Karena itu, ini mengusik disiplin totalitarian yang telah mapan dalam sistem propaganda. Para penculik Israel tak membutuhkan akses khusus ke media AS, yang dengan senang hati menyampaikan pesan-pesan mereka untuk kepentingan mereka, sering sebagai "berita". Media acap dikecam sebagai "mendukung terorisme" dengan memberi peluang kepada para teroris untuk menyatakan sikap mereka. Rujukannya bukan kepada tindakan reguler Ronald Reagan, George Shultz, Elliot Abrams, dan teroris-teroris ulung lainnya, yang menyajikan pesan-pesan mereka tanpa ada sedikit pun bantahan atau komentar, menyediakan kerangka buat konsep dan asumsi-asumsi untuk apa yang disebut "pelaporan berita". Pers menyunat pernyataan-pernyataan para pembajak yang bernada meminta pembebasan sandera-sandera yang disekap Israel yang, tentu saja, bukan sandera menurut adat Amerika, sebab mereka ditawan oleh "pihak kita". Keganjilan pretensi kelompok Syi'ah dipaparkan gamblang. Flora Lewis menyatakan bahwa "bukanlah watak kaum militan Syi'ah, yang menjunjung kesyahidan dan memperlihatkan sedikit keengganan dalam mencabut nyawa orang, untuk terlalu peduli dengan waktu pengembalian para tawanan" --versi lain dari konsep mujarab bahwa peringkat-peringkat lebih rendah daripada penawanan tak dirasa menyakitkan. Editor Times menyajikan argumen muram bahwa "Israel sudah merencanakan untuk menenteramkan kelompok Syi'ah yang berang itu pekan lalu (yaitu, beberapa hari sebelum pembajakan TWA), tapi tertunda oleh penculikan sejumlah serdadu Finlandia PBB di Lebanon". Dalam berita 90-kata, Times mencatat tuduhan Finlandia bahwa selama peristiwa yang sama sekali tak ada kaitannya ini, "Para perwira Israel menyaksikan kelompok milisi Lebanon mempermak serdadu-serdadu Finlandia yang diculik saat sedang bertugas sebagai pasukan PBB di Lebanon, tapi tak berbuat apa-apa guna menolong mereka", sementara mereka "dipukuli dengan batang besi, pipa karet, dan popor senapan oleh anggota-anggota Tentara Pembebasan Lebanon". "Ada banyak sekali kejahatan di sini", sergah Times, lalu mengutuk para pembajak TWA, penguasa Yunani (untuk kelalaian mereka), dan bahkan Amerika Serikat karena "tak menghukum Iran yang melindungi para pembunuh dua warga Amerika dalam sebuah pembajakan tahun lalu" (lihat catatan kaki nomor 77). Tapi, penyanderaan yang dilakukan Israel tak termasuk dalam kejahatan-kejahatan ini.89 Sejarawan Princeton, ahli Timur Tengah, Bernard Lewis, yang reputasi keilmuannya selayaknya menyumbangkan bukti atau menyangkal bukti-tandingan eksplisit yang tak semestinya, dengan lantang menandaskan bahwa "para pembajak atau pihak-pihak yang mengirim mereka harus betul-betul mengetahui. bahwa Israel sudah berencana untuk membebaskan orang-orang Syi'ah dan tawanan-tawanan Lebanon lainnya, dan bahwa tantangan terbuka semacam ini hanya akan menunda pembebasan mereka, bukan mempercepatnya". Lebih jauh, mereka "menantang Amerika, menistakan warga Amerika", sebab mereka tahu bahwa media yang selalu haus-berita akan "memberi mereka publisitas tak terbatas dan mungkin malah semacam advokasi". Ingat bahwa ini adalah suara seorang cendekiawan terpandang dalam sebuah jurnal terpandang --suatu kenyataan yang sekali lagi membuat kita makin paham tentang kesintingan aneh yang berlaku dalam kehidupan intelektual. Editor New Republic mencibir tuntutan kelompok Syi'ah bagi pembebasan sandera-sandera tawanan Israel sebagai "sampah belaka"; "Pembajakan, penculikan, pembunuhan, dan pembantaian adalah cara kelompok Syi'ah dan faksi-faksi lainnya di Lebanon dalam menjalankan bisnis politik mereka", dan "semua orang tahu" bahwa tawanan-tawanan yang disekap Israel sudah dijadwalkan untuk dibebaskan --kalau Israel sedang waras dan siap. Presiden Reagan semakin memompa histeris dengan menjelaskan bahwa "tujuan nyata" para teroris itu, tidak kurang, adalah "menyingkirkan Amerika dari dunia". Sementara Norman Podhoretz, seraya mengingatkan bahwa penggunaan kekerasan mungkin sekali akan menyebabkan kematian warga Amerika yang disandera, mengecam Reagan karena tidak "mempertaruhkan jiwa (yakni jiwa orang-orang lain) guna membela kehormatan bangsa". Walikota New York, Edward Koch, menyerukan pemboman Lebanon dan Iran, dan para tukang bikin ulah lainnya.90 Sementara itu, pembaca yang cermat dapat menemukan berita kecil di antara timbunan laporan-laporan tentang krisis penyanderaan ini bahwa dua ribu orang Syi'ah Lebanon --termasuk tujuh ratus anak-anak-- mengungsi dari rumah-rumah mereka di bawah berondongan Tentara Lebanon Selatan Israel, yang juga menembaki jip-jip pasukan penjaga perdamaian PBB. Sementara itu, "hari ini suatu pasukan gabungan serdadu-serdadu Israel dan kelompok milisi Kristen mengobrak-abrik sebuah desa di Lebanon Selatan dan menangkap sembilan belas orang Syi'ah, kata seorang juru bicara PBB".91 Setelah pembajakan, Israel mulai melepaskan sandera-sanderanya sesuai dengan jadwalnya sendiri, sangat mungkin dipercepat lantaran pembajakan TWA ini telah menarik perhatian internasional atas pembajakan itu sendiri, jauh lebih besar dibandingkan dengan operasi penculikan yang lebih penting itu. Ketika tiga ratus orang dibebaskan pada 3 Juli, AP melaporkan kesaksian mereka bahwa mereka disiksa dan kelaparan, sementara Thomas Friedman dari Times hanya mendengar bahwa "kami telah diperlakukan dengan baik oleh orang Israel ..." Dan akhirnya, Reagan menulis surat kepada Shimon Peres, "mengatakan bahwa krisis penyanderaan Beirut telah mempererat hubungan antara negara-negara mereka"; tak disebut-sebut tentang "krisis penyanderaan" yang lain, yang tak menjadi bagian dari sejarah resmi.92 Berdasarkan standar-standar Newspeak Barat pun, aksi-aksi Israel tersebut dapat dinyatakan sebagai penyekapan sandera. Akan tetapi, sebagai klien dari sang Kaisar yang mengacau dunia, Israel lolos dari dakwaan ini. Namun, penting ditandaskan lagi batas-batas konsep Orwellian dalam diskursus politik kontemporer, yang di dalamnya istilah-istilah seperti "terorisme" dan "sandera" dirumuskan sedemikian rupa sehingga mengecualikan contoh-contoh paling ekstrem --seperti kasus di Nikaragua atau Lebanon Selatan-- yakni. seluruh penduduk dijadikan sandera guna menjamin kepatuhan kepada sang majikan asing. Penggunaan istilah semacam ini wajib hukumnya, mengingat watak sejati terorisme internasional besar-besaran itu dan kebutuhan nyata untuk mencegah setiap pemahaman yang benar tentangnya. Sepanjang hanya menyangkut Timur Tengah, kita harus mengakui bahwa pada tingkat tertentu soal ini dipahami dengan baik oleh para pengelola terorisme internasional. Alasan bagi serangan buas atas Lebanon Selatan sepanjang 1970-an dijelaskan oleh Abba Eban, diplomat Israel yang dianggap tokoh lunak terkemuka: "ada suatu kemungkinan rasional, yang akhirnya pasti terjadi, bahwa penduduk yang terkena akan menggunakan tekanan untuk mendesakkan gencatan permusuhan". Diterjemahkan ke dalam bahasa gamblang: penduduk Lebanon Selatan dijadikan sandera, untuk menahan mereka agar memaksa bangsa Palestina menerima status yang telah ditetapkan bagi mereka oleh pemerintahan Partai Buruh yang diwakili oleh Eban, yang telah menegaskan bahwa bangsa Palestina "tak punya peranan untuk dimainkan" dalam setiap pemecahan secara damai.93 Kepala Staf AB Mordechai Gur menjelaskan pada 1978 bahwa "selama 30 tahun, ... kita terus bertempur melawan sekelompok penduduk yang tinggal di desa dan kota-kota", lalu ia menyebut peristiwa-peristiwa seperti pemboman Kota Irbid, Yordania, dan terusirnya puluhan ribu penduduk Lembah Yordan dan satu setengah juta warga sipil dari Terusan Suez akibat pemboman-masih banyak contoh lain. Semua ini merupakan bagian dari program penyanderaan penduduk sipil guna mencegah perlawanan terhadap pemecahan politik yang dipaksakan dengan kekerasan oleh Israel, dan selanjutnya melestarikannya seraya menolak kemungkinan pemecahan politik, seperti yang ditawarkan Sadat tentang perjanjian perdamaian-penuh berdasarkan perbatasan-perbatasan yang diakui secara internasional pada 1971. praktek "pembalasan" rutin Israel terhadap sasaran-sasaran sipil tak berdaya yang tak ada kaitannya dengan sumber-sumber aksi-aksi teroris (aksi-aksi ini sendiri sering merupakan pembalasan bagi terorisme Israel sebelumnya, dan seterusnya), juga mencerminkan konsepsi serupa yang menyempal, pada awal 1950-an, dari diktum terdahulu Ben Gurion bahwa "reaksi tidaklah efisien", kecuali kalau ditujukan secara tepat: "Kalau kita tahu keluarganya --(kita harus) menggebuknya tanpa ampun, termasuk wanita dan anak-anak."94 Pemahaman Gur tentang perang-perang Israel dianut luas di kalangan para komandan militer. Selama operasi-operasi Tinju Besi di awal 1985, Menteri Pertahanan Yitzhak Rabin memperingatkan bahwa jika diperlukan, Israel akan melancarkan "sebuah kebijakan pembumihangusan seperti yang terjadi di Lembah Yordan selama perang pengurasan tenaga musuh" dengan Mesir. "Lebanon sekarang merupakan sumber teror yang lebih serius dibandingkan pada 1982", tambahnya, dengan munculnya teroris-teroris Syi'ah yang mencekam Eropa Barat (mereka tak berbuat demikian sebelum invasi Israel 1982, karena alasan-alasan yang tak kunjung jelas), sehingga Israel harus mempertahankan sebuah wilayah di selatan, tempat "kita dapat membendungnya". Veteran komandan pasukan-payung, Dubik Tamari, yang mengeluarkan perintah penggempuran kamp Ain el-Hilweh dengan bombardemen udara dan artileri untuk "menyelamatkan jiwa" serdaru-serdadu di bawah komandonya (ini adalah penerapan lain dari bualan "kesucian tangan"). Dia menjustifikasi tindakan ini dengan komentar bahwa "Negara Israel sudah membunuhi warga sipil sejak 1947", dan "pembunuhan penduduk sipil dengan sengaja" merupakan "salah satu tujuan utama."95 Tamari menyebut serangan atas Qibya pada 1953 sebagai contoh, ketika Unit 101 Ariel Sharon membunuh tujuh puluh warga desa Arab di rumah-rumah mereka, agaknya sebagai pembalasan atas sebuah serangan teroris yang sama sekali tak ada hubungannya dengan mereka. Ben-Gurion berdalih di radio Israel bahwa orang-orang yang dibunuh oleh warga sipil Israel itu dihabisi oleh teroris Arab, mereka "umumnya pengungsi, rakyat dari negara-negara Arab dan orang-orang yang selamat dari kamp-kamp konsentrasi Nazi". Ben-Gurion juga membantah "tuduhan ngawur" bahwa pasukan militer Israel terlibat sebuah dusta tak tahu malu yang, selanjutnya, menempatkan permukiman-permukiman Israel di bawah ancaman pembalasan atas pembantaian-pembantaian darah-dingin ini. Yang kurang diketahui adalah fakta bahwa sebulan sebelum pembantaian Qibya, Moshe Dayan mengirim Unit 101 untuk menggiring empat ribu orang Badui dari suku Azzazma dan Tarbin menyeberangi perbatasan Mesir, sebuah langkah lain dalam pengusiran-pengusiran yang sudah dimulai sejak 1950, tak lama setelah gencatan-gencatan senjata. Pada Maret 1950, sebelas orang Israel tewas dalam sebuah peledakan bus di Negev Timur oleh orang-orang Azzazma ("terorisme yang tak beralasan"), memicu penggempuran Israel atas desa Nahaleen Yordania yang sama sekali tak ada kaitannya, menewaskan sembilan orang ("pembalasan"). Pada Agustus 1953, Unit 101 Sharon membunuh dua puluh orang, dua pertiganya di jalur Gaza, dalam "pembalasan" atas infiltrasi.96 Siklus "pembalasan" (oleh Yahudi) dan "teror" (oleh Palestina) setapak demi setapak dapat dilacak sampai berpuluh tahun ke belakang --suatu pelacakan yang akan segera menunjukkan bahwa terminologi ini adalah khazanah propaganda, bukan deskripsi faktual. Lagi-lagi di sini kita dapat melihat betapa efektifnya sejarah direkonstruksi dalam bentuk yang lebih bersifat mengabdi ideologi. Maka, Thomas Friedman, ketika mengulas strategi "kontra-terorisme Israel", menulis bahwa "periode pertama, dari 1948 hingga 1956, dapat dilukiskan dengan paling baik sebagai era kontra terorisme-melalui-pembalasan, atau umpan-balik negatif", meskipun "setidaknya satu di antara pembalasan-pembalasan ini menjadi amat kontroversial, menimbulkan korban-korban sipil" --agaknya ini menunjuk pembantaian Qibya. Catatan para akademisi tentang hal ini acapkali hampir tidak berbeda.97 Operasi-operasi Tinju Besi tentara Israel di Lebanon Selatan pada awal 1985 juga berpedoman pada logika yang dikerangkakan Eban, seperti sudah dibahas. Penduduk sipil dijadikan sandera di bawah ancaman teror untuk menjamin bahwa mereka menerima kesepakatan-kesepakatan politik yang didiktekan oleh Israel di Lebanon Selatan dan daerah-daerah pendudukan. Peringatan-peringatan masih dikumandangkan. Penduduk masih dijadikan sandera, tanpa menimbulkan keprihatinan dari negara adidaya yang membiayai operasi-operasi ini, dan tanpa ada usaha untuk mencapai pemecahan politik yang sungguh-sungguh. Sementara terorisme skala-besar --termasuk penawanan sandera-- lolos dari tudingan dalam Newspeak Barat kalau dilakukan oleh pihak kawan, hal serupa berlaku bagi operasi-operasi skala lebih kecil, seperti sudah digambarkan. Untuk menyebut sejumlah kecil kasus khas lainnya, pada November-Desember 1983 Israel "menetapkan bahwa ia tak akan membiarkan pasukan Arafat keluar dari kota itu (Tripoli, di Lebanon Utara, tempat mereka digempur oleh pasukan dukungan Syria) selama nasib para tawanan Israel belum jelas". Karena itu, Israel membom apa yang mereka sebut "posisi-posisi gerilyawan", merintangi keberangkatan kapal-kapal Yunani yang mau mengangkut keluar kelompok-kelompok yang setia kepada Arafat. Para jubir Druze melaporkan bahwa sebuah rumah sakit terkena bom selama pemboman dan pemberondongan "tempat-tempat yang mereka sebut sebagai basis Palestina" di Beirut Timur; sementara di Tripoli, "sebuah kapal kargo yang sudah remuk, terkena hantaman langsung dan tenggelam", dan "sebuah kapal penumpang habis terbakar ketika dibom".98 Lagi-lagi penduduk, juga kapal asing, dijadikan sandera untuk menjamin pembebasan tawanan-tawanan Israel yang tertangkap dalam perjalanan agresi Israel di Lebanon. Tak ada komentar tentang kekejian lanjutan ini di Amerika, seperti biasa. Di Lebanon dan Laut Mediterania, Israel melancarkan serangan-serangan dengan bebas dan sama sekali tanpa sanksi. Pada tengah Juli 1985, pesawat-pesawat tempur Israel membom dan memberondong kamp-kamp Palestina di dekat Tripoli menewaskan sedikitnya dua puluh orang, kebanyakan warga sipil, termasuk enam anak-anak di bawah usia dua belas tahun. "Gumpalan-gumpalan asap dan debu menyelimuti,kamp-kamp pengungsi Tripoli yang dihuni lebih dari 25.000 orang Palestina selama berjam-jam sejak serangan pukul 2:55 sore itu", yang diduga sebagai "pembalasan" atas dua serangan bom mobil beberapa hari sebelumnya di "zona keamanan" Israel di Lebanon Selatan, oleh sebuah kelompok yang punya hubungan dengan Syria. Dua pekan kemudian, kapal-kapal tempur Israel menyerang sebuah kapal kargo berbendera Honduras, satu mil dari pelabuhan Sidon, yang menurut kapten Yunaninya sedang menurunkan semen, merusak tubuh kapal dengan tiga puluh lubang; tak lama kemudian kelompok milisi itu kembali menembaki dan membom dari arah pantai, mencederai sejumlah warga sipil. Pers aliran-utama bahkan tak mau melaporkan bahwa keesokan harinya kapal-kapal tempur Israel menenggelamkan sebuah perahu nelayan dan merusak tiga lainnya, sementara seorang anggota Parlemen dari Sidon meminta PBB agar mengakhiri "pembajakan" Israel yang didukung Amerika. Pers melaporkan apa yang disebut Israel suatu operasi "pembedahan" terhadap "instalasi-instalasi teroris" dekat Baalbek di Lembah Bekaa pada Januari 1984, menewaskan sekitar seratus orang --kebanyakan sipil-- dan melukai empat ratus lainnya, termasuk seratus lima puluh anak-anak dalam sebuah pemboman besar atas sebuah gedung sekolah. "Instalasi-instalasi teroris" itu termasuk sebuah masjid, satu hotel, sebuah restoran, sejumlah toko dan gedung lain di tiga desa Lebanon dan kamp pengungsi Palestina yang diserang, sementara warta Beirut melaporkan bahwa sebuah pasar ternak dan sebuah kompleks industri juga dibom dan banyak bangunan pun rusak. Seorang wartawan Reuters di desa-desa yang dibom mengatakan bahwa babak kedua pemboman dimulai dua puluh menit sesudah yang pertama, "menambah jumlah orang yang tewas atau cedera", karena penduduk pria dan wanita keluar dari tempat perlindungan untuk mulai menarik orang yang mati atau cedera dari reruntuhan gedung-gedung. Ia melihat "banyak sekali anak-anak" di rumah-rumah sakit, sementara para saksi mata melaporkan banyaknya pria dan wanita yang berhamburan ke sekolah-sekolah dan dengan panik mencari anak-anak mereka. Pemimpin kelompok Syi'ah Lebanon yang mengutuk "kebiadaban Israel", melukiskan serangan-serangan terhadap "warga sipil tak berdosa, rumah-rumah sakit dan tempat-tempat ibadat" itu sebagai upaya "untuk meneror penduduk Lebanon". Tetapi, peristiwa ini berlalu tanpa komentar di Amerika, malah Israel dipuji sebagai "negeri yang menghargai kehidupan manusia" (Washington Post). Maka, kita dapat menyimpulkan sekali lagi bahwa korban-korban pemboman pembedahan itu hanya setengah-manusia dalam konsensus Barat yang rasis.99 Sekali lagi, orang dapat membayangkan bagaimana reaksi yang akan muncul di Barat, termasuk media "pro-Arab", seandainya PLO atau Syria yang melakukan "serangan pembedahan terhadap "instalasi-instalasi teroris" di dekat Tel Aviv, menewaskan seratus orang sipil dan melukai empat ratus lainnya, termasuk seratus lima puluh anak-anak dalam pemboman besar atas sebuah gedung sekolah beserta sasaran-sasaran sipil lainnya. Versi standar di Amerika ialah bahwa kekerasan Israel --biarpun sangat eksesif-- merupakan "pembalasan" atas kekejaman-kekejaman Arab. Seperti Amerika Serikat, Israel mengklaim hak-hak yang jauh lebih luas: hak untuk melakukan serangan-serangan teroris guna mencegah aksi-aksi potensial menentangnya, sebagaimana dalam justifikasi bagi perang Lebanon oleh anggota lunak Knesset, Ammon Rubinstein, seperti telah dikutip. Serdadu-serdadu melancarkan apa yang mereka sebut "tembakan preventif" saat berpatroli di Lebanon, menyapu kawasan ini dengan berondongan senapan mesin, rnenyebabkan pasukan pemelihara perdamaian Irlandia memblokade jalan sebagai protes. Teramat sering, serangan-serangan Israel di Lebanon dinyatakan sebagai "preventif, bukan penghukuman", misalnya pemboman dan pemberondongan kamp-kamp pengungsi Palestina dan desa-desa sekitarnya oleh 30 jet Israel pada 2 Desember 1976, menewaskan 57 orang, yang tampaknya sebagai pembalasan atas keputusan Dewan Keamanan PBB untuk membahas sebuah usulan perdamaian Arab yang ditolak keras oleh Israel dan karena itu ditanggalkan dari sejarah.100 Tatkala pasukan-pasukan udara dan amfibi Israel menyerang Tripoli ini Lebanon Utara pada Februan 1973 yang menewaskan 31 orang (umumnya sipil) menurut penguasa Lebanon, dan merusak sekolahan, klinik, dan gedung-gedung lainnya --Israel menjustifikasi gempuran-gempuran ini sebagai "dimaksudkan untuk mencegah sejumlah serangan teroris yang sudah direncanakan terhadap orang-orang Israel di luar negeri".101 Polanya tetap, dan justifikasi-justifikasi itu diterima di Amerika sebagai sah belaka --lagi-lagi mencerminkan status Israel sebagai sebuah negara klien yang bermanfaat dan status setengah-manusia korban-korbannya. Kasus yang disebut terakhir itu terjadi bersamaan dengan hari ketika Israel menembak jatuh sebuah pesawat komersial Libya yang kemudian tertelan badai pasir, dua menit menjelang mendarat di Kairo, dengan menewaskan 110 orang. AS secara resmi menyatakan simpatinya terhadap keluarga-keluarga para korban, tetapi juru bicara persnya "tak mau berbicara kepada wartawan tentang perasaan Pemerintah mengenai insiden ini". Israel menyalahkan sang pilot Perancis; Times dengan taat kontan menggarisbawahi penyalahan ini dengan menerima penegasan Israel bahwa pilot itu tahu bahwa dia telah diperintahkan untuk mendarat, tetapi malah mengelak dengan tindakan yang "sangat mencurigakan'" --seperti justifikasi Uni Soviet untuk penembakannya atas KAL 007 102-- sehingga tindakan Israel ini "paling buruk ... hanya dapat disebut tindakan sewenang-wenang yang tak setara dengan kebuasan aksi-aksi Arab sebelumnya yang toh dimaafkan". Reaksi resmi Israel dikemukakan oleh Perdana Menteri Golda Meir, "Pemerintah Israel menyatakan kesedihan mendalam atas hilangnya jiwa manusia dan penyesalan bahwa pilot Libya. (sic) tersebut tidak menghiraukan peringatan-peringatan yang diberikan kepadanya, sesuai dengan kelaziman internasional", sementara Shimon Peres menambahkan bahwa "Israel bertindak sesuai dengan hukum internasional". Israel menyatakan dengan bohong bahwa pilot itu tak berwenang menerbangkan pesawat jet. "Pers dilarang memuat gambar-gambar pesawat yang hancur, korban yang tewas dan yang cedera", ungkap Amiram Cohen dalam sebuah ulasan terperinci tentang reaksi Israel (ditulis sesudah perontokan KAL 007), dan "para wartawan tak diizinkan mendatangi rumah sakit di Beersheba dan mewawancarai penumpang-penumpang yang selamat --semuanya merupakan bagian dari usaha "penyumbatan informasi". Reaksi internasional dicibir oleh pers Israel sebagai senapas dengan "anti-Semitisme yang subur" di Eropa, dan ungkapan ini --juga di Amerika-- akan langsung dilontarkan terhadap siapa pun yang berani menyinggung atau mengkritik kekejian Israel. Pers Israel bersikeras bahwa "Israel tidak bersalah" dan bahwa "orang harus menyalahkan si pilot (Perancis)". Itu merupakan "suatu mobilisasi pers," kata Cohen, guna mendukung pembenaran aksi-aksi Israel. Sesudah melontarkan sekeranjang dusta, Israel menegaskan bahwa terjadi suatu "kekeliruan penilaian", dan bersedia memberi sejumlah ganti rugi kepada keluarga-keluarga para korban "untuk menghormati pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan", seraya menyangkal bahwa Israel "bersalah" atau bertanggung jawab atas kejatuhan pesawat itu.103 Peristiwa ini berlalu dengan cepat di Amerika Serikat, dengan hanya sedikit kritik terhadap para pelaku kejahatan ini. PM Golda Meir datang ke Amerika empat hari kemudian; ia jengkel dengan beberapa pertanyaan tajam dari pers, dan pulang dengan membawa hadiah baru berupa sejumlah pesawat militer. Seperti sudah disebutkan, reaksinya sangat berbeda dengan ketika Rusia menembak jatuh KAL 007 pada September 1983,104 tetapi sama dengan ketika kawan-kawan UNITA AS menyatakan telah merontokkan dua pesawat sipil pada saat yang sama. Tidaklah sulit untuk melihat kriteria bagi "terorisme internasional". Catatan tentang terorisme Israel dapat disusun sejak awal berdirinya negara ini --bahkan sebelumnya-- termasuk pembantaian 250 warga sipil dan pengusiran keji atas 70.000 orang lainnya dari Lydda dan Ramle pada Juli 1948; pembantaian beratus-ratus orang di desa Doueimah di dekat Hebron pada Oktober 1948 dalam salah satu dari sejumlah besar "operasi pembersihan tanah" yang digencarkan seraya aparat propaganda internasionalnya mengumumkan bahwa warga-warga Arab itu meninggalkan kediaman mereka, seperti juga sekarang, atas imbauan para pemimpin mereka; pembunuhan ratusan orang Palestina oleh IDF setelah penjarahan Jalur Gaza pada 1956; pembantaian di Qibya, Kafi Kassem, dan banyak lagi desa lainnya; pengusiran beribu-ribu orang Badui dari daerah-daerah bebas-militer tak lama setelah perang 1948 dan beribu-ribu lagi dari timur laut Sinai pada awal 1970-an, lalu desa-desa mereka dihancurkan untuk membuka kawasan bagi permukimam Yahudi, dan seterusnya. Korban-korban itu, per definisi, adalah "partisan-partisan PLO", dan karena itu teroris, Maka, editor terpandang dari Ha'aretz, Gershom Schocken, dapat menulis bahwa Ariel Sharon "mengibarkan namanya sejak awal 1950-an sebagai seorang pejuang buas terhadap para partisan PLO", menunjuk pada pembantaian-pembantaian yang dipimpinnya di Qibya pada 1953 (jauh sebelum PLO ada). Dan korban-korban di Lebanon dan tempat-tempat lain, sudah tentu, adalah "teroris" --kalau bukan, tentu mereka tidak akan dibunuh oleh sebuah negara yang sedemikian mengagungkan "kesucian tangan", dan yang dinyatakan dijalankan menurut "hukum yang luhur" oleh pers Amerika yang "pro-Arab". Para komandan teroris itu berkedudukan terhormat. Ketika sang teroris ulung AS kontemporer menduduki jabatan presiden pada 1981, kedua komandan teroris Israel yang kondang jahatnya menduduki jabatan perdana menteri dan menteri luar negeri; sementara jabatan tertinggi di negeri Yahudi itu dipegang oleh orang yang telah membunuh puluhan warga sipil yang disanderanya di masjid sebuah kota Lebanon pada operasi pembersihan tanah yang lain pada 1948, yang dengan segera memperoleh pengampunan --semua jejak kejahatan ini dihapus dari sejarah, dan jaminan sebuah lisensi penegak hukum atas dasar "tak bercacat" dapat diberikan atas tindakannya.105 Bahkan terorisme terhadap warga Amerika sepenuhnya dapat ditoleransi. Serangan-serangan teroris Israel atas instalasi-instalasi AS (juga tempat-tempat umum) di Mesir pada 1954 --dalam rangka merusak hubungan AS-Mesir dan menggoyahkan perundingan-perundingan perdamaian rahasia yang waktu itu sudah berjalan-- dimaafkan belaka ketika itu, dan selanjutnya hampir tak lagi diingat. Demikian pula upaya penenggelaman kapal intelijen AS Liberty di perairan internasional pada 1967 oleh torpedo dan bomber-bomber Israel, yang bahkan memberondong sekoci-sekoci yang masih berada di atas kapal, guna menjamin bahwa tak akan ada yang bakal selamat; sebanyak 34 awak tewas dan 171 luka-luka. peristiwa ini merupakan bencana laut AS di masa damai yang terburuk di abad ini, tetapi dianggap sebagai "kekeliruan" --sebuah keganjilan yang mencolok-- dan nyaris tak diketahui.106 Demikian juga halnya dengan penganiayaan para warga Amerika oleh tentara Israel di Tepi Barat dan Lebanon Selatan, yang hampir tak diberitakan oleh media; sorotan dan verifikasi dubes AS di Israel, yang disangkal oleh Israel, juga tak dihiraukan.107 Fakta bahwa korbannya adalah para warga Amerika keturunan Arab jelas berperan sebagai justifikasi bagi pemberangusan beritanya, sesuai dengan standar-standar media. Apa yang mencengangkan mengenai catatan ini --yang mencakup cukup banyak terorisme terhadap kaum Yahudi sendiri pada masa yang paling dini-- adalah bahwa ia sama sekali tak menodai reputasi Israel di Amerika, untuk standar-standar moralnya yang tak ada bandingnya dalam sejarah. Setiap aksi baru terorisme, kalaupun dicatat, segera dibenamkan dan dilupakan, atau dilukiskan sebagai suatu penyimpangan insidental dari kesempurnaan; dijelaskan dengan bertolak dari watak garang sang musuh, yang memaksa Israel untuk menyimpang --biarpun hanya sesaat-- dari jalan luhurnya. Sementara itu, media acapkali dikecam untuk "moral ganda" mereka yang mengabaikan kejahatan-kejahatan Arab seraya mendesak Israel agar memenuhi standar-standar kebajikan yang mustahil; dan para cendekiawan terpandang --yang reputasinya toh tak ternoda oleh absurditas-absurditas semacam ini-- dengan enteng memberi tahu kita bahwa "sejumlah besar tokoh masyarakat terkemuka di Barat, bahkan- beberapa pemerintah Barat" (biasa, semuanya tak disebut namanya) telah menyokong PLO untuk menghancurkan Israel.108 Di jajaran spektrum politik Amerika Serikat dan di kalangan kelas-kelas terpelajar --dengan keseragaman yang amat besar dan perkecualian yang teramat kecil-- bercokol doktrin kukuh bahwa terorisme Palestina beserta sekutu-sekutu Arabnyalah, dengan dukungan Kremlin, serta komitmen membara mereka untuk membunuhi kaum Yahudi dan menghancurkan Israel, dan penolakan mereka untuk mempertimbangkan setiap pemecahan politik, yang menjadi akar penyebab konflik abadi Arab Israel yang di dalamnya Israel merupakan korban yang memilukan. Sebagaimana Amerika Serikat, ia tak berdaya di hadapan "momok bengis terorisme", yang bergentayangan dari Amerika Serikat sampai Lebanon dan tempat-tempat lain. Gerakan nasional Yahudi beserta negara yang tumbuh darinya, tidaklah mencemari tanah barunya dengan catatan berlimpah tentang kekejian-kekejian terorisnya, terlepas dari kekebalan yang mereka nikmati dalam opini terkemuka Barat. Bagi warga Amerika, cukuplah mengingat "bahwa Adolf Hitler memilih untuk memuji Amerika Serikat ... karena "mengatasi masalah' penduduk asli",109 sebagaimana dilakukan oleh sebagian dari mereka yang hidup dengan kode Hitler di Amerika Tengah dewasa ini, dengan dukungan AS. Tetapi, komentar-komentar mutakhir tentang "terorisme" di "negara-negara beradab" penuh kemunafikan busuk, dan hanya akan jadi objek cemoohan di kalangan masyarakat beradab.[] ||_______ Libya dalam Demonologi* Amerika Serikat (1/2) Dalam sistem doktrinal Amerika, tidak ada orang yang dilambangkan dengan begitu tandas sebagai "momok bengis terorisme" seperti Muammar Qaddafi, si "anjing gila" di dunia Arab, dan Libya di bawah kepemimpinannya telah menjadi model utama bagi sebuah negara teroris. Penggambaran Libya di bawah Qaddafi sebagai negara teroris memang pas. Laporan terbaru Amnesti Internasional menyebut pembunuhan atas empat belas warga negara Libya oleh negara teroris ini sepanjang tahun 1985, empat di antaranya dihabisi di luar negeri; aksi-aksi besar terorisme bolehlah dinisbatkan pada Libya.1 Di tengah hiruk-pikuk histeris yang dirancang untuk meraih tujuan-tujuan lain, macam-macam tuduhan dilontarkan. Tetapi, yang mendapat perhatian khusus adalah pernyataan seorang pejabat senior intelijen AS pada April 1986, bahwa "beberapa pekan lalu", Qaddafi "menggunakan rakyatnya terutama untuk membunuh kaum penyempal Libya."2 "Beberapa pekan lalu," kata sang pejabat intelijen melanjutkan, Qaddafi "membuat keputusan tegas untuk membidik warga Amerika." Dugaan keputusan ini, yang dianggap sebagai fakta mapan dalam sistem indoktrinasi, walau tak ada sepotong pun bukti terpercaya yang disajikan untuk menopangnya (seperti akan kita lihat), dikemukakan sesudah insiden Teluk Sidra, ketika armada laut dan udara AS menenggelamkan kapal-kapal Libya dengan menewaskan banyak orang, dan dianggap sah belaka, malah dirasa sangat terlambat, menurut doktrin-doktrin sinis sebagaimana dianut oleh pemerintah Amerika Serikat dan diamini oleh para komentator terpandang --sebagian sudah dikutip, sebagian lagi akan segera kita sorot. Laporan-laporan Amnesti Internasional menyatakan bahwa pembunuhan-pembunuhan teroris Libya mulai berlangsung sejak awal 1980, pada masa ketika (Presiden) Jimmy Carter melancarkan perang teroris di El Salvador dengan kerelaan Jose Napoleon Duarte untuk berperan sebagai pelindung guna menjamin bahwa persenjataan akan mengalir ke tangan para pembunuh. Sementara Libya membunuh empat belas warganya sendiri, bersama segelintir orang lain, rezim klien AS El Salvador menghabisi sekitar 50.000 warganya dengan cara yang dilukiskan oleh Uskup Rivera Damas --pengganti Uskup Agung Romero yang terbunuh-- pada Oktober 1980, sesudah tujuh bulan teror berlangsung, sebagai "sebuah perang penggilasan dan pemusnahan terhadap seluruh penduduk sipil yang tak berdaya".3 Pasukan-pasukan keamanan yang melaksanakan tugas-tugas yang diperlukan ini diacungi jempol oleh Duarte beberapa pekan kemudian, karena mereka telah "mengabdi dengan gagah berani bersama-sama rakyat melawan subversi", seraya mengakui bahwa "massa berada di pihak gerilyawan" ketika penggilasan ini mulai dilancarkan di bawah aliansi Carter-Duarte. Duarte menyatakan pujian atas pembunuhan-pembunuhan massal ini tatkala ia dilantik sebagai presiden Junta, dalam rangka memberi kepresidenannya legitimasi dan menjamin arus pasokan senjata setelah pembunuhan atas empat biarawati Amerika --suatu tindakan yang umumnya dipandang tak patut di AS-- meskipun justifikasi-justifikasi pun sudah dikemukakan untuk tewasnya para biarawati ini, oleh Jeane Kirkpatrick dan (Menlu) Alexander Haig. Sementara itu, media mencoba meyakinkan kita, "Tidak ada argumen kuat bahwa kebanyakan dari korban-korban politik yang jumlahnya ditaksir 10.000 orang pada 1980 adalah korban-korban pasukan pemerintah atau milisi-milisi yang punya hubungan dengan mereka" (Washington Post), meskipun kemudian diakui diam-diam bahwa pada waktu itu para pejabat dalam pemerintahan Carter menyampaikan berita kepada media bahwa "pasukan-pasukan keamanan yang bertanggung jawab atas 90 persen dari kekejian-kekejnan itu", bukan "kelompok-kelompok sayap-kanan yang 'tak terkontrol'" sebagaimana dilaporkan oleh pers.4 Sejak hari-hari pertama operasi-operasi teroris Carter-Reagan di El Salvador, peran utama Duarte adalah menjamin bahwa tidak akan ada rintangan bagi pembantaian itu, seraya menyangkal kekejian-kekejian yang terdokumentasikan rapi atau menjustifikasinya dengan alasan bahwa para korban adalah "kaum komunis". Ia telah memainkan perannya dengan amat baik, membangkitkan tepukan meriah di jajaran spektrum politik Amerika Serikat, ketika pembantaian buas terhadap penduduk sipil ini berbuah sesuai dengan yang diinginkan, yaitu menghancurkan ancaman berupa demokrasi sejati yang telah tumbuh pada 1970-an dengan munculnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat dukungan Gereja, himpunan petani, serikat buruh, dan "organisasi-organisasi rakyat" lainnya. Koresponden konservatif Amerika Tengah dari Spectator London mengamati bahwa pasukan-pasukan maut itu "melaksanakan persis tugas mereka: mereka menyembelih serikat buruh dan ormas-ormas" dan menyebabkan orang-orang yang selamat "mengungsi ke luar negeri atau bergabung dengan gerilyawan", yang pada titik ini perang AS terhadap penduduk pedesaan pindah ke persneling tinggi, dengan teror dan pembantaian-pembantaian besar. Maka, wajarlah kalau para editor New Republic, yang telah mendesak Reagan agar menggencarkan pembantaian ini dengan tanpa peduli akan hak-hak asasi manusia ("ada prioritas-prioritas Amerika yang lebih penting di sana") dari "tak peduli berapa banyak pun yang terbunuh", kini tentu melihat dengan gembira sukses-sukses di El Salvador, yang merupakan "model nyata bagi pendukungnya guna mendorong menuju demokrasi dalam lingkungan kita". Teror yang terus berlangsung, yang didokumentasikan oleh Americas Watch, Amnesti Internasional, dan --teramat jarang--oleh media, merupakan hal yang sangat diabaikan di Amerika.5 Pembantaian di El Salvador bukanlah sekadar terorisme negara berskala besar, melainkan terorisme internasional, mengingat pengorganisasiannya, pasukan persenjataannya, pelatihnya, dan partisipasi langsung dari sang Penguasa Separo Bumi. Demikian pula pembantaian atas sekitar 70.000 rakyat Guatemala pada tahun-tahun yang sama, ketika persenjataan AS mengalir ke tangan para pembunuh dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan oleh banyak orang, meskipun mereka perlu mengundang para centeng Amerika --jenderal-jenderal Argentina neo-Nazi, Taiwan, dan terutama Israel, yang menggadaikan keahliannya dengan penuh semangat untuk urusan ini-- guna melakukan pembantaian secara lebih efisien; pemerintah AS juga membangun suatu saluran persenjataan yang melibatkan Belgia dan kolaborator-kolaborator lainnya sebagai pelengkap, di bawah pengarahan ilegal Pentagon dan CIA. Tatkala teror mencapai puncak kebiadabannya, Reagan dan kawan-kawan memuji para pembunuh dan penyiksa itu karena perbaikan-perbaikan yang mereka lakukan di bidang hak-hak asasi manusia, dan "pengabdian total mereka kepada demokrasi", seraya mencibir timbunan dokumentasi tentang aneka kebiadaban sebagai "ocehan ngawur".6 Terorisme internasional AS di El Salvador disanjung sebagai suatu prestasi gemilang di bentangan spektrum politik arus-utama di Amerika, lantaran ia meletakkan landasan bagi apa yang disebut "demokrasi" --menurut langgam Barat: yaitu kekuasaan kelompok-kelompok elite yang melayani kebutuhan-kebutuhan sang Penguasa Dunia, seraya kepentingan publik digerogoti oleh ratifikasi rutin keputusan elite sehingga organisasi-organisasi rakyat yang dapat memberi suatu landasan bagi demokrasi yang sejati-- sekarang "disembelih" dan ditumpas. Pada 1982 dan 1984 Amerika Serikat menyelenggarakan apa yang diaebut oleh Edward Herman dan Frank Brodhead sebagai "eleksi-eleksi demonstrasi" untuk menjinakkan front di dalam negeri. Eleksi ini diselenggarakan dalam suasana "teror dan kekalutan, desas-desus menakutkan, dan kenyataan yang mengerikan", dalam kata-kata para pengamat dari Kelompok Hak Asasi Manusia Parlemen Inggris. Sementara itu, pers AS menyambut hangat demonstrasi dari komitmen-penuh kita terhadap demokrasi ini, sebagaimana mungkin dilakukan juga oleh Pravda dalam keadaan-keadaan serupa.7 Guatemala juga dipandang sebagai sebuah sukses karena alasan-alasan serupa. Ketika separo penduduk benar-benar berbondong ke tempat-tempat pemungutan suara sesudah dibuat trauma oleh kekerasan dukungan AS, para komentator masyhur di Amerika gembira ria menyaksikan demonstrasi kecintaan kita yang diperbarui kepada demokrasi ini; mereka tak risau menyaksikan banyaknya pembunuhan oleh pasukan maut, mendengar pengakuan terbuka sang presiden baru bahwa ia tak akan berbuat apa-apa terhadap akar-akar kekuasaan aktual di tangan militer dan oligarki dan bahwa pemerintah sipil itu cuma "manajer-manajer yang menimbulkan kebangkrutan dan kesengsaraan"8 dan fakta bahwa Amerika Serikat berperan mengubah aksi-aksi tersebut menjadi suatu sarana bagi AS untuk berpartisipasi lebih penuh dalam represi dan teror negara, sebagaimana di El Salvador. Sesungguhnya, eleksi-eleksi di negara-negara teroris asuhan AS acapkali merupakan suatu kebaikan yang bercampur keburukan atau sebuah bahaya maut bagi penduduk domestik, karena alasan yang amat penting ini. Kedua contoh ini, sudah tentu, mewakili hanya sebagian dari peran AS dalam terorisme internasional selama 1980-an, dan catatan menyeramkan sudah tersusun sejak puluhan tahun silam. "Ciri paling menonjol dalam kebiadaban-kebiadaban Libya", tulis dua komentator yang mengulas studi Amnesti Internasional tentang teror negara, "ialah bahwa mereka merupakan (kebiadaban) yang jumlahnya cukup kecil sehingga kasus-kasus individual dapat dihitung satu per satu", sangat berbeda dengan Argentina, Indonesia, atau negara-negara Amerika Latin, tempat sang Kaisar mengacau dunia.9 Pendeknya, Libya memang sebuah negara teroris, tetapi dalam kancah terorisme internasional ia nyaris tak memainkan peran apa-apa. Tetap ada saja jiwa-jiwa polos yang percaya bahwa mungkinlah menemukan suatu tingkat vulgaritas dan pembelaan bagi pembantaian dan teror yang tidak akan diberangus dalam publikasi-publikasi terpandang Barat. Mereka dapat dikelabui oleh ilusi-ilusi semacam ini dengan melihat segudang contoh selama tahun-tahun teror paling buruk di Amerika Tengah,10 atau dengan menoleh ke jurnal "neokonservatif", The National Interest, tempat mereka dapat membaca --dalam sebuah kritik terhadap Washington Post karena bersikap lunak terhadap Libya-- bahwa "Pastilah, misalnya, kalau pemerintahan Jose Napoleon Duarte di El Salvador ataupun setiap pemerintahan baru di Turki melakukan tindakan yang kira-kira mendekati jumlah eksekusi yang telah dilakukan Qaddafi, Post akan menyajikan kepada kita dengan sangat terperinci, dan akan melaporkan munculnya oposisi besar".11 Bukan hanya "terorisme" dirumuskan demi mengabdi ideologi, seperti sudah saya bahas sebelumnya, melainkan standar-standar pembuktian juga dipersiapkan berdasar kesepakatan sedemikian rupa sehingga pas untuk mencapai tujuan-tujuan sang Kaisar. Untuk memperlihatkan peranan Libya sebagai sebuah negara teroris, cukuplah didasarkan atas bukti yang paling samar, atau tidak ada sama sekali. Judul sebuah editorial New York Times yang menjustifikasi serangan teroris AS yang menewaskan sekitar seratus orang di Libya (menurut laporan-laporan pers dari tempat kejadian), berbunyi: "To Save the Next Natasha Simpson" ("Menyelamatkan Natasha Simpson Berikutnya"). Yang dirujuk adalah gadis Amerika berumur sebelas tahun yang menjadi salah seorang korban dari serangan teroris di bandara-bandara Roma dan Wina pada 27 Desember 1985; korban-korban ini memberi kita hak mengebom kota-kota Libya "untuk membikin gentar terorisme dukungan negara", tandas para editor Times dengan serius. pemboman ini hanyalah cacat kecil sehingga tak perlu ada bukti yang ditampilkan untuk menunjukkan bahwa Libya terlibat dalam aksi-aksi itu. Pemerintah Italia dan Austria menyatakan bahwa para teroris tersebut dilatih di daerah-daerah Lebanon yang dikuasai Syria, dan tiba lewat Damaskus --suatu kesimpulan yang ditiupkan oleh Menteri Pertahanan Israel Yitzhak Rabin. Empat bulan kemudian, dalam tanggapan terhadap klaim AS mengenai keterlibatan Libya dalam serangan Wina, Mendagri Austria menandaskan bahwa "tidak ada bukti sedikit pun untuk menuduh Libya", lalu kembali menyebut keterlibatan Syria dan menambahkan bahwa Washington tak pernah menyajikan bukti tentang keterlibatan Libya yang telah ia janjikan untuk disampaikan kepada penguasa Austria. Ia juga menambahkan komentar yang tepat, tapi tak diungkapkan di AS, bahwa masalah terorisme yang berbasis di Lebanon itu sebagian besar adalah akibat kegagalan dalam memecahkan problem Palestina. Kegagalan ini menyebabkan orang-orang yang putus asa tersebut beralih ke cara kekerasan --suatu akibat yang memang diinginkan oleh AS-Israel guna dijadikan alasan bagi penerapan terorisme mereka, sebagaimana dibahas dalam Bab Kedua.12 Beberapa bulan kemudian, Mendagri Italia-seraya menandatangani perjanjian kerja sama dengan AS untuk "memerangi terorisme" --mengulangi posisi yang dinyatakan oleh Italia "sejak Januari" bahwa mereka mencurigai keterlibatan Syria dalam serangan Roma dan Wina itu. Times melaporkan pernyataannya, namun tanpa merasa perlu berkomentar tentang serangan pembalasan yang memang layak terhadap Libya yang telah mereka sambut hangat pada April --yang sesungguhnya merupakan terorisme tak beralasan menurut laporan-laporan berita mereka.13 Kalau seseorang yang terlibat dalam sebuah aksi teroris pernah berkunjung ke Libya, atau diduga pernah mendapat pelatihan atau dana dari Libya di masa lalu, itu sudah cukup untuk mengutuk Qaddafi sebagai "anjing gila" yang harus dilenyapkan. Standar-standar serupa dapat dituduhkan pada CIA dalam berbagai pembunuhan oleh para pelarian Kuba, di samping sejumlah besar cara lain. Ingatlah, apa yang terjadi pada 1985 saja: salah seorang yang dicurigai mengebom jet jumbo Air India di dekat Irlandia yang merupakan aksi teroris paling buruk di tahun itu, menewaskan 329 orang, dilatih di sebuah sekolah anti-Komunis untuk para serdadu bayaran di Alabama; Jaksa Agung AS Edwin Meese, yang mengunjungi India sembilan bulan kemudian, mengemukakan sebuah pernyataan yang nyaris tak dilaporkan bahwa AS sedang mengambil langkah-langkah "untuk mencegah para teroris supaya tak memperoleh pelatihan atau sumber-sumber daya di Amerika Serikat", dengan menunjuk pada kamp-kamp latihan militer swasta yang telah dituduh oleh India sebagai tempat pelatihan bagi ekstremis Sikh; pernyataan Meese ini tidak benar --begitulah ia dianggap-- walaupun pers tak pernah melakukan penyelidikan.14 Aksi teroris yang menelan paling banyak korban di Timur Tengah adalah sebuah pemboman-mobil di Beirut pada Maret, menewaskan 80 dan melukai 200 orang, yang dilakukan oleh sebuah unit intelijen Lebanon yang dilatih dan didukung oleh CIA, dalam suatu upaya untuk membunuh seorang pemimpin Syi'ah yang diyakini terlibat dalam "serangan-serangan teroris terhadap instalasi-instalasi AS" di Beirut;15 istilah "terorisme" lazim digunakan oleh tentara-tentara asing untuk menunjuk pada aksi-aksi melawan mereka oleh penduduk lokal yang memandang mereka sebagai pasukan pendudukan yang sedang berusaha memaksakan suatu pemecahan politik menjijikkan yang ditegakkan oleh invasi asing, dalam hal ini adalah "Orde Baru"-nya Israel. Dengan standar-standar pembuktian seperti digunakan dalam kasus Libya, AS sekali lagi menjadi kekuatan teroris utama di dunia pada 1985, bahkan kalaupun kita tak memasukkan terorisme besar-besaran yang diatur secara serampangan oleh sistem propaganda. Dilanjutkan pada 1986, aksi-aksi teroris paling serius di kawasan Timur Tengah pada saat tulisan ini disusun --terlepas dari terorisme Israel yang terus berlangsung di Lebanon-- adalah pemboman AS atas Libya dan pemboman-pemboman di Syria yang, menurut stasiun radio partai Presiden Lebanon Amin Gemayel, Phalangis, menewaskan lebih dari 150 orang pada April; Syria menuduh agen-agen Israel yang melakukan pemboman-pemboman ini, tanpa mengemukakan bukti, tetapi kredibilitasnya tak kurang dibandingkan dengan tuduhan-tuduhan serupa AS terhadap siapa saja yang menjadi bajingan pada saat itu --dan, kadang-kadang, tak termasuk dalam "momok bengis teroris". 16 AS, sudah tentu, menyangkal bertanggung jawab bagi aksi-aksi para teroris yang telah dilatihnya: orang-orang Kuba, Lebanon, para pembunuh massal, seperti Rios Montt di Guatemala, dan sejumlah besar lainnya di Amerika Latin dan tempat-tempat lain. Dalam kasus pemboman, misalnya, CIA membantah terlibat, walaupun sangkalan ini "diragukan oleh beberapa pejabat pemerintah dan Kongres, yang menyatakan bahwa CIA sedang bekerja sama dengan kelompok tersebut pada saat pemboman itu" --sebuah kesimpulan yang juga ditarik oleh penyelidikan Washington Post, yang menandaskan bahwa Washington menangguhkan operasi rahasia sesudah pemboman itu, yang dilakukan tanpa pengesahan CIA.17 Kalaupun kita menerima pernyataan bahwa CIA tak mengesahkan pemboman tersebut dan tak lagi berurusan dengan kelompok teroris yang telah dilatihnya itu, dalih pemerintah segera dapat dicampakkan oleh standar-standar yang biasa diterapkan bagi musuh-musuh resmi oleh para pembela terorisme AS dan Israel, baik di pemerintahan maupun media. Ingat, bahwa "tanggung jawab moral yang amat besar bagi kekejian-kekejian ... semuanya ada pada Arafat" karena "dia adalah bapak pendiri kekerasan Palestina dewasa ini", dan dengan demikian, AS boleh menangkap Arafat lantaran ia "bertanggung jawab bagi aksi-aksi terorisme internasional" secara sangat luas, entah dia terlibat atau tidak.18 Jadi, "tanggung jawab sangat besar" dalam kasus-kasus yang sudah disebut dan banyak lagi lainnya "semuanya ada pada Washington", apa pun fakta-fakta yang ada mengenai keterlibatan langsungnya. Seperti disebut dalam Bab Pendahuluan, kampanye Reagan terhadap "terorisme internasional" merupakan sebuah pilihan wajar bagi sistem propaganda guna menggencarkan agenda pokoknya: perluasan sektor negara dalam ekonomi, pengalihan sumber-sumber daya dari golongan miskin kepada kaum kaya, dan suatu kebijakan luar negeri yang lebih "aktif" (yaitu agresif dan teroristis). Kebijakan-kebijakan semacam ini mengharuskan supaya rakyat merasakan ketakutan sehingga patuh pada musuh garang yang mengancam mau menghancurkan kita, tetapi perlulah dihindarkan --karena terlalu berbahaya-- untuk berkonfrontasi langsung dengan si Setan Besar sendiri. Terorisme internasional oleh centeng-centeng Imperium Setan merupakan kandidat yang paling andal, dan para ahli PR pemerintah segera menggarap tugas menyusun jaring kebenaran-kebenaran semu dan dusta yang bermanfaat, memperkirakan dengan tepat bahwa permainan informasi (charade) ini bakal dianggap sungguhan oleh para komentator yang berpikiran cetak. Libya benar-benar pas untuk memenuhi kebutuhan ini. Qaddafi merupakan sasaran empuk kebencian, khususnya mengingat merajalelanya rasisme anti-Arab di Amerika Serikat dan komitmen mendalam kelas-kelas terpelajar --dengan amat sedikit perkecualian-- terhadap rejeksionisme dan kekerasan AS-Israel. Qaddafi telah menciptakan sebuah masyarakat yang buruk dan represi, dan betul-betul bersalah melakukan terorisme balasan, terutama terhadap rakyat Libya, seperti sudah disebutkan. Hukuman mati yang dijatuhkan Qaddafi atas pembangkang Libya, serta aksi-aksi terorisnya itu sebenarnya bisa saja dicegah, menurut para analis intelijen AS dan Israel, tapi itu konsekuensinya adalah akan ketahuan bahwa sandi rahasia Libya (yang rupanya mudah ditebak) itu sudah dipecahkan. "Seorang analis Israel menyatakannya secara lebih lugas, 'Buat apa kita membuka rahasia metode dan sumber kita demi sebagian rakyat Libya?"'19 Libya itu lemah dan tak berdaya sehingga perang boleh digencarkan terhadapnya dan, kalau perlu, pembunuhan rakyat Libya dapat dilakukan dengan enteng. Kemenangan militer yang gemilang di Grenada, suatu kulminasi dari keagresifan dan kebencian ekstrem pemerintahan-pemerintahan Carter-Reagan setelah pemerintahan Uskup itu dianggap membahayakan karena menggubris kebutuhan mayoritas miskin, dilakukan untuk mencapai tujuan serupa. Hal ini sangat dirasakan di luar negeri. Wartawan Amerika Donald Neff, yang menulis di sebuah jurnal Inggris tentang insiden Teluk Sidra pada Maret 1986, berkomentar bahwa "ini merupakan sebuah operasi yang kurang bergaya Rambo dibandingkan dengan demonstrasi gertakan yang dimaksud untuk memancing pertempuran. Ini adalah gaya khas Reagan. Selama lima tahun menjabat, ia berkali-kali bertingkah sok kuasa atas nasib orang-orang lemah. Kali ini, ia juga melakukannya". Adalah kenyataan yang menarik tentang kebudayaan Amerika bahwa pameran kepengecutan dan kekejaman ini tampaknya disambut baik oleh masyarakat, sebagaimana ia kadang-kadang terjadi pula di luar negeri. Sebagai contoh, Paul Johnson mengecam "bau busuk kepengecutan murni di udara", dan pemboman AS atas "basis-basis teroris" (yaitu sasaran-sasaran sipil) di Libya membangkitkan keraguan. Johnson memuji "kegagahan sang Koboi", yang memamerkan keberaniannya dengan mengirim bomber-bombernya untuk membunuhi penduduk sipil yang tak berdaya.20 Ahli-ahli PR pemerintahan Reagan memahami manfaat Libya sebagai musuh dan hanya perlu membuang sedikit waktu dengan menghadapi lawan yang berbahaya ini. Libya sekaligus juga dirancang sebagai agen utama dalam "jaringan teroris" yang didukung Soviet, dan pada Juli 1981 rencana CIA untuk menggulingkan dan membunuh Qaddafi dengan suatu kampanye teror paramiliter di Libya bocor kepada pers.21 Kita dapat mencatat sepintas bahwa dengan standar-standar AS, rencana ini mengesahkan Qaddafi untuk melakukan aksi teror terhadap sasaran-sasaran Amerika sebagai "pembelaan diri terhadap serangan di masa depan" --kalimat yang dipakai oleh juru bicara Gedang Putih Larry Speakes ketika mengemukakan justifikasi resmi untuk pemboman atas Tripoli dan Benghazi. Justifikasi serupa diulangi lagi di PBB oleh Vernon Walters dan Herbert Okun. Pemerintah bahkan dengan kurang ajar menegaskan bahwa hak ini --yang bahkan Hitler pun tak mengatakannya dan yang, jika dikemukakan oleh negara-negara keras lainnya, niscaya meluluhlantakkan ketertiban dunia dan hukum internasional yang masih sedikit tersisa-- sejalan dengan Piagam PBB. Tidak ada bentuk kemustahilan legal yang dapat tandas menyatakan bahwa "itu sudah diterima baik di Peoria" --dan di Cambridge, New York, dan Washington. Toh Reagan disanjung oleh Anthony Lewis untuk keyakinannya "pada suatu argumen legal bahwa kekerasan adalah sah sebagai tindakan membela-diri". Alasan mengapa AS menjustifikasi serangan itu "atas dasar perlunya menyerang lebih dulu, yang dapat dipandang sebagai sebuah bentuk pembelaan-diri, bukan atas dasar aksi pembalasan" dijelaskan oleh seorang pejabat Deplu, yang menyebut bahwa Piagam PBB secara tegas melarang penggunaan kekerasan kecuali untuk membela-diri. Sesungguhnya, membela-diri terhadap serangan bersenjata, hanya boleh setelah PBB bertindak sesudah permohonan resmi kepada Dewan Keamanan oleh negara yang merasa dirinya sebagai korban dari serangan bersenjata mendadak dan besar-besaran. Sementara "argumen legal" tersebut diacungi jempol di dalam negeri, umumnya ia dicibir di luar negeri. Di luar negeri hanya sedikit orang yang tidak sepakat dengan mantan dubes Kanada di PBB George Ignatief --anggota delegasi pertama Kanada ke PBB dan kini kanselir Universitas Toronto-- yang menolak permohonan hak membela diri yang ditetapkan dalam Piagam PBB itu sebagai tidak beralasan.22 Pada Agustus 1981, pesan anti-Qaddafi "diterapkan dengan menggelar perangkap untuk Libya di Teluk Sidra", sebuah perangkap "yang direncanakan dengan seksama oleh pihak AS" guna memancing konfrontasi yang di dalamnya jet-jet Libya dapat ditembak jatuh, sebagaimana memang kemudian terjadi, menurut Edward Haley dalam studi anti-Qaddafi-nya yang garang tentang hubungan AS dan Libya. Salah satu tujuan utamanya, tandas Haley dengan logis, adalah untuk "memanfaatkan 'ancaman Libya' guna meraih dukungan bagi langkah-langkah (Pemerintah) yang ingin menggencarkan 'konsensus' Menlu Haig terhadap Uni Soviet, dan sebagai unsur dalam kesepakatan-kesepakatan yang diperlukan untuk menciptakan Pasukan Gerak Cepat" --sebuah pasukan intervensi yang sasaran utamanya adalah Timur Tengah. Pada November, Pemerintah membuat dongeng menggelikan tentang gali-gali Libya yang berkeliaran di jalan-jalan Washington untuk membunuh Pemimpin Kita, menyebabkan media langsung ramai-ramai mengomentari dengan agak skeptis, tapi waktu itu skeptisismenya sangat kecil. Ketika ditanya tentang rencana ini, Reagan menjawab, "Kami punya bukti, dan (Qaddafi) mengetahuinya."23 Ceritanya pelan-pelan menguap ketika tujuannya sudah terpenuhi, dan pers bersikap cukup disiplin sehingga tak melaporkan penyingkapan di pers Inggris bahwa "para pembunuh" yang namanya tercantum dalam daftar resmi AS --yang bocor di Inggris-- adalah anggota-anggota teras Amal Lebanon (yang sangat anti-Libya), termasuk pemimpinnya Nabih Berri dan tokoh tua komunitas Syi'ah.24 Dongeng-dongeng lain mencakup ancaman Libya untuk menyerbu Sudan dengan menyeberangi 600 mil gurun pasir (sementara pasukan-pasukan udara Mesir dan AS tak berdaya menghalangi penyerbuan ini), dan rencana penggulingan pemerintah Sudan pada Februari 1983. Untungnya rencana ini diketahui pada saat kelompok reaksioner dalam pemerintahan sedang menggarapnya dengan militansi yang tak memadai --sebuah rencana yang begitu subtil sehingga intelijen Sudan dan Mesir tak tahu apa-apa, sementara para wartawan AS yang pergi ke Khartoum dapat dengan segera mengetahuinya. AS menanggapi plot isapan jempol ini dengan suatu pameran besar kekuatan, memungkinkan Menlu Shultz, yang sudah dikecam terlalu pengecut, untuk menggebuk tantangan-tantangan herois di layar televisi seraya mengumumkan bahwa Qaddafi "kembali ke dalam kotak yang mengurungnya" karena Reagan bertindak "cepat dan tegas" terhadap ancaman bagi ketertiban dunia ini. Lagi-lagi, peristiwa ini dilupakan segera sesudah tujuan-tujuannya tercapai. Media umumnya memainkan peranan yang sudah digariskan untuk mereka, dengan hanya sekali-sekali menggerutu. 25 Peristiwa-peristiwa Maret-April 1986 membuat pola lazim ini menjadi sempurna. Operasi Teluk Sidra pada Maret merupakan saat yang tepat untuk mengobarkan histeris nasionalisme-ekstrem (jingoist), beberapa saat sebelum pemungutan suara penting di Senat guna menentukan bantuan buat Contra bertepatan pula dengan "invasi" palsu Nikaragua atas Honduras --suatu operasi PR yang berhasil gemilang sebagaimana terlihat dari reaksi garang para anggota lunak Kongres dan semua media, juga hasil pemungutan suara di Senat (lihat Bab Kedua). Permainan informasi ini juga mengizinkan Pemerintah untuk memberikan bantuan militer senilai dua puluh juta-dolar kepada Honduras, yang menurut pernyataan resmi Honduras bantuan ini tak diminta --dan yang sudah pasti "hilang" di kamp-kamp Contra-- namun tetap dipakai cara lain yang memungkinkan gerombolan ilegal di Washington itu mengelakkan pembatasan-pembatasan kongresional yang lunak atas kekejaman mereka.26 Provokasi Teluk Sidra juga merupakan sebuah sukses, memungkinkan pasukan AS menenggelamkan sejumlah kapal Libya, membunuh lebih dari 50 orang Libya dan, seperti diharapkan, mendorong Qaddafi untuk melakukan aksi-aksi teror terhadap warga Amerika, sebagaimana kemudian dinyatakan. Sementara pasukan AS berhasil membunuh sejumlah besar orang Libya, mereka ajaibnya tak mampu menyelamatkan orang-orang yang lolos. Tugas ini rupanya bukanlah mustahil sebab enam belas orang yang lolos dari serangan AS itu kenyataannya diselamatkan dari sekoci oleh sebuah kapal minyak Spanyol.27 Tujuan resmi dari operasi militer AS adalah memantapkan hak untuk menempati Teluk Sidra, yang sepenuhnya omong-kosong, sebab pengiriman sebuah armada laut hampir tak diperlukan atau merupakan cara yang kurang kena guna mencapai tujuan ini: sebuah deklarasi pun sudah cukup. Jika langkah-langkah lebih lanjut dianggap perlu karena alasan tertentu, selalu tersedia cara-cara yang sesuai dengan hukum. Kalau seseorang berselisih dengan tetangganya mengenai suatu hak, ada dua cara untuk menyelesaikannya: yang pertama adalah membawa persoalannya ke pengadilan, kedua adalah menarik picu senjata dan membunuh si jiran. Pilihan pertama jelas tersedia dalam kasus Teluk Sidra ini. Oleh karena terang tak ada urgensinya, dimungkinkanlah untuk menerapkan cara-cara legal guna menetapkan hak untuk menempati secara wajar. Tetapi, sebuah negara teroris dan tak menggubris hukum tentulah akan memilih prioritas-prioritas yang berbeda. Ditanya kenapa AS tak membawa persoalannya ke Mahkamah Intemasional, Brian Hoyle, direktur Dinas Kebijakan dan Hukum Laut di Departemen Luar Negeri, mengatakan bahwa urusannya "akan memakan waktu bertahun-tahun. Saya kira dengan begitu, kita tak dapat hidup"28 --memberi pembenaran tegas bagi armada-armada laut AS untuk beroperasi di Teluk Sidra jika Amerika Serikat ingin tetap hidup sebagai sebuah bangsa. Tentang alasan-alasan yang lebih sempit, posisi AS plinplan. Pers terus-menerus bicara tentang "hukum laut", tapi Amerika Serikat nyaris tak punya dasar yang jelas untuk menanggapi doktrin ini hanya lantaran Pemerintahan Reagan menolak Undang-Undang Perjanjian Laut. Tambahan pula, Libya menembak pesawat-pesawat AS, bukan kapal-kapal, dan "hukum udara" sama sekali belum tersusun rapi. Negara-negara melontarkan macam-macam klaim mengenai masalah ini. Amerika, misalnya, mengklaim Zona Identifikasi Pertahanan Udara sejauh 200 mil, yang di dalamnya ia berhak menerapkan "pembelaan-diri" terhadap pesawat penerobos yang dianggap bermusuhan. Tidak ada keraguan bahwa armada udara AS masuk ke dalam rentang 200 mil wilayah Libya menurut Pentagon malah 40 mil --dan bahwa mereka bersikap bermusuhan sehingga berdasarkan standar-standar AS, Libya berhak untuk menangkap mereka. Ihwal ini disebut oleh ahli hukum konservatif Alfred Rubin dari Sekolah Fletcher Universitas Tufts, yang berkomentar bahwa "dengan mengirim armada udara, kita sudah bertindak melampaui apa yang telah jelas dilarang menurut Hukum Laut" guna melakukan "provokasi yang tak perlu".29 Tapi, buat sebuah negara bandit, hal-hal semacam itu tak relevan, dan tindakan tersebut merupakan sebuah sukses setidaknya di dalam negeri. ||_______ Libya dalam Demonologi Amerika Serikat (2/2) Tingkat provokasi di Teluk Sidra dibikin terang oleh jubir Pentagon Robert Sims, yang "mengatakan bahwa AS sudah menggariskan kebijakan untuk menembak setiap kapal Libya yang memasuki perairan internasional di Teluk Sidra, selama masa armada AS masih beroperasi di kawasan itu --tak peduli seberapa jauh pun jarak kapal tersebut dari kapal-kapal AS". "Mengingat 'niat bermusuhan' yang diperlihatkan oleh Libya ketika ia mencoba menembak jatuh pesawat-pesawat AS", tandas Sims, maka setiap kapal militer Libya merupakan "ancaman terhadap pasukan kita."30 Pendeknya, AS tetap berhak untuk menembak setiap kapal Libya yang mendekati armada lautnya di lepas pantai Libya, untuk "membela-diri", sementara Libya tak punya hak untuk membela-diri di wilayah udara yang rentangnya sebanding dengan yang diklaim oleh AS itu. Masih ada lanjutan ceritanya. Wartawan Inggris David Blundy mewawancarai para insinyur Inggris di Tripoli yang sedang memperbaiki sistem radar buatan Rusia di sana: Salah seorang, yang mengaku sedang memantau keseluruhan insiden itu melalui layar-layar radar (yang, berlawanan dengan klaim Pentagon, tetap dapat berfungsi), melaporkan bahwa "ia melihat pesawat-pesawat tempur Amerika bukan hanya masuk dua belas mil ke dalam wilayah perairan Libya, melainkan juga terbang di atas daratan Libya". "'Saya melihat pesawat-pesawat itu terbang hampir delapan mil ke dalam wilayah udara Libya,' ungkapnya. 'Saya kira Libya tak punya pilihan lain kecuali menghajarnya. Menurut pendapat saya, mereka enggan untuk melakukan hal itu'." Insinyur tersebut menambahkan bahwa "pesawat-pesawat tempur Amerika mendekat dengan menggunakan rute lalu-lintas pesawat sipil biasa, sehingga sinyal radarnya tak tampak di layar radar Libya".31 Setahu saya, tak secuil pun informasi ini muncul di media AS, terlepas dari sebuah laporan unggul khas Alexander Cockburn, yang memainkan peranan personal lazimnya sebagai pengimbang dari ketundukan dan distorsi media. Artikel Blundy tidaklah dilenyapkan secara misterius oleh pers AS. Ia dikutip oleh Joseph Lelyveld dari Times, tapi dengan penghilangan bagian-bagian pentingnya.32 Sebuah kemungkinan besar --dan jelas memang ditunggu-- dari akibat operasi Teluk Sidra itu adalah munculnya aksi-aksi terorisme Libya sebagai pembalasan. Aksi-aksi ini lalu akan menciptakan suatu keadaan teror di Amerika Serikat dan, kalau mujur, juga di Eropa sehingga menyiapkan pentas bagi ledakan berikutnya. Pemboman diskotek La Belle di Berlin Barat pada 5 April, yang menewaskan seorang-serdadu kulit-hitam Amerika dan seorang Turki, 33 langsung saja dituduhkan kepada Libya, dan kemudian digunakan sebagai dalih untuk pemboman 14 April atas Tripoli dan. Benghazi, menewaskan banyak warga Libya, tampaknya sebagian terbesar penduduk sipil (sekitar seratus orang, menurut pers Barat; enam puluh orang menurut laporan resmi Libya). Pemboman ini terjadi persis sehari sebelum DPR melakukan pemungutan suara tentang bantuan kepada Contra. Dalam hal khalayak lupa akan ihwalnya, para penulis pidato Reagan menandaskannya. Berpidato di Konferensi Bisnis Amerika pada 15 April, ia berkata, "Saya ingin mengingatkan DPR yang melakukan voting pekan ini bahwa gembong teroris ini sudah mengirim 400 juta dolar dan segudang senjata serta penasihat militer ke Nikaragua, untuk membawakan perang internalnya ke Amerika Serikat. Dia membual bahwa dia membantu orang-orang Nikaragua karena mereka memerangi Amerika dengan alasannya sendiri.34 Gagasan bahwa si "anjing gila" sedang membawakan perang internalnya ke AS dengan memberi persenjataan kepada orang-orang yang sedang diperangi AS dengan pasukan centeng terorisnya itu bagus betul, yang berlalu tanpa komentar berarti, tapi operasi PR tak berhasil --untuk pertama kalinya-- menggiring Kongres, walaupun pemboman atas Libya itu mengobarkan semangat chauvinis. Agaknya, untuk sebagian terbesar konsekuensi ini dapat dilekatkan pada rasisme anti-Arab yang berlaku dan pada langkanya reaksi yang waras terhadap episode-episode histeris buatan terdahulu atas kejahatan-kejahatan Qaddafi, yang sungguhan maupun yang tuduhan. Serangan 14 April ini merupakan pemboman pertama dalam sejarah yang digelar di televisi pada waktu-utama (prime time). Sebagai lanjutan dari pertunjukan-pertunjukan yang direkam di media-cetak, hujan bom ini dirancang cermat agar tepat-waktu, sehingga akan dimulai persis pada pukul 7 malam Waktu Standar Timur (EST) --dan begitulah yang kemudian terjadi,35 yaitu tepat pada saat ketiga saluran televisi nasional menyiarkan program-program berita utama, yang tentu saja sudah ditongkrongi oleh para penjaga gawang yang telah teragitasi (para petugas televisi), yang langsung mengalihkan siaran ke Tripoli untuk menyalurkan pandangan-mata tentang peristiwa, yang merangsang ini. Segera sesudah hujan bom berakhir, Gedang Putih mengutus Larry Speakes untuk berpidato dalam sebuah konferensi pers, yang diikuti oleh pentolan-pentolan lain, dengan demikian menjamin dominasi total atas sistem propaganda selama saat-saat awal yang sangat penting. Orang mungkin menganggap bahwa pemerintah telah berjudi dengan melancarkan operasi PR yang agak mencolok ini, karena para wartawan bakal mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, tapi Gedung Putih rupanya cukup yakin bahwa tidak akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan, dan keyakinannya pada ketaatan media terbukti sepenuhnya benar. Jelas, pertanyaan-pertanyaan dapat dilontarkan. Untuk menyebut hanya yang paling mencolok, Speakes menyatakan AS mengetahui pada 4 April bahwa "Biro Rakyat" Libya di Berlin Timur memberi tahu Tripoli sebuah serangan akan terjadi di Berlin pada esok harinya, dan ia kemudian mengabarkan Tripoli bahwa pemboman diskotek La Belle sudah terjadi, seperti direncanakan. Jadi, AS sudah tahu pada 4-5 April --dengan pasti, kata Gedung Putih-- bahwa Libya bertanggung jawab langsung atas pemboman disko itu. Kalau begitu, orang dapat bertanya kenapa laporan dari investigasi-investigasi AS dan Jerman Barat dari 5 April sampai saat terjadinya serangan terus saja menyatakan bahwa yang terlihat paling jauh cuma kecurigaan-kecurigaan tentang keterlibatan Libya. Sesungguhnya, semua wartawan yang mendengarkan keterangan Pemerintah mengantongi --kecuali kalau kita mengandaikan inkompetensi yang amat mengherankan dari orang-orang di ruang berita-- sebuah laporan AP dari Berlin yang masuk ke pesawat teleks pada pukul 18:28 EST, satu jam sebelum pemboman atas Tripoli. Laporan ini menyatakan bahwa "komando militer Sekutu (di Berlin Barat) tidak melaporkan perkembangan-perkembangan dalam investigasi atas pemboman disko itu" dan bahwa "para pejabat AS dan Jerman Barat telah mengatakan bahwa Libya mungkin melalui kedutaannya di Berlin Timur yang dikuasai Komunis --dicurigai terlibat dalam pemboman diakotek La Belle" (penekanan --huruf miring-- dari saya).36 Wartawan sebetulnya dapat bertanya, bagaimana mungkin hanya beberapa menit sebelum serangan itu AS dan Jerman Barat paling jauh hanya mempunyai kecurigaan-kecurigaan tentang keterlibatan Libya --sebagaimana pada seluruh periode berikutnya-- sementara pada 4-5 April, atau sepuluh hari sebelumnya, mereka mengetahui pasti mengenai hal ini. Tapi, waktu itu tak ada pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan, tak pula pernah dilontarkan sejak itu, dan fakta-fakta yang relevan pun umumnya dibenamkan. Reagan menyatakan pada malam 14 April bahwa "kami punya bukti kuat, akurat, tak terbantah". Ini mirip dengan "Kami punya buktinya, dan (Qaddafi) mengetahuinya" dalam kasus para gali Libya. Mereka merasa tidak perlu menyebut tentang keterlibatan Sandinista dalam perdagangan obat bius, pengumuman mereka mengenai "revolusi tanpa perbatasan", tentang dukungan Helmut Kohl dan Bettino Craxi untuk serangan atas Libya (yang dibantah dengan geram oleh para pejabat yang "sangat kaget" di Jerman dan Italia),37 dan sejumlah besar kebohongan lain yang dilakukan oleh sebuah pemerintahan yang sudah sangat jauh melampaui standar-standar dusta yang lazim. Namun, mereka terus saja "melakukan macam-macam kejahatan, kebohongan, pengelabuan" --dalam kata-kata sang pemimpin tituler itu, mengacu pada model-model Stalinisnya-- untuk meraih tujuan-tujuannya. Mereka yakin bahwa penyingkapan sekali-sekali dalam berita-berita kecil, yang dimuat jauh sesudah peristiwa terjadi, tak akan merintangi arus konstan kebohongan dalam mengarahkan perdebatan dan meninggalkan kesan-kesan positif yang sudah tertanam dengan kukuh, persis sebagaimana terjadi. Namun demikian, di luar batas negara AS ketaatan tak bercokol. Di Jerman, sepekan setelah Washington menyatakan pengetahuan pastinya tentang keterlibatan Libya atas pemboman disko itu sepuluh hari sebelumnya (4-5 April), Der Spiegel (21 April) melaporkan bahwa penyadapan-penyadapan telepon yang terkenal ampuh itu tampaknya tak ada, dan bahwa intelijen Berlin Barat hanya mempunyai kecurigaan-kecurigaan tentang keterlibatan Libya, juga mencurigai "kelompok-kelompok pedagang obat bius yang saling bersaing" di antara kemungkinan-kemungkinan lain (termasuk klan atau kelompok-kelompok neo-Nazi, menurut dugaan sebagian orang; disko itu sendiri sering dikunjungi oleh GI berkulit hitam dan para imigran Dunia Ketiga). Perang Washington adalah "alat politik", Der Spiegel melanjutkan, "sepanjang lawannya sekecil Grenada dan Libya --dan musuhnya se-ideal si bangsat Qaddafi", dan tidak ada pemimpin Eropa yang perlu berilusi bahwa keprihatinan atau kepentingan Eropa akan dipertimbangkan jika AS sudah memutuskan untuk menaikkan suhu kekerasan internasional, bahkan sampai ke tingkat Perang Dunia final, tambah editor Rudolf Augstein. 38 Dalam sebuah wawancara pada 28 April dengan wartawan jurnal Angkatan Darat AS, Stars and Stripes, Manfred Ganschow, kepala Staatschutz Berlin dan ketua tim seratus orang yang menyelidiki pemboman disko itu, mengatakan, "Saya tak punya bukti yang lebih kuat bahwa Libya terlibat dalam pemboman ini daripada yang saya punyai ketika Anda pertama kali menghubungi saya dua hari setelah aksi ini. Tak ada sedikitpun bukti." Ia sepakat bahwa ini merupakan "sebuah kasus yang sangat politis" dan menyiratkan keraguan besar tentang apa yang dikatakan dan akan diungkapkan oleh "para politikus" mengenai hal ini.39 Pers AS menyembunyikan keraguan-keraguan yang diungkapkan oleh media dan tim penyelidik di Jerman. Tetapi, pembaca yang cermat akan mampu mengendusnya dalam laporan-laporan tentang penyelidikan yang terus berlangsung, ketika orang-orang yang dicurigai punya hubungan dengan Syria dan pihak-pihak lain diperiksa. Pernyataan-pernyataan pemerintah AS bahwa ia punya "pengetahuan pasti" pada 4-5 April telah merosot menjadi kualifikasi-kualifikasi seperti "dilaporkan" dan "diduga". Inilah indikasi bahwa media tahu betul bahwa pernyataan-pernyataan itu meragukan atau bohong, tapi terlalu loyal, atau kelewat takut, untuk berkata begitu --maka, kadang-kadang, mereka mengungkapkan keterlibatan mereka sendiri dalam pemboman teroris itu.40" Keraguan ini, kualifikasi-kualifikasi ini, penyurutan dari penegasan yakin sebelumnya, dan pengutipan tak langsung atas bukti yang menggugurkan klaim-klaim pemerintah --semuanya merupakan muslihat yang digunakan oleh media untuk mengisyaratkan bahwa mereka sangat sadar bahwa mereka sama sekali tak mampu kalau diminta memaparkan bukti yang jelas bagi kasus yang mereka sokong dengan penuh semangat. Dalam New York Review of Books,41 Shaul Bakhash menandaskan bahwa Hindawi bersaudara asal Yordania "tidak bertanggung jawab atas pemboman diskotek di Berlin Barat" dan "sampai sekarang tidak ada bukti meyakinkan" bahwa mereka "direkrut oleh Syria (bukan oleh Libya sebagaimana mungkin dianggap orang berdasarkan beberapa pernyataan resmi pada waktu itu)". Terlepas dari fakta bahwa dia melaju melampaui bukti yang ada, rumusan Bakhash ini memancing minat. Bukan karena "beberapa pernyataan resmi" sehingga "orang mungkin menganggap" bahwa Libya terlibat. Semua pernyataan resmi --yang disajikan dengan yakin dan tanpa kualifikasi serta diulang dengan cara ini oleh media sampai kasusnya mulai tersingkap berminggu-minggu kemudian-- yang secara tegas menandaskan keterlibatan Libya dan menjustifikasi pemboman dan pembunuhan warga sipil Libya atas dasar ini. Lebih jauh, bukanlah dukungan media, bukan pula pernyataan ini yang mengantarkan kita kepada kesimpulan yang jelas: jika pemerintahan Reagan berdusta tentang buktinya yang "kuat", "akurat" dan "tak terbantah", pemboman itu dapat ditandaskan sebagai terorisme negara --dan ditutupi oleh media yang loyal, yang menghindari pertanyaan-pertanyaan yang jelas pada saat ketika mereka mengungkapkan dukungan bergelora atas serangan tersebut seraya mengajukan dalih-dalih yang ganjil guna menjustifikasi keterlibatan mereka dalam terorisme (misalnya, dongeng para redaktur Times tentang "Natasha Simpson berikutnya"). Operasi PR ini jelas merupakan sebuah sukses di dalam negeri, setidaknya untuk jangka-pendek. Ia "sudah diterima baik di Peoria", seperti dilaporkan pers, sebuah contoh sukses mengenai "rekayasa persetujuan demokratis" yang tentu, sebagaimana dimaksudkan, "memperkuat tangan Presiden Reagan dalam berhadapan dengan Kongres tentang isu-isu seperti anggaran militer dan bantuan buat kaum 'Contra' Nikaragua"42. Bagi banyak negara, AS menjadi negara yang amat ditakuti, lantaran "pemimpin koboi garang"-nya gemar melakukan tindakan-tindakan "sinting" dengan mengorganisasikan "gerombolan pembunuh" untuk menyerang Nikaragua dan main bom secara gila-gilaan di tempat-tempat lain, dalam kata-kata sebuah jurnal ternama Kanada, yang secara umum berkecenderungan lunak dan sangat pro-Amerika.43 Pemerintahan Reagan memainkan ketakutan-ketakutan ini dengan berhasil, memanfaatkan strategi "orang gila"-nya Nixon. Pada pertemuan puncak negara-negara maju di Tokyo pada Mei, Pemerintahan Reagan mengedarkan sebuah tulisan tentang posisinya. Didalamnya dinyatakan bahwa salah satu alasan mengapa Eropa sebaiknya bertindak bijaksana dan berdiri sejalur dengan perjuangan AS adalah "keperluan untuk melakukan sesuatu agar orang-orang gila Amerika tidak akan lagi main hakim sendiri". Ancaman ini berhasil mendorong lahirnya sebuah pernyataan menentang terorisme, yang hanya menyebut nama Libya.44 Ancaman eksplisit ini selalu tak digubris oleh media yang asyik menyoraki "sukses" pemboman atas Libya, yang akhirnya membuat orang-orang Eropa yang "lembek" mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menangkis ancaman. Libya terhadap peradaban Barat. Reaksi atas pemboman Libya di dalam dan luar negeri sangat berbeda. Kedua belas anggota Masyarakat Ekonomi Eropa mengimbau AS supaya menghindari "eskalasi ketegangan militer lebih jauh di kawasan yang mengidap segenap bahaya inheren itu". Beberapa jam kemudian, pesawat-pesawat tempur AS beraksi, saat Menlu Jerman Barat Hans-Dietrich Genscher sedang dalam perjalanan ke Washington untuk menjelaskan posisi MEE. Juru bicaranya mengatakan bahwa "Kami ingin melakukan segala yang kami mampu untuk menghindari eskalasi militer". Pemboman ini mengobarkan protes luas di hampir seluruh Eropa, termasuk demonstrasi-demonstrasi besar, dan menyulut kutukan editorial di bagian terbesar dunia. Koran besar Spanyol yang independen, El Pais, mengecam pemboman ini, menulis bahwa "Aksi militer Amerika Serikat itu bukan hanya pelanggaran hukum internasional dan ancaman maut terhadap perdamaian di Mediterania, melainkan juga suatu penghinaan atas sekutu-sekutu Eropanya, yang tak menemukan alasan untuk menerapkan sanksi-sanksi ekonomi terhadap Libya dalam sebuah pertemuan hari Senin, meskipun sebelumnya terdapat tekanan untuk menerapkan sanksi". Koran konservatif, South China Morning Post, di Hong Kong menulis bahwa "Tindakan Presiden Reagan untuk mengatasi si 'anjing gila Timur Tengah' mungkin terbukti lebih berbahaya dibandingkan dengan penyakitnya", dan tindakannya "mungkin pula mendorong kekompakan untuk mengobarkan kebakaran yang lebih luas" di Timur Tengah. Di Mexico City, El Universal menulis bahwa AS "tak punya hak untuk menobatkan diri sebagai pembela kebebasan dunia", menyarankan penyelesaian dengan cara-cara legal melalui PBB. Masih banyak lagi reaksi-reaksi serupa. Pers AS, sebaliknya, amat sangat gembira. New York Times menulis bahwa "warga yang paling 'dingin' pun dapat menyetujui dan menyambut gembira serangan-serangan Amerika atas Libya", melukiskan serangan ini sebagai hukuman yang adil: "Amerika Serikat telah menghukum (Qaddafi) secara hati-hati, proporsional --dan adil." Bukti mengenai keterlibatan Libya atas pemboman disko itu "sekarang sudah terungkap secara jelas kepada publik"; "Lalu datanglah juri, yaitu pemerintahan-pemerintahan Eropa yang dikirimi utusan oleh Amerika Serikat untuk menyampaikan bukti itu dan sama-sama melancarkan aksi terhadap pemimpin Libya." Rupanya, tidaklah relevan bahwa sang juri tidak yakin akan bukti tersebut, dan mengeluarkan suatu "penilaian" yang meminta supaya sang eksekutor menahan diri dari segala tindakan. Sama seperti pers AS yang tidak merasa perlu untuk mengemukakan komentar editorial tentang fakta (yang kini diam-diam diakui) bahwa bukti itu sangat kurang, kalau bukan tak ada sama sekali. Pemerintah-pemerintah umumnya mengecam aksi ini, walaupun tak semua. Inggris dan Kanada tampil mendukung, kendatipun respons masyarakat sangat berbeda, dan ada pula dukungan dari Perancis yang cuaca mutakhirnya dilanda kefanatikan Reaganisme. Radio pemerintah Afrika Selatan menyebut serangan ini "menandaskan komitmen sang pemimpin dunia Barat yang telah dipancang untuk mengambil tindakan tegas terhadap terorisme"; AS dibenarkan dalam menyerang Qaddafi, "yang namanya betul-betul sinonim dengan terorisme internasional". Di Israel, PM Shimon Peres menyatakan bahwa aksi AS jelas sah "karena membela-diri": "Kalau pemerintah Libya mengeluarkan perintah untuk membunuh serdadu-serdadu AS di Beirut dengan darah-dingin, di tengah malam, Anda pikir Amerika Serikat harus bagaimana? Menyanyi haleluya. Atau mengambil tindakan untuk membela-diri?" Gagasan bahwa AS bertindak untuk "membela-diri" terhadap sebuah serangan atas pasukan di Beirut dua setengah tahun sebelumnya merupakan inovasi yang amat menarik, bahkan kalaupun kita mengesampingkan situasi-situasi yang menyulut aksi "terorisme" dulu itu.45 Di AS, Senator Mark Hatfield, salah seorang dari segelintir tokoh politik di negeri ini yang patut menyandang gelar terhormat "konservatif", mengutuk gempuran bom AS ini "pada sebuah sidang Senat yang nyaris senyap", dan dalam secarik surat kepada Times. Para pemimpin sejumlah denominasi besar Kristen mengecam pemboman, tapi pentolan-pentolan Yahudi umumnya memujinya --antara lain Rabbi Alexander Schindler, presiden Serikat Kongregasi-Kongregasi Yahudi Amerika, yang "menyatakan bahwa pemerintah AS 'telah menanggapi dengan setimpal dan dahsyat terorisme sinting"' Qaddafi. Profesor Hubungan Internasional Harvard, Joseph Nye, mengatakan, Reagan harus merespons "senapan-berasap dalam peristiwa Berlin itu. Kecuali itu, apa lagi yang mau Anda lakukan terhadap terorisme dukungan-negara?" --seperti terorisme dukungan-negara di Amerika Tengah dan Lebanon Selatan, misalnya, tempat,"senapan-berasap" melimpah-ruah sebagai bukti. Eugene Rostow mendukung pemboman ini sebagai "memang seharusnya dan sudah agak terlambat", sebagai bagian dari "pertahanan yang lebih aktif terhadap proses ekspansi Soviet" --suatu campuran aneh dari jingoisme dungu dan fantasi Maois yang toh memperoleh penghormatan dalam komentar tentang masalah internasional dewasa ini. "Penggulingan rezim Qaddafi," katanya menjelaskan, "sepenuhnya dapat dibenarkan menurut hukum internasional yang berlaku," sebab Qaddafi "telah terang-terangan dan terus-menerus melanggar aturan-aturan ini." "Maka, wajarlah kalau setiap negara yang pernah diganggu oleh aksi-aksi Libya memiliki hak, baik secara sendirian maupun bersama negara-negara lain, untuk menggunakan kekuatan apa saja yang dirasa perlu guna mengakhiri perilaku ilegal Libya. Libya itu pembajak barbar jika dilihat dari sisi legal"46 ia mendesak NATO untuk "mengeluarkan deklarasi tentang tanggung jawab negara-negara bagi aksi-aksi ilegal yang dilakukan dari wilayah mereka."47 Maka, secara a fortiori NATO harus mengutuk sang Kaisar, bukan hanya si pembajak, dan negara-negara dari Indocina sampai Amerika Tengah serta Timur Tengah --antara lain-- harus berhimpun untuk menggunakan kekuatan apa saja yang perlu untuk menyerang Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara teroris lainnya. Bagi koresponden ABC, Charles Glass, yang melaporkan pemboman beserta akibatnya dari kancah, peristiwa ini dilambangkan oleh secarik surat tulisan-tangan seorang gadis berusia tujuh tahun, yang ditemukan di reruntuhan rumah keluarganya, sebuah keluarga berpendidikan Amerika yang ia kunjungi. Surat itu berbunyi: Pak Reagan yang Terhormat, Mengapa Anda membunuh satu-satunya saudara perempuan saya, Rafa, dan kawan saya, Racha, yang umurnya baru sembilan tahun, dan boneka bayi saya, Strawberry. Benarkah Anda mau membunuh kami semua karena ayah saya orang Palestina, dan Anda ingin membunuh Qaddafi karena ia mau membantu kami untuk kembali ke rumah dan negeri ayah saya. Nama saya Kinda 48 Orang lain melihat persoalan ini secara berbeda. Michael Walzer tak sependapat dengan orang-orang Eropa yang mengkritik pemboman atas Libya sebagai kasus "terorisme negara". "Itu bukan ('terorisme negara')," katanya, "sebab sasarannya adalah target-target militer yang tertentu, dan para pilot menempuh sejumlah risiko dalam usaha mereka untuk memukul target-target tersebut sambil menghindari sasaran lain." Kalaupun pemboman malam hari atas sebuah kota terjadi dengan menghajar daerah-daerah permukiman berpenduduk padat di Tripoli, yang menewaskan banyak warga sipil, itu cuma ekses tak sengaja.49 Rupanya inilah yang harus kita harapkan dari seorang moralis yang sangat terpandang dan pencetus teori tentang perang yang adil, yang mencoba meyakinkan kita bahwa.invasi Israel atas Lebanon dapat dibenarkan berdasarkan konsep ini; bahwa operasi-operasi militer Israel di Lebanon Selatan merupakan "sebuah contoh yang baik mengenai perang yang seimbang", dan bahwa sekiranya warga sipil "terkena risiko" selama pemboman Israel atas Beirut, "tanggung jawab bagi risiko itu terletak pada PLO".50 Keterlibatan media dalam aksi terorisme-negara ini tak berakhir dengan perilaku patriotis pada saat pemboman, sebagaimana baru saja diulas --suatu akibat logis dari dukungan sebelumnya atas dongeng ngawur apa saja yang dibikin pemerintah. Perlu juga diperlihatkan bahwa pemboman ini merupakan sebuah sukses dalam mengenyahkan terorisme Libya, seperti terbukti dari langkanya aksi-aksi teroris yang dikaitkan dengan Qaddafi setelah pemboman. Sudah tentu, untuk memantapkan tesis ini, dirasa perlu untuk menyembunyikan fakta bahwa tidak pula ada kaitan-kaitan yang masuk akal sebelum pemboman selain dari hal-hal yang sudah disebut terdahulu, yang jelas tak relevan. Lagi-lagi, media membuktikan diri sangat andal menjalankan tugas yang diembannya. Para redaktur Washington Post memuji pemboman atas Libya dengan alasan bahwa "tidak ada lagi aksi-aksi teroris yang punya hubungan dengan" Kolonel Qaddafi, yang kini menggariskan suatu "kebijakan yang melunak". Yang lebih penting adalah dampaknya terhadap sekutu-sekutu Barat, yang kebanyakan "membutuhkan sebuah shock" yang diberikan oleh "contoh tentang ketegasan, ketepatan intelijen yang tak terbantah, akibatnya berupa keterkucilan Libya yang mencolok dan, tak kurang pentingnya, kemerosotan dalam pariwisata" --dan, tak kurang pentingnya, adalah bahaya berupa "orang-orang sinting Amerika" yang cenderung main hajar secara serampangan (lihat bahasan di atas), bahaya yang ditekankan oleh kabar yang disampaikan oleh kapal-kapal AL AS dalam jarak hanya beberapa mil dari garis-pantai Soviet di Laut Hitam pada saat yang sama.51 Lihat betapa pada saat belakangan ini, redaksi Post masih merasa mungkin untuk menunjuk pada "ketepatan intelijen yang tak terbantah". David Ignatius menulis bahwa pemboman ini "berlangsung dengan sangat baiknya terhadap Muammar Qaddafi Libya", menuntaskan "perubahan-perubahan yang agak menakjubkan --dan amat menguntungkan-- di Libya, Timur Tengah, dan Eropa". Pemboman ini membuktikan bahwa Qaddafi itu "lemah, terkucil, dan rapuh", "sedemikian rapuhnya sehingga pesawat-pesawat tempur Amerika mampu beroperasi dengan bebas di dalam wilayah udaranya yang dijaga ketat" --sebuah kemenangan yang betul-betul gemilang, dan sebuah penemuan yang paling mencengangkan tentang adidaya ini. Untuk memperlihatkan "psikologi yang telah memungkinkan Qaddafi untuk mengintimidasi banyak bagian dunia", Ignatius tak mengutip aksi-aksi-sebab dia tahu bahwa tidak ada contoh yang layak tetapi cuma menyatakan, dengan agak bimbang, bahwa kalaupun "Orang-orang Libya dapat kembali melancarkan terorisme, skalanya tidak akan sebesar seperti yang mereka lakukan pada awal tahun ini", ketika "Intelijen AS mengetahui bahwa Libya sudah memerintahkan 'Biro-Biro Rakyat'-nya untuk menggencarkan serangan teroris di sekitar selusin kota". Sebagai wartawan yang sangat andal, Ignatius paham bahwa pernyataan-pernyataan pemerintah AS tentang apa yang telah "diketahui" oleh intelijen itu kosong belaka; pemaparannya tentang "sukses" dari operasi tersebut, sehubungan dengan buyarnya rencana-rencana yang dikatakan sudah disusun itu, merupakan caranya untuk mengatakan dengan hati-hati bahwa akibat-akibat dari "tindakan bejat" itu sama sekali tidak ada.52 Demikian pula, George Moffett mencatat bahwa serangan teroris Libya "sudah berhenti" --yakni, mereka telah mengurangi aksinya dari hampir-nol menjadi hampir-nol; ini merupakan salah satu "perkembangan positif" yang "tampil untuk mempertahankan kebijakan pemerintah Reagan mengenai pembalasan militer"; dan rekannya, John Hughes, mencatat dengan penuh gelora bahwa "sejak hukuman gempuran udara terhadap Libya ... tak ada lagi serangan-serangan besar teroris atas warga Amerika yang didalangi oleh Kolonel Muammar Qaddafi" sebagaimana memang tidak pernah ada satu pun sebelumnya, sepanjang yang diketahui.53 Pesan kepada para teroris negara ini gamblang saja: Kami pihak pers, akan mengikuti perintah-perintah Anda (Pemerintah AS) bila Anda melakukan serangan terorisme yang menekan dunia, kalau Anda menyelenggarakan aksi teroris besar untuk menghukum kebiadaban ini, dan jika Anda mengumumkan bahwa sebagai hasil dari heroisme Anda, sang penjahat jadi bertekuk lutut. Fakta-fakta ala kadarnya tak akan pernah membuat kami enggan untuk patuh.54 Tercatat, "telah terjadi kira-kira delapan belas insiden teroris anti-Amerika di Eropa Barat dan Timur Tengah dalam waktu tiga bulan sejak pemboman atas Libya, sedangkan selama tiga setengah bulan sebelumnya hanya terjadi kira-kira lima belas kali," sementara ."Di seluruh dunia, tingkat terorisme anti-Amerika tampak hanya berbeda sedikit dibandingkan dengan tahun lalu," ulas Economist (seraya menyanjung aksi gagah Reagan); dan ahli terkemuka tentang terorisme dari Rand Corporation mencatat bahwa serangan-serangan teroris setelah pemboman itu berjumlah kira-kira sama dengan sebelumnya " Melengkapi rekaman ini, pada 3 Juli FBI mengeluarkan laporan 41 halaman, yang mengulas insiden-insiden teroris di Amerika Serikat pada 1985. Jumlahnya tujuh insiden, dengan menewaskan dua orang. Pada 1984, terjadi tiga belas aksi teroris. Angkanya menurun setiap tahun sejak 1982, ketika tercatat lima puluh satu insiden teroris.55 Liputan media mengenai laporan FBI ini menarik. Toronto Globe & Mail memuat sebuah berita AP pada 4 Juli, dengan judul: "Para ekstremis Yahudi dituduh atas dua kematian". Alinea pembukanya berbunyi: "Para ekstremis Yahudi melakukan empat dari tujuh aksi teroris yang menewaskan dua orang di Amerika Serikat, menurut laporan Biro Investigasi Federal kemarin". Laporan selanjutnya menguraikan perincian "insiden-insiden yang dikaitkan dengan para ekstremis Yahudi" yang "menewaskan dua orang dan melukai sembilan orang, kata laporan itu (hanya dua orang itulah yang tewas), bersama dengan insiden-insiden lainnya. Sebaliknya, New York Times tak memuat sepotong pun berita mengenai laporan FBI itu. Satu-satunya rujukannya kepada laporan ini hanya terdapat dalam alinea kesebelas dari sebuah kolom pada 17 Juli, yang berbunyi: "Menurut laporan tahunan FBI tentang terorisme, empat dari tujuh kasus terorisme dalam negeri pada 1985 diyakini melibatkan 'kelompok-kelompok teroris Yahudi'. Tidak ada dakwaan yang dihasilkan dari semua investigasi ini". Koran nasional terbesar kedua, Washington Post, memuat sebuah berita mengenai laporan FBI pada 5 juli, berjudul "Terorisme Domestik Menurun Tahun Lalu, Kata Laporan FBI". Disebut bahwa "kedua orang yang tewas dan sembilan yang cedera itu dikatakan merupakan korban-korban dari empat aksi teroris oleh para ekstremis Yahudi" (dari tujuh aksi yang dilaporkan); ini diulangi dalam sebuah berita pada 17 Juli tentang penyelidikan FBI atas pembunuhan Alex Odeh, dan disebut bahwa "kelompok-kelompok ekstremis Yahudi dicurigai sebagai pelakunya".56 Hanya tiga kalimat itulah isi liputan pers nasional atas kesimpulan-kesimpulan dari Laporan FBI mengenai sumber-sumber terorisme domestik pada 1985. Saya tak melihat adanya editorial atau komentar-komentar lain yang mengangkat berita pemboman AS terhadap Tel Aviv atau Jerusalem untuk melenyapkan "kanker" dan "menjinakkan" si "anjing gila" yang telah menyajikan "momok bengis terorisme" ke negeri kita. Orang boleh bertanya, kenapa hal itu tidak pantas. Kenyataannya, Israel membantah bertanggung jawab bagi aksi-aksi para "ekstremis Yahudi" itu dan mengecam aksi-aksi para teroris, demikian pula anggota Knesset Rabbi Kahane yang bekas kelompoknya, Liga Pertahanan Yahudi (JDL), dicurigai FBI sebagai pelaku aksi-aksi tersebut, sebagaimana AS menyangkal bertanggung jawab atas aksi-aksi teroris oleh orang-orang yang telah dilatih dan didukungnya. Namun, seperti sudah saya sebutkan, dalih-dalih ini sama sekali tak berlaku menurut standar-standar yang lazim diterapkan kepada Muammar Qaddafi dan Yasser Arafat, yang juga mengutuk aksi-aksi teroris dan membantah bertanggung jawab bagi aksi-aksi tersebut. Ingatlah lagi doktrin bahwa "tanggung jawab moral yang besar bagi kebiadaban-kebiadaban ... semuanya berada di pundak Passer Arafat", karena "dia sejak dulu sampai sekarang adalah bapak pendiri kekerasan Palestina kontemporer", dan dengan demikian, AS dapat menangkap Arafat lantaran "bertanggung jawab atas aksi-aksi terorisme internasional" secara sangat luas, entah dia terlibat atau tidak 57 Jadi, "tanggung jawab moral yang besar" bagi aksi-aksi yang dilakukan para ekstremis Zionis semuanya terletak pada Israel. Pers selalu menyembunyikan kecaman Arafat atas aksi-aksi teroris Palestina. Untuk menyebut sebuah contoh yang teramat mencolok, pada 3 Juni 1982, kelompok teroris pimpinan Abu Nidal --yang telah divonis mati oleh PLO beberapa tahun sebelumnya-- mencoba membunuh Dubes Israel Shlomo Argov di London. Peristiwa ini kontan membuat Israel menginvasi Lebanon --sebuah "pembalasan" yang dipandang sah oleh pemerintah AS, media, dan kalangan terpelajar umumnya. Washington Post berkomentar bahwa usaha pembunuhan Argov merupakan hal yang "memalukan" bagi PLO, yang "mengklaim mewakili semua orang Palestina, tapi ... cenderung bersikap selektif dalam soal mengakui tanggung jawab atas aksi-aksi kekerasan yang dilakukan orang Palestina" (7 Juni 1982). Kalau aksi teroris oleh sebuah kelompok Palestina yang berseteru dengan PLO merupakan hal yang "memalukan" bagi PLO atas dasar alasan-alasan ini, maka teranglah aksi-aksi teroris oleh para ekstremis Yahudi --yang menewaskan dua dan melukai sembilan orang-- adalah hal yang "memalukan" bagi Israel. Apalagi menurut undang-undang, Israel adalah "Negara Orang Yahudi", termasuk mereka yang bertebaran di mana-mana (bukan negara warga negaranya, yang seperenam di antaranya non Yahudi). Maka, sejalan dengan logika pemerintah AS, para komentator ternama, dan hampir semua media, AS jelas berhak --kalau bukan wajib-- mengebom Tel Aviv "sebagai pembelaan-diri terhadap serangan-serangan di masa depan". Orang boleh curiga bahwa rasa "malu" terhadap akibat logis dari doktrin-doktrin yang mereka canangkan inilah yang menjelaskan mengapa laporan FBI tersebut diperlakukan secara ganjil dalam media AS, walaupun dugaan ini barangkali meremehkan kemampuan mereka dalam bersikap self-contradiction. Orang dapat pula membayangkan bahwa media menganggap sebagian besar aksi-aksi teroris di AS, beserta segala korbannya, dilakukan oleh orang-orang Arab-Amerika yang punya hubungan dengan unsur-unsur ekstremis PLO atau yang dicurigai merupakan bagian dari kelompok teroris yang didirikan oleh seorang pejabat pemerintah Libya. Pemboman AS atas Libya tak ada sangkut-pautnya dengan "terorisme", bahkan dalam pengertian sinis Barat atas kata ini. Sesungguhnya, sudah jelas bahwa operasi Teluk Sidra dan pemboman kota-kota Libya hanya akan memicu terorisme balasan semacam itu. Inilah alasan pokok kenapa sasaran-sasaran Eropa yang mungkin dibidik memohon kepada AS agar tidak melakukan aksi semacam itu. Ini bukanlah aksi kekerasan pertama yang dilakukan dengan harapan memancing terorisme balasan. Invasi Israel atas Lebanon yang didukung AS merupakan kasus serupa, sebagaimana dibahas dalam Bab Kedua. Serangan atas Libya cepat atau lambat dapat pula menyulut aksi-aksi teroris, yang akan dimanfaatkan untuk memobilisasi opini di dalam dan luar negeri guna mendukung rencana-rencana AS di dalam maupun luar negeri. Jika orang Amerika bereaksi dengan cara histeria massa, sebagaimana telah terjadi, termasuk takut berwisata ke Eropa (padahal wisatawan akan seratus kali lebih aman daripada di kota Amerika mana pun), ini juga merupakan laba bersih karena alasan-alasan serupa. Alasan sebenarnya serangan AS atas Libya tak ada hubungannya dengan pembelaan-diri terhadap "serangan teroris" atas pasukan AS di Beirut pada Oktober 1983, sebagaimana dinyatakan Shimon Peres. Tidak Pula dengan aksi yang dikaitkan secara tepat ataupun keliru kepada Libya, atau dengan "pembelaan-diri terhadap serangan di masa depan" sesuai dengan doktrin luar biasa yang dicanangkan oleh pemerintah Reagan dan disambut hangat di dalam negeri. Terorisme Libya itu gangguan sepele saja bagi AS, tapi Qaddafi merintangi rencana-rencana AS di Afrika Utara, Timur Tengah, dan kawasan-kawasan lain. Qaddafi mendukung Polisario dan kelompok-kelompok anti-AS di Sudan, bersekutu dengan Maroko, melakukan intervensi di Chad,58 dan secara umum merongrong usaha-usaha AS dalam membentuk "konsensus strategis" di kawasan itu dan dalam memaksakan kemauannya di tempat-tempat lain. Semua ini merupakan kejahatan, yang harus dihukum. Lebih lanjut, serangan atas Libya bertujuan, dan berdampak, menyiapkan opini di dalam dan luar negeri mengenai aksi-aksi kekerasan AS berikutnya. Tanggapan spontannya boleh jadi negatif, tapi begitu sudah terserap, tingkat harapannya meninggi dan AS dapat melancarkan eskalasi lebih jauh jika kebutuhan muncul. Ada dua kawasan utama yang paling mungkin dijadikan ajang eskalasi itu. Pertama adalah Amerika Tengah. Tentara-centeng AS memang berhasil dalam tugas besarnya, yakni "memaksa (kelompok Sandinista) mencurahkan sumber-sumber daya langkanya pada peperangan dan bukan pada program sosial", sebagaimana dinyatakan terus terang oleh para pejabat pemerintah 59 --suatu keterusterangan yang amat jarang. Namun, ternyata mereka tak mampu "melenyapkan kanker itu" (meminjam retorika gaya Nazi yang dipakai oleh George Shultz dan lain-lain60). Maka, ancaman berupa pembangunan independen yang berhasil, yang mungkin menyejahterakan rakyat yang sengsara di negara-negara klien AS, akan tetap ada. Tekanan internasional dan domestik mencegah AS dari melakukan serangan langsung, seperti ketika AS menyerang Vietnam pada 1962 dan kemudian seluruh Indocina. Cara-cara teror yang kurang langsung, meskipun umumnya berhasil di El Salvador, ternyata tak mempan untuk Nikaragua. Karena itu, wajarlah kalau AS turun ke gelanggang yang lebih mungkin ia menangkan: konfrontasi internasional. AS berhasil menggertak sebagian besar sekutunya supaya tak memberikan bantuan yang berarti kepada Nikaragua. Tercapailah tujuan yang diniatkannya, yaitu memaksa Sandinista untuk bersandar pada blok Soviet agar tetap hidup. Perdebatan di Kongres mengenai bantuan sesungguhnya tak ada artinya. Pihak Pemerintah yang tak mengenal hukum akan menemukan cara-cara untuk membiayai Tentara terorisnya, apa pun yang diputuskan Kongres. Yang penting adalah kemenangan yang lain: otorisasi Kongresional bagi keterlibatan langsung CIA dan eskalasi dengan cara-cara lainnya. Cara yang jelas adalah mengancam pelayaran Soviet dan Kuba. Nikaragua tak akan mampu untuk merespons, tapi Uni Soviet dan Kuba sanggup. Seandainya mereka berusaha melindungi kapal-kapal mereka, sistem propaganda AS pasti akan bereaksi dengan garang terhadap bukti baru agresi komunis ini. Ini memungkinkan Pemerintah menciptakan krisis internasional yang didalamnya, dapat diperkirakan, Uni Soviet akan mundur sehingga Nikaragua akan ditelikung dengah mudah. Jika mereka tak merespons, akan tercapai hasil serupa. Sudah tentu dunia bisa jadi berantakan, tapi itu kurang penting dibandingkan dengan perlunya memotong si kanker. Opini masyarakat Amerika dan Eropa harus dipersiapkan untuk akibat-akibat akhir ini. Pemboman atas Libya mengubah persneling ke tingkat lain. Kawasan kedua tempat opini dunia harus dipersiapkan bagi kemungkinan eskalasi adalah Timur Tengah. AS telah merintangi penyelesaian politik atas konflik Arab-Israel paling sedikit sejak tahun 1971 sampai sekarang, seperti sudah dibahas. Dalam situasi konfrontasi militer yang timbul dari rejeksionisme AS-Israel, Israel tidak akan membiarkan setiap penghimpunan negara-negara Arab yang dapat mengimbangi kekuatan militernya, sebab itu artinya ia menghadapi ancaman kehancuran. Perjanjian Camp David berhasil menyingkirkan negara besar Arab, Mesir, dari konflik. Dengan demikian, Israel dimungkinkan memperluas langkahnya dalam mengintegrasikan daerah-daerah pendudukan dan menyerang tetangga utaranya. Tapi, Syria tetap merupakan ancaman besar dan, cepat atau lambat, Israel harus bertindak untuk melumatkannya. Di Israel perang terus-menerus dibicarakan, yang umumnya dialamatkan kepada ancaman dan kegarangan Syria, tapi menyembunyikan niat Israel untuk bertindak guna menghancurkan saingan militer potensial --dan memang tindakan ini diperlukan, sepanjang pemecahan politik bisa dihindari. Media AS, seperti biasa, menurut saja. Sementara itu, pemerintah AS jelas ingin agar pilihan-pilihannya tetap terbuka. Masuk akal jika serangan Israel terhadap Syria disertai dengan pemboman oleh AS; yang pertama didalihkan dengan "serangan lebih dulu" untuk "membela-diri terhadap serangan di masa depan", yang kedua dikemas untuk konsumsi Barat sebagai "pembelaan-diri" terhadap terorisme dukungan Syria. Partisipasi langsung AS bertujuan memperingatkan Uni Soviet bahwa perang global bakal meledak dari setiap usaha mereka untuk mendukung sekutu Syria mereka. Opini Eropa dan Amerika harus dipersiapkan bagi kemungkinan tindakan semacam ini. Serangan atas Libya, beserta kampanye propaganda selanjutnya, membantu menyiapkan panggung, membuat AS lebih leluasa mempertimbangkan pilihan-pilihan ini seandainya kemudian mereka dirasa perlu. Sekali lagi, kemungkinan meletusnya perang nuklir tidaklah kecil, tetapi AS telah berulang-ulang memperlihatkan bahwa ia siap menghadapi bahaya ini untuk mencapai tujuan-tujuannya di Timur Tengah, sebagaimana di tempat-tempat lain. Kelicikan dan sinisme dari kampanye propaganda tentang "terorisme internasional" telah tersingkap bagi segelintir kecil publik yang dapat dijangkau oleh opini disiden di Amerika Serikat, tapi kampanye itu sendiri terus meraih sukses luar biasa dalam mempengaruhi pendapat masyarakat luas. Dengan kesetiaan media massa untuk mengabdi kepada kepentingan sistem propaganda negara, yang secara sistematis membenamkan setiap komentar yang dapat menelanjangi ihwal sesungguhnya di depan mata mereka ataupun setiap pembicaraan rasional mengenainya, prospek bagi sukses-sukses propaganda ini di masa depan tetap cerah. Dukungan setia kelas-kelas terpelajar bagi terorisme internasional besar-besaran ini memberikan sumbangan bagi brutalitas dan penderitaan besar, dan dalam jangka panjang, membawa serta bahaya-bahaya serius berupa konfrontasi adidaya dan, akhirnya, perang nuklir. Namun, kemungkinan-kemungkinan ini dianggap sepele dibandingkan dengan keperluan untuk menjamin bahwa tidak akan muncul ancaman terhadap "stabilitas" dan "ketertiban" atau tantangan terhadap privilese dan kekuasaan. Dalam hal ini, kiranya tidak ada yang membikin heran pelajar sejarah mana pun yang jujur.